Komunitas Bambu

PKK: Tangan Panjang Orde Baru Mendefinisikan Keperempuanan

Fitriana Hadi Kesalahan berulang-ulang pemerintah dalam sektor pembangunan saya kira adalah menyamaratakan program di desa sesuai dengan kota tanpa memperhatikan kebutuhan desa. Tengoklah program Keluarga Berencana (KB). Di daerah padat penduduk seperti perkotaan, program ini tentu akan sangat bermanfaat untuk menekan jumlah penduduk, yang berdampak pada ketersediaan lahan, pangan, hingga penyerapan tenaga kerja yang maksimal. Tetapi, bagaimana jika program itu diwajibkan di desa, di mana anak justru menjadi tenaga kerja yang penting?  Pepatah “banyak anak banyak rejeki” mungkin memang sangat berlaku di pedesaan karena banyak tanah yang harus digarap jika tidak dirampas pemilik modal, banyak hasil bumi yang harus dipanen, hingga...

Continue Reading →

Derita Revolusi: Garis Van Mook, Derita RI, dan Pilih Kasih Amerika

George McTurnan Kahin Pada  4 Agustus 1947, Belanda tidak menarik pasukannya dari wilayah yang mereka duduki. Peringatan lunak dari Dewan Keamanan PBB tampaknya tidak dihiraukan oleh Belanda. Tepat 10 hari setelah resolusi itu dibuat, pasukan Belanda melanggar garis van Mook yang mereka buat sendiri dan menduduki sisa wilayah Madura yang masih dikuasai Republik. Sekelompok wartawan asing mengunjungi Madura pada 27–28 November 1947 dan menyaksikan perbuatan Belanda. Laporan wartawan UP, Arnold Brackman, pada 27 November 1947 menyebutkan: “Sumenep, Madura, saya sedang bersandar pada pos pertahanan berdinding karung pasir Belanda di tengah kota ini, pada jarak 31 mil [kurang-lebih 50 km] dari...

Continue Reading →

Anak-Anak Pedalaman Borneo Pertengahan Abad Ke-19

Alfred Russel Wallace Akhir November 1855. Menjelang sore, kami sampai di Tabókan, kampung pertama di Dyak Bukit. Di tanah lapang dekat sungai, ada 20 anak laki-laki yang sedang melakukan suatu permainan yang di Inggris biasa disebut prisoner’s base. Anak-anak tersebut mengenakan perhiasan manik-manik dan kawat-kawat kuningan. Mereka juga mengenakan ikat kepala berwarna cerah dan sehelai kain yang diikatkan di pinggang. Sangat menyenangkan melihat anak-anak dengan penampilan menarik seperti itu. Setelah dipanggil Bujon, anak-anak tersebut segera meninggalkan permainan dan membawa barang-barang saya ke rumah utama—sebuah bangunan berbentuk bundar—yang memiliki banyak kegunaan. Selain digunakan sebagai penginapan orang asing, tempat yang kami tempati...

Continue Reading →

Parlindoengan Loebis di Kamp Nazi

Oleh: J Anto Parlindoengan Loebis, aktivis pergerakan tahun 1930-an, Ketua Perhimpunan Indonesia 1937-1940 dan dokter dari Sekolah Tinggi Kedokteran Leiden, menjadi satu-satunya orang Indonesia yang selamat dan menuliskan kisahnya selama 4 tahun dijebloskan di kamp konsentrasi Nazi yang terkenal kejam. Amsterdam, 26 Juni 1941, hari naas yang tidak dapat kulupakan. Ketika itu kira-kira pukul satu siang. Aku sedang makan dengan istriku, Jo. Aku dengan istriku baru menikah tiga bulan. Kami masih dalam suasana bulan madu. Oleh karena perang dan tak bisa pulang ke tanah air, saat itu aku membuka praktek di Amsterdam setelah lulus Sekolah Tinggi Kedokteran di Leiden.....  Tiba-tiba...

Continue Reading →

Julia’s Jihad : How to Write Like Julia

JULIA’S JIHAD Tales of the Politically, Sexually and Religiously Incorrect: Living In the Chaos of the Biggest Muslim

This is the book that I have never finished it yet. Nope, it is not because about the book’s quality, but my reading quality *LOL* I can choose the skimming way, but I think it will be prohibited for this interesting book. But for your pleasure, I’ve read a half of this book, and I hope my review can give a good explanation what you will get from there. OK for the first look at the cover. This is a female Petruk. Petruk is one of the Punakawan, Indonesian character for funny and satire, especially when we want to grumble...

