Artikel

Sebuah Kota Tanpa Pimpinan

Anthony Reid Pada 14 September 1945, beberapa orang dari pasukan Belanda diterjunkan lagi di Medan. Mereka adalah Letnan Westerling yang bersifat keras dan terkenal jahat ditambah tiga sersan. Mereka didatangkan dengan membawa 180 pistol untuk melatih dan memberi perlengkapan pada pasukan polisi itu. Pada awal Oktober 1945, tampaknya Westerling telah dapat memimpin suatu pasukan berkekuatan hampir 200 orang yang lumayan persenjataannya dan cukup terlatih, ditambah beberapa ratus lagi bekas tawanan perang yang siap masuk menjadi anggota jika ada senjata yang tersedia. Pasukan ini mengadakan penjagaan pada instalasi-instalasi penting seperti listrik dan persediaan air, juga mengadakan patroli-patroli rutin di Medan dan...

Continue Reading →

Pelopor-Pelopor Revolusi di Sumatera Timur

Anthony Reid Putusan-putusan yang dramatis telah diambil di Jakarta dalam pekan berikutnya setelah Jepang menyerah. Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan; Sukarno dan Hatta dipilih sebagai presiden dan wakil presiden Republik yang baru; dan Undang-undang Dasar disahkan. Sumatera ditetapkan sebagai suatu provinsi di Republik dengan Medan sebagai ibukotanya dan Mr. T.M. Hasan sebagai gubernur. Sebagai utusan-utusan yang dikirim Jepang ke Jakarta, Mr. T.M. Hasan dan Dr. Amir turut serta dalam semua rapat dan tindakan-tindakan berani itu. Meskipun demikian, bagi Medan sendiri seluruh drama yang menegangkan ini seolah-olah terjadi jauh di bulan sana. Kenyataan yang dilihat hanyalah rezim Jepang segera berakhir dan rezim Inggris-Belanda...

Continue Reading →

Pemimpin Asia Mencari Bantuan Jepang

Pemimpin Asia mengetahui kemenangan Jepang terhadap Rusia pada 1905. Kemenangan bangsa Asia terhadap Eropa mem-beri keharuan dan kepercayaan diri. Sebenarnya saat itu Jepang sudah menjajah Taiwan. Akibat kemenangan atas Rusia, Korea juga ber-gabung dengan Jepang. Jepang berhasil memperoleh persetujuan dari negara-negara Barat terkait penggabungan Korea. Pengakuan itu semacam pertukaran. Jepang mengakui kuasa Prancis di Indocina dan kuasa Amerika di Filipina. Artinya, Jepang sudah memilih berdiri di pihak kolonialisme Barat dan bukan bersahabat dengan bangsa Asia seperti diharapkan oleh kaum nasionalis Asia. Ironisnya di mata bangsa Asia, Jepang masih terlihat seperti sumber harapan untuk bangsa mengharapkan bantuan Jepang untuk berjuang melawan...

Continue Reading →

Pergerakan Nasionalis dan Pencapaian Kemerdekaan

Para pengusaha lokal menjadi dasar bagi pergerakan nasionalis anti- Belanda yang pertama dan utama, Sarekat Islam (SI), yang didirikan pada 1912. Organisasi ini diawali dari perhimpuan para saudagar batik yang dibentuk untuk mencoba menghadapi persaingan dari para pengusaha Cina. Pada 1918, SI mengklaim telah memiliki anggota sebanyak lebih dari 2 juta orang, dengan cabang-cabangnya di seluruh Hindia Belanda. Salahsatunya untuk menanggapi tuntutan pemerintahan-sendiri yang diajukan SI, Belanda membentuk Volksraad (Dewan Rakyat) pada akhir Perang Dunia I. Tetapi, sedikitnya anggota pribumi dalam badan penasihat ini hanya memiliki pengaruh kecil. Organisasi-organisasi lainnya yang mempersoalkan kekuasaan Belanda juga berkembang selama dasawarsa 1910-an. Organisasi...

Continue Reading →

Kaum Komunis, Sosialis, dan Negeri- Negeri Jajahan (Bag. II)

Ruth T. McVey Sejumlah teori tentang fenomena imperialisme dikembangkan oleh kaum Marxis radikal, tapi yang terpenting bagi pembahasan kita ialah yang telah diletakkan oleh Lenin. Kaum revolusioner Rusia menegaskan bahwa kapitalisme—karena wataknya yang anarkis dan penuh persaingan— kelebihan produksi barang-barang dan modal. Negara-negara kapitalis dipaksa mengambil langkah politik imperialis dalam rangka mendapatkan wilayah baru guna menanamkan modal mereka dan memastikan ketersediaan wilayah yang cukup bagi mereka. Dalam hal ini kekuatan kapitalis menempatkan wilayah terbelakang sebagai negeri jajahan. Negara digunakan oleh kepentingan kaum kapitalis untuk memperluas kebijakan ekspansionis mereka, dan proses nasionalisme yang sampai saat itu menjadi kekuatan progresif dijadikan senjata...

