Resensi Buku

Mustika Rasa

Buat saya pribadi, Bung Karno adalah satu-satunya presiden yang benar-benar serius menggarap urusan Kedaulatan Pangan, bukan sekadar menggaungkan istilah Ketahanan Pangan ataupun Swasembada Pangan. Proses penyusunan buku ini adalah wujud keseriusan itu, bukan sekadar hasil akhirnya. Presiden pertama ini memahami betul bahwa makanan adalah produk kebudayaan dan turut menjadi alat politik. Buku ini adalah satu-satunya buku resep keluaran pemerintah, dan dibuat dengan melibatkan pemerintah daerah melalui memo resmi dari Menteri Pertanian. Proses pengumpulan datanya sendiri sepertinya turut menjadi bagian dari strategi untuk membuat pejabat-pejabat daerah memperhatikan urusan pangan dengan lebih serius. Buku yang sangat tebal (lebih dari 1.200 halaman) ini...

Continue Reading →

Memperalat Ibu

Ulasan ini diterbitkan majalah POTRET: Media Perempuan Aceh, Edisi 56 Tahun IX Gamang! Itulah situasi yang dihadapi para pegiat hak-hak perempuan di lapangan, ketika menghadapi organisasi perempuan yang tua dan ‘mengakar’, bernama PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga). Di satu sisi, organisasi ini terlanjur dekat dan melekat pada ibu-ibu di akar rumput, di sisi lain, cara kerjanya yang paternalistik dan top-down bertentangan dengan semangat gerakan perempuan yang lahir untuk membebaskan perempuan dari setiap relasi yang hierarkis dan menindas. Kegamangan tersebut, sering dihadapi terutama oleh generasi yang lahir setelah tahun 70-80an, yang karena ‘mengakarnya’ PKK ini, hingga tidak mudah bagi generasi kini untuk...

Continue Reading →

‘State Ibuism’ is not dead, it’s not even past

The name Julia Suryakusuma is a familiar one for readers. Through her columns, she touched upon a wide range of social and political topics and has contributed some of the most succinct and insightful commentaries on contemporary Indonesia available. 

Not all readers will realize that Julia’s unrelenting humanity, incisiveness and humor have a deep and influential history in the social sciences and beyond. 

Permit me a personal example. In January 1997, I was in the midst of pursuing my Ph.D. degree in cultural anthropology at Stanford University. I had been working with gay, lesbian and transvestite Indonesians since 1992 and...

Continue Reading →

Sejarah Perempuan Indonesia

Perempuan Indonesia

Sejarah perjuangan perempuan Indonesia berangkat dari kepedulian mereka terhadap mutu keluarga. Pemikiran bahwa para ibu yang harus menyiapkan anak-anaknya menyongsong masa depan, mengilhami para pemikir perempuan untuk membekali diri dengan pendidikan. Alangkah anehnya jika para ibu diberi tugas mendidik anak-anaknya, sementara mereka sendiri tidak terdidik. Kesadaran akan perannya sebagai ibulah yang mendorong para perempuan Indonesia untuk mengejar pendidikan. Dari isu peran dalam keluarga ini perjuangan emansipasi perempuan Indonesia berkembang ke relasi dalam pernikahan dan kemudian hak-hal politik. Cora Vreede-de Stuers membahas perjalanan perjuangan emansipasi perempuan Indonesia sejak awal abad 20, di era munculnya politik etis Belanda sampai dengan tahun 1950-an....

Continue Reading →

Pesona Diskotek Berjalan

Angkot dan Bus Minangkabau

Angkot dan bus di Indonesia selalu punya cerita tersendiri. Salah satu yang menonjol adalah pesan-pesan yang tertulis di angkot dan bus di Kota Padang, Sumatera Barat. Hal ini dipotret oleh David Reeve dalam bukunya berjudul Angkot & Bus Minangkabau: Budaya Pop & Nilai-nilai Budaya Pop. David terkesima oleh fenomena budaya itu dan menjadikannya sebagai penelitian kualitatifnya. “Sepandai-pandi adiak mamiliah, akhirnyo adiak naik juo ka oto uda.” Pesan berbahasa Minang itu memiliki arti: sepandai-pandai adik memilih, akhirnya adik naik juga ke mobil saya. Pesan itu hanyalah satu dari sekian banyak “dekorasi” bahasa yang menghiasi angkot dan bus di kota Padang, Sumatera Barat. Pesan...

