Pemimpin Asia Mencari Bantuan Jepang

Pemimpin Asia Mencari Bantuan Jepang


Pemimpin Asia mengetahui kemenangan Jepang terhadap Rusia pada 1905. Kemenangan bangsa Asia terhadap Eropa mem-beri keharuan dan kepercayaan diri. Sebenarnya saat itu Jepang sudah menjajah Taiwan. Akibat kemenangan atas Rusia, Korea juga ber-gabung dengan Jepang. Jepang berhasil memperoleh persetujuan dari negara-negara Barat terkait penggabungan Korea. Pengakuan itu semacam pertukaran. Jepang mengakui kuasa Prancis di Indocina dan kuasa Amerika di Filipina. Artinya, Jepang sudah memilih berdiri di pihak kolonialisme Barat dan bukan bersahabat dengan bangsa Asia seperti diharapkan oleh kaum nasionalis Asia. Ironisnya di mata bangsa Asia, Jepang masih terlihat seperti sumber harapan untuk bangsa mengharapkan bantuan Jepang untuk berjuang melawan penjajah-an. Untuk itu mereka mulai datang ke Jepang.

Harapan bangsa Vietnam terhadap Jepang sudah mulai mem-besar sejak awal abad ke-20. Phan Boi Chau keluar dari Vietnam dan datang ke Jepang secara sembunyi-sembunyi pada 1905. Phan Boi Chau mendekati kaum nasionalis Jepang melalui seorang pengungsi politik dari Tiongkok, Liang Ch’i-ch’ao. Phan Boi Chau berharap Jepang memberi senjata dan latihan kepada pemuda Vietnam. Phan Boi Chau memulai Gerakan Donzu (Bermain ke Timur) yang bertujuan mengirim mahasiswa ke Jepang. Dalam proyek itu kurang lebih 2000 pemuda Vietnam datang ke Je-pang. Di antaranya terdapat seorang pangeran dari Dinasti Nguen, Quonde, yang datang pada 1906 dan belajar di Sekolah Sinbu yang disponsori Angkatan Darat Jepang. Ini adalah sekolah persiapan yang didirikan untuk menerima pemuda Tiongkok yang ingin masuk Akademi Militer Jepang.

Dengan cara itu pemimpin Jepang membantu pemuda Vietnam. Namun tiba-tiba pemerintah ber-ubah sikap. Atas permintaan pemerintah Prancis, Jepang mengambil sikap keras terhadap kaum nasionalis Vietnam yang tinggal di Jepang. Mereka diusir oleh pemerintah Jepang. Phan Boi Chau dan Quonde terpaksa meninggalkan Jepang. Namun Quonde datang lagi pada 1915 secara diam-  diam untuk mencari suaka. Quonde kemudian menetap di Tokyo hingga akhirnya pecah perang.

Ketika perang Jepang-Tionghoa pecah pada 1930-an, Quonde diminta tentara Jepang mengumpulkan bangsa Vietnam yang tinggal di Tiongkok dan membentuk sebuah organisasi bernama Asosiasi Bangun Kembali Tanah Air beserta pasukannya di Shanghai pada 1939. Ke-tika tentara Jepang masuk Indocina Utara pada 1940, Quonde berencana mengikuti pasukan itu dan masuk Vietnam. Namun, tentara Jepang menolak rencana itu karena mereka akhirnya masuk Vietnam secara damai berdasarkan per-setujuan Prancis dan takut hubungan dengan Prancis menjadi goyah oleh kedatangan Quonde. Quonde kehilangan kesempatan kembali ke Tanah Air dan terpaksa pulang ke Jepang.

Pengalaman yang mirip dialami oleh seorang pemimpin nasionalis Filipina, Rikarte. Pada akhir abad ke-19 ia melawan penjajahan Spanyol dan berhasil mengusirnya. Namun Rikarte kecewa terhadap Amerika yang men-gantikan Spanyol dan menguasai Filipina. Rikarte terus melawan. Akibatnya ia dibuang ke Pulau Guam dan Hongkong. Pada 1915 ia melarikan diri ke Jepang dari Hongkong dan meminta perlindungan kaum nasionalis Jepang. Rikarte tinggal di Jepang sampai pecah perang dan ikut ketika Jepang menyerbu Filipina.

