Blog

Penghasil Barang Perdagangan di Nusantara

Pada uraian-uraian terdahulu telah disinggung beberapa kali mengenai tempat-tempat di Indonesia yang menghasilkan barang ekspor untuk perdagangan internasional maupun lokal. Pada waktu itu, perdagangan internasional terutama berkisar pada perdagangan rempah-rempah. Jalan pelayaran yang “gemuk” dalam jaringan hubungan maritim Nusantara ketika itu jelas memperlihatkan sebuah garis yang menghubungkan daerah-daerah penghasil rempah-lada di Sumatra, Jawa, dan Kalimantan; pala di Maluku Tengah; dan cengkeh di Maluku Utara. Pelabuhan-pelabuhan di pantai utara Jawa mengumpulkan beras dari pedalaman. Oleh karena itu, pelabuhan-pelabuhan ini adalah tempat singgah yang penting, tidak hanya untuk mencukupi bekal pelayaran, tetapi juga untuk dibawa ke daerah rempah yang kekurangan beras. Biasanya...

Continue Reading →

Komunitas Budak di Batavia

Hendrik E. Niemeijer Komunitas budak di Batavia terutama didominasi para budak milik penduduk swasta, utamanya orang-orang Asia. Para budak partikelir ini berjumlah separuh dari jumlah seluruh penduduk kota. Mengingat bahwa jumlah budak lebih banyak dari jumlah kelompok lain, maka kita perlu menelusuri lebih rinci etnisitas mereka, karena lama-kelamaan mereka berkembang menjadi kelompok warga Asia bebas di Batavia yang kemudian dikenal sebagai orang Betawi. Bagaimana caranya menelusuri asal-usul para budak yang menjadi milik majikan Eropa, Cina dan Asia? Apa peran etnisitas dan identitas dalam pembelian dan penjualan budak swasta dan bagaimana aturan yang berlaku sehubungan dengan kepemilikan budak? Jawaban untuk pertanyaan...

Continue Reading →

Wajib Serah Padi di Jawa

Sebelum perang, produksi padi di Jawa pas-pasan untuk kon­sumsi lokal. Namun tentara Jepang mengambil hasil panen padi un­tuk kebutuhan pasukan Jepang, bukan hanya untuk yang tinggal di Jawa, tetapi juga untuk yang tersebar di Indonesia Timur dan pu­lau-pulau di Laut Pasifik Selatan. Gudang padi di Asia Tenggara, seperti Thailand, Birma, dan Vietnam terletak di bagian barat Asia Tenggara. Di antara daerah yang menghasilkan padi cukup banyak di Asia Tenggara, Jawa terletak di paling timur serta diharapkan me­nyumbang peranan besar. Untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan, pemerintahan militer Jepang di Jawa mewajibkan petani menyerahkan sebagian hasil panen padi. Kantor Urusan Pangan di...

Continue Reading →

Sebuah Kota Tanpa Pimpinan

Anthony Reid Pada 14 September 1945, beberapa orang dari pasukan Belanda diterjunkan lagi di Medan. Mereka adalah Letnan Westerling yang bersifat keras dan terkenal jahat ditambah tiga sersan. Mereka didatangkan dengan membawa 180 pistol untuk melatih dan memberi perlengkapan pada pasukan polisi itu. Pada awal Oktober 1945, tampaknya Westerling telah dapat memimpin suatu pasukan berkekuatan hampir 200 orang yang lumayan persenjataannya dan cukup terlatih, ditambah beberapa ratus lagi bekas tawanan perang yang siap masuk menjadi anggota jika ada senjata yang tersedia. Pasukan ini mengadakan penjagaan pada instalasi-instalasi penting seperti listrik dan persediaan air, juga mengadakan patroli-patroli rutin di Medan dan...

Continue Reading →

Pelopor-Pelopor Revolusi di Sumatera Timur

Anthony Reid Putusan-putusan yang dramatis telah diambil di Jakarta dalam pekan berikutnya setelah Jepang menyerah. Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan; Sukarno dan Hatta dipilih sebagai presiden dan wakil presiden Republik yang baru; dan Undang-undang Dasar disahkan. Sumatera ditetapkan sebagai suatu provinsi di Republik dengan Medan sebagai ibukotanya dan Mr. T.M. Hasan sebagai gubernur. Sebagai utusan-utusan yang dikirim Jepang ke Jakarta, Mr. T.M. Hasan dan Dr. Amir turut serta dalam semua rapat dan tindakan-tindakan berani itu. Meskipun demikian, bagi Medan sendiri seluruh drama yang menegangkan ini seolah-olah terjadi jauh di bulan sana. Kenyataan yang dilihat hanyalah rezim Jepang segera berakhir dan rezim Inggris-Belanda...