Continue Reading →

Perang Dagang di Sumatera Barat

KOMPAS, Minggu, 27 Juli 2008 | 01:20 WIB Artikel Rosihan Anwar, ”Perang Padri yang Tak Anda Ketahui”, yang dimuat oleh ”Kompas”, 6 Februari 2006, menyoroti sisi gelap Perang Paderi. Tulisan Rosihan itu bersumber pada buku yang disusun oleh sejarawan militer Belanda, G Teitler, berjudul ”Het Einde van de Paderieoorlog: Het beleg en de vermeestering van Bonjol, 1834-1837: Een bronnenpublicatie.” Rosihan, dalam artikelnya itu, bercerita tentang kebiasaan kaum Paderi menculik kaum perempuan dalam serangan, kemudian mengangkut mereka untuk dijual sebagai budak (slaves). Ada satu buku lagi yang mengupas dinamika perubahan yang luar biasa dalam kehidupan ekonomi dan gerakan purifikasi ajaran Islam...

Continue Reading →

Pemberontakan Nuku: Persekutuan Lintas Budaya di Maluku-Papua Sekitar 1780-1810

Tulisan ini saya persembahkan untuk (alm) Pak Muridan S. Widjojo, seorang peneliti LIPI yang mendedikasikan diri demi tercapainya Papua damai melalui Jaringan Damai Papua (baca pendapat anggota JDP tentang buku ini). Saya mengenal Pak Muridan akibat salah satu pekerjaan saya di UKP4 untuk berurusan dengan Indonesia Timur. Pak Muridan yang begitu bersemangat dan tidak henti-hentinya bertahun-tahun lamanya mendalami sejarah politik tentang Papua (dan Maluku). Saya begitu kaget begitu mendengar kabar kepergian Pak Muridan. Semoga karya-karya Bapak, salah satunya disertasi tentang Pangeran Nuku ini menjadi inspirasi bagi peneliti lain demi tercapainya Papua Damai dan satunya Indonesia. Pangeran Nuku, Pangeran Pemberontak dari...

Continue Reading →

Memori Kolektif dan Perubahan Jakarta dalam Kenangan Anak Menteng

Catatan harian atau catatan perjalanan sudah lazim dipakai sebagai salah satu sumber sejarah. Misalnya saja di zaman Hindia Belanda, ada seorang ahli hukum yang suka menulis bernama Willem IJsbrantz Bontekoe, yang hidup semasa dengan Jan Pieterszoon Coen. Bukunya yang berjudul Avonturelycke reyse naar Oost-Indien terbit pada 1646 dan sebelum tahun 1800 sudah dicetak kembali sebanyak 70 eksemplar dan kemudian diterjemahkan dalam bahasa Prancis, Jerman, Inggris, juga Jawa dan Sunda. Bontekoe boleh dibilang selaris Jan Huygen van Linschoten, perintis penulis cerita perjalanan ke Timur. Kisah-kisahnya diterbitkan dalam Intenerario yang pada abad ke-16 sudah dicetak ulang berkali-kali, serta diterjemahkan dalam bahasa Inggris,...

Continue Reading →

Sejarah Kelam Bangsa dalam Pembunuhan Massal 1965-1966

Tulisan ini adalah sebagai resensi dari buku “Musim Menjagal: Sejarah Pembunuhan Massal di Indonesia 1965-1966” yang terbit bulan Oktober 2018 ini. Buku ini mengungkap mengenai sejarah pembunuhan massal pada tahun 1965-1966 menyusul peristiwa G30S PKI. Pada peristiwa ini, diperkiran paling sedikit 500 ribu orang mati menjadi korban pembunuhan massal dan sistematis. Inilah sejarah paling kelam pertama yang muncul setelah kemerdekaan kita. Geoffrey B. Robinson, sang penulis mempunyai tesis bahwa pembunuhan massal mempunyai kesepadanan dengan Genosida. Keduanya menurut Robinson, merupakan tindakan politik secara inheren. Genosida, dilaksanakan oleh aktor atau lembaga yang tidak begitu saja terjadi, atau bukan merupakan produk sampingan alami...

Continue Reading →

Bukan 350 Tahun Dijajah

Sampai generasi 2000-an dalam pelajaran sejarah di sekolah, masih banyak tercatat mengenai total tahun tahun penjajahan yang dilakukan oleh Belanda. 350 tahun, ini angka yang sering disuguhkan oleh buku-buku sejarah. Angka yang fantastis ini tentu membuat banyak orang berpikir, seperti apa bangsa Indonesia dahulu sampai bisa dijajah selama itu. Bahkan sebelum membahas tentang bangsa Indonesia, tentu pemberian nama Indonesia teramat baru, yang diberikan dua orang yang beda zaman hidupnya dan tidak saling mengenal. Nusantara adalah nama yang tepat bagi Indonesia. Tetapi dalam tulisan ini, tidak akan membahas asal muasal dari nama Indonesia dan Nusantara. Buku “Bukan 350 Tahun Dijajah” karya...

Continue Reading →

Translate »