Blog

Sejarah Perempuan Indonesia

Perempuan Indonesia

Sejarah perjuangan perempuan Indonesia berangkat dari kepedulian mereka terhadap mutu keluarga. Pemikiran bahwa para ibu yang harus menyiapkan anak-anaknya menyongsong masa depan, mengilhami para pemikir perempuan untuk membekali diri dengan pendidikan. Alangkah anehnya jika para ibu diberi tugas mendidik anak-anaknya, sementara mereka sendiri tidak terdidik. Kesadaran akan perannya sebagai ibulah yang mendorong para perempuan Indonesia untuk mengejar pendidikan. Dari isu peran dalam keluarga ini perjuangan emansipasi perempuan Indonesia berkembang ke relasi dalam pernikahan dan kemudian hak-hal politik. Cora Vreede-de Stuers membahas perjalanan perjuangan emansipasi perempuan Indonesia sejak awal abad 20, di era munculnya politik etis Belanda sampai dengan tahun 1950-an....

Continue Reading →

Buku di Senjakala #2 – Roy Murtadho – Ustadz Seleb, Bisnis Moral dan Fatwa Online karya Greg Fealy, Sally White, dkk

https://www.youtube.com/watch?v=lwbkDV-tBEA&feature=youtu.be #BukudiSenjakala episode 2, 18 April 2020 jam 19.00-20.00 WIB membahas buku Ustad Seleb, Bisnis Moral dan Fatwa Online: Ragam Ekspresi Islam Indonesia Kontemporer karya Greg Fealy, Sally White, dkk dengan narasumber Roy Murtadho yang merupakan Koordinator Nasional dari FNKSDA.

Continue Reading →

Buku di Senjakala #1 – Dandhy Laksono – Orang Laut, Bajak Laut dan Raja Laut karya A.B. Lapian

https://www.youtube.com/watch?v=fR0_oJmA44U&feature=youtu.be #BukudiSenjakala episode 1, 15 April 2020 jam 19.00-20.00 WIB membahas buku Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut dan Orang Laut karya AB Lapian dengan narasumber Dhandy Laksono, yang merupakan pendiri Watchdoc, Jurnalis dan Filmmaker Documenter.

Continue Reading →

Pesona Diskotek Berjalan

Angkot dan Bus Minangkabau

Angkot dan bus di Indonesia selalu punya cerita tersendiri. Salah satu yang menonjol adalah pesan-pesan yang tertulis di angkot dan bus di Kota Padang, Sumatera Barat. Hal ini dipotret oleh David Reeve dalam bukunya berjudul Angkot & Bus Minangkabau: Budaya Pop & Nilai-nilai Budaya Pop. David terkesima oleh fenomena budaya itu dan menjadikannya sebagai penelitian kualitatifnya. “Sepandai-pandi adiak mamiliah, akhirnyo adiak naik juo ka oto uda.” Pesan berbahasa Minang itu memiliki arti: sepandai-pandai adik memilih, akhirnya adik naik juga ke mobil saya. Pesan itu hanyalah satu dari sekian banyak “dekorasi” bahasa yang menghiasi angkot dan bus di kota Padang, Sumatera Barat. Pesan...

Continue Reading →

Perang Dagang di Sumatera Barat

KOMPAS, Minggu, 27 Juli 2008 | 01:20 WIB Artikel Rosihan Anwar, ”Perang Padri yang Tak Anda Ketahui”, yang dimuat oleh ”Kompas”, 6 Februari 2006, menyoroti sisi gelap Perang Paderi. Tulisan Rosihan itu bersumber pada buku yang disusun oleh sejarawan militer Belanda, G Teitler, berjudul ”Het Einde van de Paderieoorlog: Het beleg en de vermeestering van Bonjol, 1834-1837: Een bronnenpublicatie.” Rosihan, dalam artikelnya itu, bercerita tentang kebiasaan kaum Paderi menculik kaum perempuan dalam serangan, kemudian mengangkut mereka untuk dijual sebagai budak (slaves). Ada satu buku lagi yang mengupas dinamika perubahan yang luar biasa dalam kehidupan ekonomi dan gerakan purifikasi ajaran Islam...

