Blog

#KomeninMasaLalu bareng Julia Suryakusuma: Dharma Wanita dan Ibuisme Negara

https://www.youtube.com/watch?v=95fmOjNEtzA&t=20s Dharma Wanita adalah sebuah organisasi yang beranggotakan istri Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tujuan utama dari pendirian Dharma Wanita adalah meningkatkan kualitas sumber daya anggota keluarga PNS untuk mencapai kesejahteraan nasional. Sebagai organisasi yang diusung untuk tujuan bersama, Dharma Wanita memiliki tugas pokok yaitu "Membina anggota, memperkukuh rasa persatuan dan kesatuan, meningkatkan kemampuan dan pengetahuan, menjalin hubungan kerjasama dengan berbagai pihak, serta meningkatkan kepedulian sosial dan melakukan pembinaan mental dan spiritual anggota agar menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkepribadian serta berbudi pekerti luhur".

Continue Reading →

Salafy Jihadisme di Indonesia, Solahudin

Nabilah Munsyarihah Bagi generasi milenial, fenomena jihad di Indonesia seperti barang baru. Apa yang yang paling diingat dari fenomena jihad di Indonesia? Bom Bali? Bom Natal Gereja di Mojokerto yang menewaskan Banser bernama Riyanto? Atau mungkin Ambon dan Poso? Semua itu adalah peristiwa ketika kelompok jihad sudah mengenal Salafisme. Sejatinya, ajaran jihad yang otentik tokoh Indonesia sudah lebih dulu ada dan beroperasi menentang republik sejak lahirnya Indonesia.  Buku NII sampai JI: Salafy Jihadisme di Indonesia ini menarasikan dengan apik sejarah kelompok-kelompok Jihadi di Indonesia terutama dalam periode 1940-an sampai 2002. Membaca buku ini tidak seperti membaca buku tentang kelompok Islam...

Continue Reading →

Apakah ibuisme negara masih relevan?

Julia Suryakusuma Dalam konteks otoriter, negara berupaya mengendalikan rakyatnya dan memanfaatkannya untuk mendukung tujuan rezim. Orde Baru Indonesia, sering dilabeli sebagai rezim 'developmentalis otoriter', memprioritaskan pembangunan ekonomi. Karena itu, politik dipandang sebagai risiko bagi stabilitas nasional, yang dilihat oleh rezim sebagai prasyarat untuk pembangunan itu. Setengah dari populasi, perempuan - termasuk perempuan miskin - didepolitisasi dan dimobilisasi untuk mendukung tujuan developmentalis Orde Baru melalui serangkaian pranata negara yang sangat intervensionis. Di bawah Orde Baru Soeharto, negara yang korup dan opresif kemudian mendominasi semua aspek kehidupan - termasuk konstruksi sosial keperempuanan. Pada tahun 1988, saya menulis tesis MSc tentang hal ini,...

Continue Reading →

Hiroshima

Dijatuhkannya bom atom di kota Hiroshima adalah salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah yang sampai sekarang, bahkan nanti, tidak akan terlupakan. Peristiwa yang terjadi pada tanggal 6 Agustus 1945 ini mencatatkan rekor baru, yaitu penggunaan bom atom dalam peperangan untuk pertama kalinya di panggung sejarah dunia. Hiroshima menjadi sasaran percobaan pertama proyek yang dinamai Manhattan Project tersebut. Dan dampak yang ditimbulkan proyek yang menelan US$1,89 miliar itu sungguh luar biasa. Setelah pengeboman tersebut Jepang menyerah kepada Sekutu di Perang Dunia II. Dan dampak yang sangat menyentuh sisi kemanusiaan adalah terbunuhnya ratusan ribu orang dan masih banyak korban yang harus menanggung cacat...

Continue Reading →

Hiroshima – Ketika Bom Dijatuhkan

Siti Imroatus Sholihah Cerita ini diawali saat keenam orang selamat memulai aktivitas nya dipagi hari pada 6 Agustus 1945, beberapa saat sebelum bom dijatuhkan. NonaToshioka Sasaki, seorang juru tulis di departemen personalia sebuah perusahaan, pagi itu ia sedang berbicara dengan gadis disebelah nya. Dokter Masazaku Fujii, seorang pemilik rumah sakit swasta, baru saja duduk dengan nyaman diterasnya. Nyonya Hatsuyo Nakamura, seorang penjahit yang sudah menjadi janda dengan 3 orang ank, sedang melihat pemandangan aneh dari jendela rumah nya. Pastur Wilhelm Kleinsorge, seorang pendeta Jerman, sedang membaca masalah Penginjilan. Dokter Terufumi Sasaki, seorang dokter bedah muda, sedang berjalan dikoridor rumah sakit...

