Resensi Buku

Salafy Jihadisme di Indonesia, Solahudin

Nabilah Munsyarihah Bagi generasi milenial, fenomena jihad di Indonesia seperti barang baru. Apa yang yang paling diingat dari fenomena jihad di Indonesia? Bom Bali? Bom Natal Gereja di Mojokerto yang menewaskan Banser bernama Riyanto? Atau mungkin Ambon dan Poso? Semua itu adalah peristiwa ketika kelompok jihad sudah mengenal Salafisme. Sejatinya, ajaran jihad yang otentik tokoh Indonesia sudah lebih dulu ada dan beroperasi menentang republik sejak lahirnya Indonesia.  Buku NII sampai JI: Salafy Jihadisme di Indonesia ini menarasikan dengan apik sejarah kelompok-kelompok Jihadi di Indonesia terutama dalam periode 1940-an sampai 2002. Membaca buku ini tidak seperti membaca buku tentang kelompok Islam...

Continue Reading →

Hiroshima

Dijatuhkannya bom atom di kota Hiroshima adalah salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah yang sampai sekarang, bahkan nanti, tidak akan terlupakan. Peristiwa yang terjadi pada tanggal 6 Agustus 1945 ini mencatatkan rekor baru, yaitu penggunaan bom atom dalam peperangan untuk pertama kalinya di panggung sejarah dunia. Hiroshima menjadi sasaran percobaan pertama proyek yang dinamai Manhattan Project tersebut. Dan dampak yang ditimbulkan proyek yang menelan US$1,89 miliar itu sungguh luar biasa. Setelah pengeboman tersebut Jepang menyerah kepada Sekutu di Perang Dunia II. Dan dampak yang sangat menyentuh sisi kemanusiaan adalah terbunuhnya ratusan ribu orang dan masih banyak korban yang harus menanggung cacat...

Continue Reading →

Hiroshima – Ketika Bom Dijatuhkan

Siti Imroatus Sholihah Cerita ini diawali saat keenam orang selamat memulai aktivitas nya dipagi hari pada 6 Agustus 1945, beberapa saat sebelum bom dijatuhkan. NonaToshioka Sasaki, seorang juru tulis di departemen personalia sebuah perusahaan, pagi itu ia sedang berbicara dengan gadis disebelah nya. Dokter Masazaku Fujii, seorang pemilik rumah sakit swasta, baru saja duduk dengan nyaman diterasnya. Nyonya Hatsuyo Nakamura, seorang penjahit yang sudah menjadi janda dengan 3 orang ank, sedang melihat pemandangan aneh dari jendela rumah nya. Pastur Wilhelm Kleinsorge, seorang pendeta Jerman, sedang membaca masalah Penginjilan. Dokter Terufumi Sasaki, seorang dokter bedah muda, sedang berjalan dikoridor rumah sakit...

Continue Reading →

PKK: Tangan Panjang Orde Baru Mendefinisikan Keperempuanan

Fitriana Hadi Kesalahan berulang-ulang pemerintah dalam sektor pembangunan saya kira adalah menyamaratakan program di desa sesuai dengan kota tanpa memperhatikan kebutuhan desa. Tengoklah program Keluarga Berencana (KB). Di daerah padat penduduk seperti perkotaan, program ini tentu akan sangat bermanfaat untuk menekan jumlah penduduk, yang berdampak pada ketersediaan lahan, pangan, hingga penyerapan tenaga kerja yang maksimal. Tetapi, bagaimana jika program itu diwajibkan di desa, di mana anak justru menjadi tenaga kerja yang penting?  Pepatah “banyak anak banyak rejeki” mungkin memang sangat berlaku di pedesaan karena banyak tanah yang harus digarap jika tidak dirampas pemilik modal, banyak hasil bumi yang harus dipanen, hingga...

Continue Reading →

Parlindoengan Loebis di Kamp Nazi

Oleh: J Anto Parlindoengan Loebis, aktivis pergerakan tahun 1930-an, Ketua Perhimpunan Indonesia 1937-1940 dan dokter dari Sekolah Tinggi Kedokteran Leiden, menjadi satu-satunya orang Indonesia yang selamat dan menuliskan kisahnya selama 4 tahun dijebloskan di kamp konsentrasi Nazi yang terkenal kejam. Amsterdam, 26 Juni 1941, hari naas yang tidak dapat kulupakan. Ketika itu kira-kira pukul satu siang. Aku sedang makan dengan istriku, Jo. Aku dengan istriku baru menikah tiga bulan. Kami masih dalam suasana bulan madu. Oleh karena perang dan tak bisa pulang ke tanah air, saat itu aku membuka praktek di Amsterdam setelah lulus Sekolah Tinggi Kedokteran di Leiden.....  Tiba-tiba...

