Komunitas Bambu

Kaum Komunis, Sosialis, dan Negeri- Negeri Jajahan (Bag. II)

Ruth T. McVey Sejumlah teori tentang fenomena imperialisme dikembangkan oleh kaum Marxis radikal, tapi yang terpenting bagi pembahasan kita ialah yang telah diletakkan oleh Lenin. Kaum revolusioner Rusia menegaskan bahwa kapitalisme—karena wataknya yang anarkis dan penuh persaingan— kelebihan produksi barang-barang dan modal. Negara-negara kapitalis dipaksa mengambil langkah politik imperialis dalam rangka mendapatkan wilayah baru guna menanamkan modal mereka dan memastikan ketersediaan wilayah yang cukup bagi mereka. Dalam hal ini kekuatan kapitalis menempatkan wilayah terbelakang sebagai negeri jajahan. Negara digunakan oleh kepentingan kaum kapitalis untuk memperluas kebijakan ekspansionis mereka, dan proses nasionalisme yang sampai saat itu menjadi kekuatan progresif dijadikan senjata...

Continue Reading →

Kaum Komunis, Sosialis, dan Negeri- Negeri Jajahan (Bag. I)

Ruth T. McVey Salahsatu tugas utama yang dibebankan ke pundak Komintern oleh para pendirinya ialah menciptakan peranan komunisme di panggung drama revolusioner Asia yang dimainkan di antara dua perang dunia. Sebagian urusan bagi revolusi di Timur ini merupakan kelanjutan kedekatan Rusia [Tsar] atas bagian besar negara-negara Asia serta niat kuat Uni Soviet mempengaruhi jalannya kejadian di negara-negara tersebut. Kepentingan Internasional [Komintern] tidak berhenti hanya pada negara-negara tetangga Rusia, namun upaya mereka di Asia merupakan salahsatu bagian daya upaya mereka menempatkan komunisme di wilayah negara-negara terbelakang di seluruh dunia: Negara-negara Timur–bukan hanya dunia Asia yang tertindas. Negara-negara Timur adalah keseluruhan dunia...

Continue Reading →

Hatta dan Koperasi

David Reeve Sebagai ketua perhimpunan pelajar Indonesia di Belanda pada 1926, Mohammad Hatta sangat terlibat dalam perencanaan partai nasionalis baru (PNI) yang dibentuk pada 1927 di Indonesia, lihat Ingleson, op. cit., hlm. 39–52, 64–71, 84–97.   Setelah pembubaran partai tersebut pada 1930, muncullah dua partai penerus, Partindo dan PNI Baru, yang keduanya mengaku mewakili ideologi nasionalis PNI. Mengenai pembahasan persaingan ini, lihat Dahm, op. cit., hlm. 127–145, 158–166; Ingleson, op. cit., Bab 7; Legge, op. cit., Bab 5. Cukup banyak terjadi ketegangan antara keduanya. Sukarno berupaya menyatukan kedua partai itu setelah dia dibebaskan dari penjara, dan ketika kelihatan jelas bahwa...

Continue Reading →

#KomeninMasaLalu bareng Julia Suryakusuma: Dharma Wanita dan Ibuisme Negara

https://www.youtube.com/watch?v=95fmOjNEtzA&t=20s Dharma Wanita adalah sebuah organisasi yang beranggotakan istri Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tujuan utama dari pendirian Dharma Wanita adalah meningkatkan kualitas sumber daya anggota keluarga PNS untuk mencapai kesejahteraan nasional. Sebagai organisasi yang diusung untuk tujuan bersama, Dharma Wanita memiliki tugas pokok yaitu "Membina anggota, memperkukuh rasa persatuan dan kesatuan, meningkatkan kemampuan dan pengetahuan, menjalin hubungan kerjasama dengan berbagai pihak, serta meningkatkan kepedulian sosial dan melakukan pembinaan mental dan spiritual anggota agar menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkepribadian serta berbudi pekerti luhur".

Continue Reading →

Salafy Jihadisme di Indonesia, Solahudin

Nabilah Munsyarihah Bagi generasi milenial, fenomena jihad di Indonesia seperti barang baru. Apa yang yang paling diingat dari fenomena jihad di Indonesia? Bom Bali? Bom Natal Gereja di Mojokerto yang menewaskan Banser bernama Riyanto? Atau mungkin Ambon dan Poso? Semua itu adalah peristiwa ketika kelompok jihad sudah mengenal Salafisme. Sejatinya, ajaran jihad yang otentik tokoh Indonesia sudah lebih dulu ada dan beroperasi menentang republik sejak lahirnya Indonesia.  Buku NII sampai JI: Salafy Jihadisme di Indonesia ini menarasikan dengan apik sejarah kelompok-kelompok Jihadi di Indonesia terutama dalam periode 1940-an sampai 2002. Membaca buku ini tidak seperti membaca buku tentang kelompok Islam...