Continue Reading →

Ibuisme Negara dan Langgengnya Dosa Orde Baru

Cahyono Di tengah kegaduhan politik cerdas (tak) cermat, dari kampanye jauh dari substansi, sesumbar kebodohan, religius musiman, kesalehan sosial yang salah kaprah, hingga kerinduan pada rezim Bapak Pembangunan (Orde Baru-nya Soeharto yang keji), terbitnya Titi (ek) Soeharto pun turut memeriahkan kegaduhan itu. Belakangan Titi (ek) Soeharto amat getol menjual rekam jejak Soeharto, ayahnya sendiri, Presiden RI ke 2. Ketua Dewan Pertimbangan Partai Berkarya itu berusaha mengembalikan kebijakan Orde Baru, disampaikan melalui akun Twitter-nya, Rabu (14/11/2018): “Sudah cukup. Sudah saatnya Indonesia kembali seperti waktu era kepemimpinan Bapak Soeharto yang cukup sukses dengan swasembada pangan, mendapatkan penghargaan internasional (rezim pelanggaran HAM berat),...

Continue Reading →

PKK: Tangan Panjang Orde Baru Mendefinisikan Keperempuanan

Fitriana Hadi Kesalahan berulang-ulang pemerintah dalam sektor pembangunan saya kira adalah menyamaratakan program di desa sesuai dengan kota tanpa memperhatikan kebutuhan desa. Tengoklah program Keluarga Berencana (KB). Di daerah padat penduduk seperti perkotaan, program ini tentu akan sangat bermanfaat untuk menekan jumlah penduduk, yang berdampak pada ketersediaan lahan, pangan, hingga penyerapan tenaga kerja yang maksimal. Tetapi, bagaimana jika program itu diwajibkan di desa, di mana anak justru menjadi tenaga kerja yang penting?  Pepatah “banyak anak banyak rejeki” mungkin memang sangat berlaku di pedesaan karena banyak tanah yang harus digarap jika tidak dirampas pemilik modal, banyak hasil bumi yang harus dipanen, hingga...

Continue Reading →

Derita Revolusi: Garis Van Mook, Derita RI, dan Pilih Kasih Amerika

George McTurnan Kahin Pada  4 Agustus 1947, Belanda tidak menarik pasukannya dari wilayah yang mereka duduki. Peringatan lunak dari Dewan Keamanan PBB tampaknya tidak dihiraukan oleh Belanda. Tepat 10 hari setelah resolusi itu dibuat, pasukan Belanda melanggar garis van Mook yang mereka buat sendiri dan menduduki sisa wilayah Madura yang masih dikuasai Republik. Sekelompok wartawan asing mengunjungi Madura pada 27–28 November 1947 dan menyaksikan perbuatan Belanda. Laporan wartawan UP, Arnold Brackman, pada 27 November 1947 menyebutkan: “Sumenep, Madura, saya sedang bersandar pada pos pertahanan berdinding karung pasir Belanda di tengah kota ini, pada jarak 31 mil [kurang-lebih 50 km] dari...

Continue Reading →

Anak-Anak Pedalaman Borneo Pertengahan Abad Ke-19

Alfred Russel Wallace Akhir November 1855. Menjelang sore, kami sampai di Tabókan, kampung pertama di Dyak Bukit. Di tanah lapang dekat sungai, ada 20 anak laki-laki yang sedang melakukan suatu permainan yang di Inggris biasa disebut prisoner’s base. Anak-anak tersebut mengenakan perhiasan manik-manik dan kawat-kawat kuningan. Mereka juga mengenakan ikat kepala berwarna cerah dan sehelai kain yang diikatkan di pinggang. Sangat menyenangkan melihat anak-anak dengan penampilan menarik seperti itu. Setelah dipanggil Bujon, anak-anak tersebut segera meninggalkan permainan dan membawa barang-barang saya ke rumah utama—sebuah bangunan berbentuk bundar—yang memiliki banyak kegunaan. Selain digunakan sebagai penginapan orang asing, tempat yang kami tempati...

Continue Reading →

Parlindoengan Loebis di Kamp Nazi

Oleh: J Anto Parlindoengan Loebis, aktivis pergerakan tahun 1930-an, Ketua Perhimpunan Indonesia 1937-1940 dan dokter dari Sekolah Tinggi Kedokteran Leiden, menjadi satu-satunya orang Indonesia yang selamat dan menuliskan kisahnya selama 4 tahun dijebloskan di kamp konsentrasi Nazi yang terkenal kejam. Amsterdam, 26 Juni 1941, hari naas yang tidak dapat kulupakan. Ketika itu kira-kira pukul satu siang. Aku sedang makan dengan istriku, Jo. Aku dengan istriku baru menikah tiga bulan. Kami masih dalam suasana bulan madu. Oleh karena perang dan tak bisa pulang ke tanah air, saat itu aku membuka praktek di Amsterdam setelah lulus Sekolah Tinggi Kedokteran di Leiden.....  Tiba-tiba...

Continue Reading →