Continue Reading →

Kaum Komunis, Sosialis, dan Negeri- Negeri Jajahan (Bag. I)

Ruth T. McVey Salahsatu tugas utama yang dibebankan ke pundak Komintern oleh para pendirinya ialah menciptakan peranan komunisme di panggung drama revolusioner Asia yang dimainkan di antara dua perang dunia. Sebagian urusan bagi revolusi di Timur ini merupakan kelanjutan kedekatan Rusia [Tsar] atas bagian besar negara-negara Asia serta niat kuat Uni Soviet mempengaruhi jalannya kejadian di negara-negara tersebut. Kepentingan Internasional [Komintern] tidak berhenti hanya pada negara-negara tetangga Rusia, namun upaya mereka di Asia merupakan salahsatu bagian daya upaya mereka menempatkan komunisme di wilayah negara-negara terbelakang di seluruh dunia: Negara-negara Timur–bukan hanya dunia Asia yang tertindas. Negara-negara Timur adalah keseluruhan dunia...

Continue Reading →

Hatta dan Koperasi

David Reeve Sebagai ketua perhimpunan pelajar Indonesia di Belanda pada 1926, Mohammad Hatta sangat terlibat dalam perencanaan partai nasionalis baru (PNI) yang dibentuk pada 1927 di Indonesia, lihat Ingleson, op. cit., hlm. 39–52, 64–71, 84–97.   Setelah pembubaran partai tersebut pada 1930, muncullah dua partai penerus, Partindo dan PNI Baru, yang keduanya mengaku mewakili ideologi nasionalis PNI. Mengenai pembahasan persaingan ini, lihat Dahm, op. cit., hlm. 127–145, 158–166; Ingleson, op. cit., Bab 7; Legge, op. cit., Bab 5. Cukup banyak terjadi ketegangan antara keduanya. Sukarno berupaya menyatukan kedua partai itu setelah dia dibebaskan dari penjara, dan ketika kelihatan jelas bahwa...

Continue Reading →

Apakah ibuisme negara masih relevan?

Julia Suryakusuma Dalam konteks otoriter, negara berupaya mengendalikan rakyatnya dan memanfaatkannya untuk mendukung tujuan rezim. Orde Baru Indonesia, sering dilabeli sebagai rezim 'developmentalis otoriter', memprioritaskan pembangunan ekonomi. Karena itu, politik dipandang sebagai risiko bagi stabilitas nasional, yang dilihat oleh rezim sebagai prasyarat untuk pembangunan itu. Setengah dari populasi, perempuan - termasuk perempuan miskin - didepolitisasi dan dimobilisasi untuk mendukung tujuan developmentalis Orde Baru melalui serangkaian pranata negara yang sangat intervensionis. Di bawah Orde Baru Soeharto, negara yang korup dan opresif kemudian mendominasi semua aspek kehidupan - termasuk konstruksi sosial keperempuanan. Pada tahun 1988, saya menulis tesis MSc tentang hal ini,...

Continue Reading →

Ibuisme Negara dan Langgengnya Dosa Orde Baru

Cahyono Di tengah kegaduhan politik cerdas (tak) cermat, dari kampanye jauh dari substansi, sesumbar kebodohan, religius musiman, kesalehan sosial yang salah kaprah, hingga kerinduan pada rezim Bapak Pembangunan (Orde Baru-nya Soeharto yang keji), terbitnya Titi (ek) Soeharto pun turut memeriahkan kegaduhan itu. Belakangan Titi (ek) Soeharto amat getol menjual rekam jejak Soeharto, ayahnya sendiri, Presiden RI ke 2. Ketua Dewan Pertimbangan Partai Berkarya itu berusaha mengembalikan kebijakan Orde Baru, disampaikan melalui akun Twitter-nya, Rabu (14/11/2018): “Sudah cukup. Sudah saatnya Indonesia kembali seperti waktu era kepemimpinan Bapak Soeharto yang cukup sukses dengan swasembada pangan, mendapatkan penghargaan internasional (rezim pelanggaran HAM berat),...

Continue Reading →

Derita Revolusi: Garis Van Mook, Derita RI, dan Pilih Kasih Amerika

George McTurnan Kahin Pada  4 Agustus 1947, Belanda tidak menarik pasukannya dari wilayah yang mereka duduki. Peringatan lunak dari Dewan Keamanan PBB tampaknya tidak dihiraukan oleh Belanda. Tepat 10 hari setelah resolusi itu dibuat, pasukan Belanda melanggar garis van Mook yang mereka buat sendiri dan menduduki sisa wilayah Madura yang masih dikuasai Republik. Sekelompok wartawan asing mengunjungi Madura pada 27–28 November 1947 dan menyaksikan perbuatan Belanda. Laporan wartawan UP, Arnold Brackman, pada 27 November 1947 menyebutkan: “Sumenep, Madura, saya sedang bersandar pada pos pertahanan berdinding karung pasir Belanda di tengah kota ini, pada jarak 31 mil [kurang-lebih 50 km] dari...

Continue Reading →