Continue Reading →

Memori Kolektif dan Perubahan Jakarta dalam Kenangan Anak Menteng

Catatan harian atau catatan perjalanan sudah lazim dipakai sebagai salah satu sumber sejarah. Misalnya saja di zaman Hindia Belanda, ada seorang ahli hukum yang suka menulis bernama Willem IJsbrantz Bontekoe, yang hidup semasa dengan Jan Pieterszoon Coen. Bukunya yang berjudul Avonturelycke reyse naar Oost-Indien terbit pada 1646 dan sebelum tahun 1800 sudah dicetak kembali sebanyak 70 eksemplar dan kemudian diterjemahkan dalam bahasa Prancis, Jerman, Inggris, juga Jawa dan Sunda. Bontekoe boleh dibilang selaris Jan Huygen van Linschoten, perintis penulis cerita perjalanan ke Timur. Kisah-kisahnya diterbitkan dalam Intenerario yang pada abad ke-16 sudah dicetak ulang berkali-kali, serta diterjemahkan dalam bahasa Inggris,...

Continue Reading →

Buku di Senjakala – Eko Prasetyo #6 – Sumbangan Islam Pada Ilmu dan Peradaban Modern karya SI Poeradisastra

https://youtu.be/j2UDdjaLVIU #BukudiSenjakala episode 7, 6 Mei 2020 jam 19.00-20.00 WIB membahas buku Sumbangan Islam Pada Ilmu dan Ilmu dan Peradaban Modern karya SI Poeradisastra dengan narasumber Eko Prasetyo, yang merupakan pendiri Imam besar Social Movement Institute. Dalam live IG Komunitas Bambu 6 Mei 2020 ini Eko Prasetyo sangat pantas sebagai tamu yang membahas buku Sumbangan Islam Pada Ilmu dan Ilmu dan Peradaban Modern karya SI Poeradisastra alias Boejoeng Saleh, salah satu tokoh PKI yang dibuang ke Pulau Buru. Sebab ia tengah meneliti dengan serius bagaimana Islam di masa lalu membuat terobosan dan ternyata ua menemukan jawabannya pada pemahaman bahwa Islam dan...

Continue Reading →

Buku di Senjakala #6 – Ahmad Arif – Mustikarasa: Resep Masakan Indonesia Warisan Sukarno

Mustika Rasa

https://www.youtube.com/watch?v=dPDiUxSr-DA&feature=youtu.be #BukudiSenjakala episode 6, 2 Mei 2020 jam 19.00-20.00 WIB membahas buku Mustikarasa: Resep Masakan Indonesia Warisan Sukarno dengan narasumber Ahmad Arif. Ahmad Arif sebagai jurnalis Kompas sekaligus peneliti pangan lokal membahas buku Mustikarasa: Resep Masakan Indonesia Warisan Sukarno dengan melihatnya sebagai kedewasaan berpikir sang proklamator RI itu. Sukarno menyadari bahwa masa depan Indonesia itu kedaulatannya ditentukan sekali oleh keanekaragaman sumber pangan dan tidak terbatas arau mentok di nasi apalagi terigu atau gandum. Terjebak pada ketiga sumber pangan ini sebagaimana terjadinkini maka boleh dikatakan Indonesia belum merdeka atau bohongan merdekanya. Kemerdekaan bangsa bahkan tubuh tuao individu orang Indonesia itu tidak...

Continue Reading →

Mustika Rasa

Mustika Rasa

Buat saya pribadi, Bung Karno adalah satu-satunya presiden yang benar-benar serius menggarap urusan Kedaulatan Pangan, bukan sekadar menggaungkan istilah Ketahanan Pangan ataupun Swasembada Pangan. Proses penyusunan buku ini adalah wujud keseriusan itu, bukan sekadar hasil akhirnya. Presiden pertama ini memahami betul bahwa makanan adalah produk kebudayaan dan turut menjadi alat politik. Buku ini adalah satu-satunya buku resep keluaran pemerintah, dan dibuat dengan melibatkan pemerintah daerah melalui memo resmi dari Menteri Pertanian. Proses pengumpulan datanya sendiri sepertinya turut menjadi bagian dari strategi untuk membuat pejabat-pejabat daerah memperhatikan urusan pangan dengan lebih serius. Buku yang sangat tebal (lebih dari 1.200 halaman) ini...

Continue Reading →