Continue Reading →

Memori Kolektif dan Perubahan Jakarta dalam Kenangan Anak Menteng

Catatan harian atau catatan perjalanan sudah lazim dipakai sebagai salah satu sumber sejarah. Misalnya saja di zaman Hindia Belanda, ada seorang ahli hukum yang suka menulis bernama Willem IJsbrantz Bontekoe, yang hidup semasa dengan Jan Pieterszoon Coen. Bukunya yang berjudul Avonturelycke reyse naar Oost-Indien terbit pada 1646 dan sebelum tahun 1800 sudah dicetak kembali sebanyak 70 eksemplar dan kemudian diterjemahkan dalam bahasa Prancis, Jerman, Inggris, juga Jawa dan Sunda. Bontekoe boleh dibilang selaris Jan Huygen van Linschoten, perintis penulis cerita perjalanan ke Timur. Kisah-kisahnya diterbitkan dalam Intenerario yang pada abad ke-16 sudah dicetak ulang berkali-kali, serta diterjemahkan dalam bahasa Inggris,...

Continue Reading →

Mustika Rasa

Buat saya pribadi, Bung Karno adalah satu-satunya presiden yang benar-benar serius menggarap urusan Kedaulatan Pangan, bukan sekadar menggaungkan istilah Ketahanan Pangan ataupun Swasembada Pangan. Proses penyusunan buku ini adalah wujud keseriusan itu, bukan sekadar hasil akhirnya. Presiden pertama ini memahami betul bahwa makanan adalah produk kebudayaan dan turut menjadi alat politik. Buku ini adalah satu-satunya buku resep keluaran pemerintah, dan dibuat dengan melibatkan pemerintah daerah melalui memo resmi dari Menteri Pertanian. Proses pengumpulan datanya sendiri sepertinya turut menjadi bagian dari strategi untuk membuat pejabat-pejabat daerah memperhatikan urusan pangan dengan lebih serius. Buku yang sangat tebal (lebih dari 1.200 halaman) ini...

Continue Reading →

Memperalat Ibu

Ulasan ini diterbitkan majalah POTRET: Media Perempuan Aceh, Edisi 56 Tahun IX Gamang! Itulah situasi yang dihadapi para pegiat hak-hak perempuan di lapangan, ketika menghadapi organisasi perempuan yang tua dan ‘mengakar’, bernama PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga). Di satu sisi, organisasi ini terlanjur dekat dan melekat pada ibu-ibu di akar rumput, di sisi lain, cara kerjanya yang paternalistik dan top-down bertentangan dengan semangat gerakan perempuan yang lahir untuk membebaskan perempuan dari setiap relasi yang hierarkis dan menindas. Kegamangan tersebut, sering dihadapi terutama oleh generasi yang lahir setelah tahun 70-80an, yang karena ‘mengakarnya’ PKK ini, hingga tidak mudah bagi generasi kini untuk...

Continue Reading →

‘State Ibuism’ is not dead, it’s not even past

The name Julia Suryakusuma is a familiar one for readers. Through her columns, she touched upon a wide range of social and political topics and has contributed some of the most succinct and insightful commentaries on contemporary Indonesia available. 

Not all readers will realize that Julia’s unrelenting humanity, incisiveness and humor have a deep and influential history in the social sciences and beyond. 

Permit me a personal example. In January 1997, I was in the midst of pursuing my Ph.D. degree in cultural anthropology at Stanford University. I had been working with gay, lesbian and transvestite Indonesians since 1992 and...

Continue Reading →

Sejarah Perempuan Indonesia

Perempuan Indonesia

Sejarah perjuangan perempuan Indonesia berangkat dari kepedulian mereka terhadap mutu keluarga. Pemikiran bahwa para ibu yang harus menyiapkan anak-anaknya menyongsong masa depan, mengilhami para pemikir perempuan untuk membekali diri dengan pendidikan. Alangkah anehnya jika para ibu diberi tugas mendidik anak-anaknya, sementara mereka sendiri tidak terdidik. Kesadaran akan perannya sebagai ibulah yang mendorong para perempuan Indonesia untuk mengejar pendidikan. Dari isu peran dalam keluarga ini perjuangan emansipasi perempuan Indonesia berkembang ke relasi dalam pernikahan dan kemudian hak-hal politik. Cora Vreede-de Stuers membahas perjalanan perjuangan emansipasi perempuan Indonesia sejak awal abad 20, di era munculnya politik etis Belanda sampai dengan tahun 1950-an....

Continue Reading →