Continue Reading →

Pemimpin Asia Mencari Bantuan Jepang

Pemimpin Asia mengetahui kemenangan Jepang terhadap Rusia pada 1905. Kemenangan bangsa Asia terhadap Eropa mem-beri keharuan dan kepercayaan diri. Sebenarnya saat itu Jepang sudah menjajah Taiwan. Akibat kemenangan atas Rusia, Korea juga ber-gabung dengan Jepang. Jepang berhasil memperoleh persetujuan dari negara-negara Barat terkait penggabungan Korea. Pengakuan itu semacam pertukaran. Jepang mengakui kuasa Prancis di Indocina dan kuasa Amerika di Filipina. Artinya, Jepang sudah memilih berdiri di pihak kolonialisme Barat dan bukan bersahabat dengan bangsa Asia seperti diharapkan oleh kaum nasionalis Asia. Ironisnya di mata bangsa Asia, Jepang masih terlihat seperti sumber harapan untuk bangsa mengharapkan bantuan Jepang untuk berjuang melawan...

Continue Reading →

Pergerakan Nasionalis dan Pencapaian Kemerdekaan

Para pengusaha lokal menjadi dasar bagi pergerakan nasionalis anti- Belanda yang pertama dan utama, Sarekat Islam (SI), yang didirikan pada 1912. Organisasi ini diawali dari perhimpuan para saudagar batik yang dibentuk untuk mencoba menghadapi persaingan dari para pengusaha Cina. Pada 1918, SI mengklaim telah memiliki anggota sebanyak lebih dari 2 juta orang, dengan cabang-cabangnya di seluruh Hindia Belanda. Salahsatunya untuk menanggapi tuntutan pemerintahan-sendiri yang diajukan SI, Belanda membentuk Volksraad (Dewan Rakyat) pada akhir Perang Dunia I. Tetapi, sedikitnya anggota pribumi dalam badan penasihat ini hanya memiliki pengaruh kecil. Organisasi-organisasi lainnya yang mempersoalkan kekuasaan Belanda juga berkembang selama dasawarsa 1910-an. Organisasi...

Continue Reading →

Kaum Komunis, Sosialis, dan Negeri- Negeri Jajahan (Bag. II)

Ruth T. McVey Sejumlah teori tentang fenomena imperialisme dikembangkan oleh kaum Marxis radikal, tapi yang terpenting bagi pembahasan kita ialah yang telah diletakkan oleh Lenin. Kaum revolusioner Rusia menegaskan bahwa kapitalisme—karena wataknya yang anarkis dan penuh persaingan— kelebihan produksi barang-barang dan modal. Negara-negara kapitalis dipaksa mengambil langkah politik imperialis dalam rangka mendapatkan wilayah baru guna menanamkan modal mereka dan memastikan ketersediaan wilayah yang cukup bagi mereka. Dalam hal ini kekuatan kapitalis menempatkan wilayah terbelakang sebagai negeri jajahan. Negara digunakan oleh kepentingan kaum kapitalis untuk memperluas kebijakan ekspansionis mereka, dan proses nasionalisme yang sampai saat itu menjadi kekuatan progresif dijadikan senjata...

Continue Reading →

Kaum Komunis, Sosialis, dan Negeri- Negeri Jajahan (Bag. I)

Ruth T. McVey Salahsatu tugas utama yang dibebankan ke pundak Komintern oleh para pendirinya ialah menciptakan peranan komunisme di panggung drama revolusioner Asia yang dimainkan di antara dua perang dunia. Sebagian urusan bagi revolusi di Timur ini merupakan kelanjutan kedekatan Rusia [Tsar] atas bagian besar negara-negara Asia serta niat kuat Uni Soviet mempengaruhi jalannya kejadian di negara-negara tersebut. Kepentingan Internasional [Komintern] tidak berhenti hanya pada negara-negara tetangga Rusia, namun upaya mereka di Asia merupakan salahsatu bagian daya upaya mereka menempatkan komunisme di wilayah negara-negara terbelakang di seluruh dunia: Negara-negara Timur–bukan hanya dunia Asia yang tertindas. Negara-negara Timur adalah keseluruhan dunia...

Continue Reading →

Hatta dan Koperasi

David Reeve Sebagai ketua perhimpunan pelajar Indonesia di Belanda pada 1926, Mohammad Hatta sangat terlibat dalam perencanaan partai nasionalis baru (PNI) yang dibentuk pada 1927 di Indonesia, lihat Ingleson, op. cit., hlm. 39–52, 64–71, 84–97.   Setelah pembubaran partai tersebut pada 1930, muncullah dua partai penerus, Partindo dan PNI Baru, yang keduanya mengaku mewakili ideologi nasionalis PNI. Mengenai pembahasan persaingan ini, lihat Dahm, op. cit., hlm. 127–145, 158–166; Ingleson, op. cit., Bab 7; Legge, op. cit., Bab 5. Cukup banyak terjadi ketegangan antara keduanya. Sukarno berupaya menyatukan kedua partai itu setelah dia dibebaskan dari penjara, dan ketika kelihatan jelas bahwa...

Continue Reading →