Seorang pendeta muda agama Buddha dari Birma, U Ottama, datang ke Jepang pada 1907 dengan cita-cita membangkitkan rasa nasionalisme Birma seperti bangsa Jepang. Di Birma sudah dibentuk Young Men Buddhist Association (YMBA) dengan mengikuti contoh Young Men Christian Association (YMCA). U Ottama sudah merintis munculnya kebangkitan nasionalisme dalam organisasi itu. Di Jepang ia mengunjungi Rektor Universitas Budah Otani di Kyoto dan diterima sebagai dosen Bahasa Pali dan Sansekerta. Kemudian ia bergaul dengan kaum Asianis dari Kokuryukai (Black Dragon Association), seperti Toyama Mitsuru dan Uchida Ryohei.

Agak berbeda dengan tokoh-tokoh di atas, kaum nasionalis Indonesia tidak ada yang tinggal di Jepang sejak awal abad ke-20. Me-reka juga tidak ada yang berminat yang mencari suaka atau hubungan dengan kaum nasionalis Jepang. Namun menurut Goto Ken’ichi, rasa kagum terhadap Jepang yang mengalahkan Rusia sudah lama ada. Sesudah 1930-an mulai datang pemuda- pemuda Indonesia yang beraspirasi tinggi. Pada 1930-an Pemerintah Hindia Belanda mulai mencurigai motif politik Jepang karena ekspansi Jepang ke Asia sudah sangat terlihat dengan menguasai Mancuria pada 1932.

Karena itu, Pemerintah Hindia Belanda bersikap waspada terhadap orang Indonesia yang mempunyai hubungan dekat dengan Jepang. Kedatangan orang Indonesia ke Jepang pada zaman itu sangat dicurigai, apalagi kalau maksudnya untuk belajar. Kaum nasionalis Jepang seperti Toyama Mitsuru memberi bantuan kepada pelajar dan mahasiswa yang bersimpati ke Jepang. Jumlah pemuda Indonesia yang datang sebagai pelajar dan mahasiswa pada 1930- an belasan orang, malah di antaranya ada yang baru tamat SD.

Sebagian dari pelajar Indonesia itu sudah menyelesaikan studi di Jepang sebelum pecah perang. Sekembalinya ke Tanah Air mereka terus diawasi oleh pihak Belanda dan menerima perlakuan yang tidak wajar. Ketika pecah perang mereka ditangkap bersama-sama dengan bangsa Jepang dan diinterogasi. Sementara yang masih ada di Jepang saat itu tidak sempat pulang ke Tanah Air. Mereka terpaksa mencari nafkah akibat putusnya kiriman dari orang tua. Sebagian kemudian direkrut oleh Radio Tokyo, siaran internasional untuk propaganda, sebagai penyiar berita untuk Indonesia.

Mahasiswa zaman itu ditampung di asrama Kokusai Gakuyukai, sekolah bahasa Jepang yang didirikan Departemen Luar Negeri Jepang pada 1935. Asrama didirikan untuk membantu mahasiswa asing, kecuali dari Tiongkok, Taiwan, Korea, dan Mancuria yang su-dah mempunyai asosiasi dan asrama sendiri. Tujuan yang dicantum-kan dalam anggaran dasar berbunyi: “untuk mempromosikan per-tukaran kebudayaan melalui mahasiswa asing serta melindungi dan membimbing mahasiswa asing yang ada di Jepang”. Sekolah ini sampai sekarang masih ada.


Dikutip dengan seizin penerbit Komunitas Bambu dari buku Aiko Kurasawaan, Perang Asia Timur Raya: Sejarah Dengan Foto yang Tak Terceritakan, hlm. 28-33. Buku tersedia juga di Tokopedia, BukaLapak, Shopee atau kontak langsung ke WA 081385430505

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>