Bincang

Luar-Dalam Sitor Situmorang, Manusia Indonesia

Judul: Menimbang Sitor Situmorang. Penulis: VS Naipaul dkk. Penerbit: Komunitas Bambu. Waktu terbit: Oktober, 2009. Jumlah hal: xiv+283 hal. Harga: Rp 70.000. Dalam kesusastraan, Sitor dikenal sebagai angkatan 45, yang berarti seangkatan dengan nama-nama seperti Chairil Anwar, Idrus, dan Asrul Sani. Di antara nama-nama yang tak tergantikan dalam sejarah sastra Indonesia itu, Sitor menempati kedudukan yang istimewa. Selain menulis puisi, prosa, dan drama, sejak dekade 1950-an Sitor juga terlibat aktif dalam berbagai polemik kebudayaan, khususnya dalam perdebatan arah bentuk kebudayaan Indonesia. Perjalanan Sitor selama tiga tahun di Eropa memberikan pengaruh yang kuat dalam karya-karyanya, tetapi ini tak berarti menghapus pengaruh tanah kelahirannya, Harianboho, Sumatra Utara....

Continue Reading →

Paradoks Estetik Alam dalam Puisi Sebuah Meta-Ecokritik

(Apresiasi Terhadap Puisi-puisi Sitor Situmorang dalam  ‘Angin dan Air Danau Toba’) Embun Kenyowati E. Tulisan ini menjelaskan paradoks estetik alam dalam puisi, sebagai bentuk ecokrtik dan dikaitkan dengan karya Sitor Situmorang, dalam buku kumpulan puisi, “Angin dan Air Danau Toba.” Ecokritik adalah kajian sastra terkait dengan lingkungan hidup yang salah satunya adalah alam.. Namun dengan perkembangan alam yang semakin mengalami kerusakan, habisnya sumber yang tidak dapat diperbaharui, sampah yang dihasilkan manusia, dan berbagai kegiatan manusia yang awalnya dianggap kemajuan peradaban, dan berbagai kerusakan lainnya, tidaklah cukup membahas estetik alam dari satu sisi. Untuk itu tulisan ini berjudul : Paradoks estetik...

Continue Reading →

100 Tahun Penemuan Sriwijaya

JJ Rizal, Sejarawan Namanya berbeda-beda Srivijaya, Srivisaya, Shilifoshi, Foshih, Sanfoqi, Sribhoja, Sribuza, Zabag,  Zabaj, Swarnabhumi, tetapi sami mawon yang dibicarakan: Sriwijaya. Harap diketahui juga itu bukan nama seorang raja, tetapi sebuah kerajaan. Demikianlah George Cœdès (1887-1969) hampir 100 tahun yang lalu mengoreksi kekeliruan JHC Kern, arkeolog Belanda yang pada 1913 salah menafsir prasasti Kota Kapur yang bertitimangsa 28 Februari 686. Kelak para arkeolog mencanangkan hari Cœdès mengoreksi itu sebagai hari kelahiran “Kerajaan Sriwijaya”. Cœdès memproklamasikan kelahiran kerajaan niaga maritim itu melalui eseinya “Le Royaume de Çrivijaya” yang diterbitkan pertama kali pada 1918 dalam Bulletin de l’École française d’Extrême-Orient. Kerajaan itu...

Continue Reading →

Translate »