Continue Reading →

Pemberontakan Nuku: Persekutuan Lintas Budaya di Maluku-Papua Sekitar 1780-1810

Tulisan ini saya persembahkan untuk (alm) Pak Muridan S. Widjojo, seorang peneliti LIPI yang mendedikasikan diri demi tercapainya Papua damai melalui Jaringan Damai Papua (baca pendapat anggota JDP tentang buku ini). Saya mengenal Pak Muridan akibat salah satu pekerjaan saya di UKP4 untuk berurusan dengan Indonesia Timur. Pak Muridan yang begitu bersemangat dan tidak henti-hentinya bertahun-tahun lamanya mendalami sejarah politik tentang Papua (dan Maluku). Saya begitu kaget begitu mendengar kabar kepergian Pak Muridan. Semoga karya-karya Bapak, salah satunya disertasi tentang Pangeran Nuku ini menjadi inspirasi bagi peneliti lain demi tercapainya Papua Damai dan satunya Indonesia. Pangeran Nuku, Pangeran Pemberontak dari...

Continue Reading →

Sejarah Kelam Bangsa dalam Pembunuhan Massal 1965-1966

Tulisan ini adalah sebagai resensi dari buku “Musim Menjagal: Sejarah Pembunuhan Massal di Indonesia 1965-1966” yang terbit bulan Oktober 2018 ini. Buku ini mengungkap mengenai sejarah pembunuhan massal pada tahun 1965-1966 menyusul peristiwa G30S PKI. Pada peristiwa ini, diperkiran paling sedikit 500 ribu orang mati menjadi korban pembunuhan massal dan sistematis. Inilah sejarah paling kelam pertama yang muncul setelah kemerdekaan kita. Geoffrey B. Robinson, sang penulis mempunyai tesis bahwa pembunuhan massal mempunyai kesepadanan dengan Genosida. Keduanya menurut Robinson, merupakan tindakan politik secara inheren. Genosida, dilaksanakan oleh aktor atau lembaga yang tidak begitu saja terjadi, atau bukan merupakan produk sampingan alami...

Continue Reading →

Bukan 350 Tahun Dijajah

Sampai generasi 2000-an dalam pelajaran sejarah di sekolah, masih banyak tercatat mengenai total tahun tahun penjajahan yang dilakukan oleh Belanda. 350 tahun, ini angka yang sering disuguhkan oleh buku-buku sejarah. Angka yang fantastis ini tentu membuat banyak orang berpikir, seperti apa bangsa Indonesia dahulu sampai bisa dijajah selama itu. Bahkan sebelum membahas tentang bangsa Indonesia, tentu pemberian nama Indonesia teramat baru, yang diberikan dua orang yang beda zaman hidupnya dan tidak saling mengenal. Nusantara adalah nama yang tepat bagi Indonesia. Tetapi dalam tulisan ini, tidak akan membahas asal muasal dari nama Indonesia dan Nusantara. Buku “Bukan 350 Tahun Dijajah” karya...

Continue Reading →

Buku yang Membunuh Kolonialisme?

Buku yang membunuh kolonialisme, begitulah komentar Pramoedya Ananta Toer soal roman Max Havelaar karya Multatuli pada New York Times. Sebuah ungkapan yang kiranya tidak berlebihan mengingat efek politisnya yang mampu mengusik telinga Belanda soal ketertindasan dan ketidakadilan yang dialami oleh rakyat Indonesia (dulu Hindia Belanda). Sebuah roman yang banyak menginspirasi tokoh penggerak bangsa Indonesia akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 seperti Kartini dan Sukarno. Telaah yang menarik dihadirkan oleh Rob Nieuwenhuys dalam bukunya Mitos dari Lebak: Telaah Kritis Peran Revolusioner Multatuli yang seakan menelanjangi Douwes Dekker sebagai Asisten Residen (yang juga pengarang dengan nama samaran Multatuli). Buku Rob pertama kali diterjemahkan oleh Sitor Situmorang...

Continue Reading →

Taman: Ruang Spiritual dan Estetika (Jawa)

Taman-Taman di Jawa/Gardens in Java

Sejak diterbitkan di Prancis pada 1969, kita akhirnya plesir ke Taman-taman di Jawa (2019) garapan sejarahwan Prancis, Denys Lombard, yang diterjemahkan oleh Arif Bagus Prasetyo. Dalam satu buku ini, penerbit Komunitas Bambu sekaligus menempelkan edisi berbahasa Inggris yang diterjemahkan John Miksic dari teks asli berbahasa Prancis. Telah dilegitimasi bahwa setelah 50 tahun, kajian Denys Lombard ini tetap menjadi satu-satunya sekaligus menjadi pedoman bertaman bagi pelancong (domestik dan asing), orang awam, atau ahli kebudayaan Jawa. Jawa secara spasial sepertinya memang tidak memiliki gagasan bertaman. Namun secara batiniah, ada keterikatan kuat antara Jawa dan alam. Taman sebagai ruang buatan memetakan s piritual...

Continue Reading →