Continue Reading →

Apakah ibuisme negara masih relevan?

Julia Suryakusuma Dalam konteks otoriter, negara berupaya mengendalikan rakyatnya dan memanfaatkannya untuk mendukung tujuan rezim. Orde Baru Indonesia, sering dilabeli sebagai rezim 'developmentalis otoriter', memprioritaskan pembangunan ekonomi. Karena itu, politik dipandang sebagai risiko bagi stabilitas nasional, yang dilihat oleh rezim sebagai prasyarat untuk pembangunan itu. Setengah dari populasi, perempuan - termasuk perempuan miskin - didepolitisasi dan dimobilisasi untuk mendukung tujuan developmentalis Orde Baru melalui serangkaian pranata negara yang sangat intervensionis. Di bawah Orde Baru Soeharto, negara yang korup dan opresif kemudian mendominasi semua aspek kehidupan - termasuk konstruksi sosial keperempuanan. Pada tahun 1988, saya menulis tesis MSc tentang hal ini,...

Continue Reading →

Terawang: Meretas Ikatan Nilai-Nilai Tradisional

Julia Suryakusuma Nama Julia Suryakusuma dikenal banyak istri pejabat pada masa Orde Baru sebagai sosok kontroversial. Sosiolog yang berani dengan terus terang menyebut diri feminis itu adalah satu dari sedikit intelektual yang berani bicara kritis tentang Dharma Wanita dan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), sebelum aktivis dan feminis lain mengangkat isu tersebut sebagai penaklukan perempuan dalam politik Orde Baru yang otoriter dan milteristik. Tidak banyak yang (mau) memahami Julia sebagai perempuan biasa, sebagai istri dan ibu yang menjalankan pekerjaan domestiknya sebaik kegiatan publiknya – karena pemikirannya dinilai berani dan melawan arus. Harus diakui banyak isu perempuan yang saat ini muncul ke...

Continue Reading →

Hiroshima

Dijatuhkannya bom atom di kota Hiroshima adalah salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah yang sampai sekarang, bahkan nanti, tidak akan terlupakan. Peristiwa yang terjadi pada tanggal 6 Agustus 1945 ini mencatatkan rekor baru, yaitu penggunaan bom atom dalam peperangan untuk pertama kalinya di panggung sejarah dunia. Hiroshima menjadi sasaran percobaan pertama proyek yang dinamai Manhattan Project tersebut. Dan dampak yang ditimbulkan proyek yang menelan US$1,89 miliar itu sungguh luar biasa. Setelah pengeboman tersebut Jepang menyerah kepada Sekutu di Perang Dunia II. Dan dampak yang sangat menyentuh sisi kemanusiaan adalah terbunuhnya ratusan ribu orang dan masih banyak korban yang harus menanggung cacat...

Continue Reading →

Hiroshima – Ketika Bom Dijatuhkan

Siti Imroatus Sholihah Cerita ini diawali saat keenam orang selamat memulai aktivitas nya dipagi hari pada 6 Agustus 1945, beberapa saat sebelum bom dijatuhkan. NonaToshioka Sasaki, seorang juru tulis di departemen personalia sebuah perusahaan, pagi itu ia sedang berbicara dengan gadis disebelah nya. Dokter Masazaku Fujii, seorang pemilik rumah sakit swasta, baru saja duduk dengan nyaman diterasnya. Nyonya Hatsuyo Nakamura, seorang penjahit yang sudah menjadi janda dengan 3 orang ank, sedang melihat pemandangan aneh dari jendela rumah nya. Pastur Wilhelm Kleinsorge, seorang pendeta Jerman, sedang membaca masalah Penginjilan. Dokter Terufumi Sasaki, seorang dokter bedah muda, sedang berjalan dikoridor rumah sakit...

Continue Reading →

Ibuisme Negara dan Langgengnya Dosa Orde Baru

Cahyono Di tengah kegaduhan politik cerdas (tak) cermat, dari kampanye jauh dari substansi, sesumbar kebodohan, religius musiman, kesalehan sosial yang salah kaprah, hingga kerinduan pada rezim Bapak Pembangunan (Orde Baru-nya Soeharto yang keji), terbitnya Titi (ek) Soeharto pun turut memeriahkan kegaduhan itu. Belakangan Titi (ek) Soeharto amat getol menjual rekam jejak Soeharto, ayahnya sendiri, Presiden RI ke 2. Ketua Dewan Pertimbangan Partai Berkarya itu berusaha mengembalikan kebijakan Orde Baru, disampaikan melalui akun Twitter-nya, Rabu (14/11/2018): “Sudah cukup. Sudah saatnya Indonesia kembali seperti waktu era kepemimpinan Bapak Soeharto yang cukup sukses dengan swasembada pangan, mendapatkan penghargaan internasional (rezim pelanggaran HAM berat),...

Continue Reading →