Kobam, Sejarah, dan Kota

Oleh: Marco Kusumawijaya*


Selamat ulang tahun ke-25, Kobam. Selamat kepada JJ Rizal dan rekan-rekannya di Kobam.

Saya diminta sedikit bicara tentang “Sejarah dan Kota”.

Dalam kajian perkotaaan oleh disiplin arsitektur dikenal “analisis diakronis” dan “analisis sinkronis” dalam suatu pendekatan yang disebut “kajian tipo-morfologi”. Yang “diakronis” itu pada dasarnya adalah “kesejarahan”. Tujuannya adalah melihat bagaimana unsur-unsur terbangun kota muncul dan berubah pada zaman-zaman berbeda. Unsur-unsur ini digolongkan menjadi “tipe-tipe”. Maka muncul istilah tipologi, nalar tipe. Sedangkan istilah “morfologi” mengacu kepada perubahan bentuk dalam waktu. Ketika berusaha memahami sebab atau latar belakang dari unsur-unsur itu—kemunculan, bentuk, serta perubahannya—maka kajian arsitektur melirik juga kepada kekuatan-kekuatan di luar dirinya, yaitu: agensi orang tertentu, struktur sosial masyarakat, nilai budaya (termasuk agama), kekuatan politik yang sedang berlaku atau menentukan, keadaan alam, kepentingan ekonomi, dan lain-lain. Analisis sinkronis melihat hubungan antara unsur-unsur sezaman, termasuk kekuatan-kekuatan yang sedang berlaku.

Aldo Rosi menggambarkan kota itu seperi halaman buku yang ditulisi berkai-kali (palimpsest), tiap kali menghapus yang sebelumnya, dan ditulisi dengan tulisan baru. Namun, seringkali jejak dari sebelumnya masih ada, kadang jelas, kadang berupa bayangan. Kadang, pada tulisan lama yang dipertahankan, ditambahkan catatan-catatan di samping atau di bawah baris-barisnya.

Banyak tempat di dunia diduduki bangunan berbeda atau bagian kota berbeda pada zaman yang berbeda. Masjid Tuha Indrapuri di Aceh didirikan di atas fondasi kuil Hindu. Hagia Sofia di Istanbul dibangun sebagai gereja, lalu menjadi masjid, kemudian museum, dan sekarang kembali digunakan sebagai masjid. Kompleks Ratu Boko mungkin dulu adalah suatu istana, lalu asrama, dan dari zaman ke zaman mendapat tambahan bangunan.

Gejala baru akhir-akhir ini: Alun-alun (sebagai suatu “tipe” yang dahulu terikat kepada konteks nilai, tempat, serta tatanan lebih luas dan berlapis-lapis) kini sedang ditulis ulang menjadi taman kota, tempat parkir, pasar, atau apapun yang dapat disematkan padanya, tetapi pada tempat yang sama, dengan bentuk luar yang umumnya tidak berubah.

Istilah lain yang penting dalam pendekatan tipomorfologi yang terkait sejarah adalah “fragmen”. Aldo Rosi menerangkan “fragmen” seperti dalam bidang arkeologi: suatu fragmen adalah sekeping tertinggal (yang ditemukan) dari sesuatu yang lebih besar yang utuh. Fragmen, dalam keadaan tidak utuh itu, menggantungkan makna-nya kepada hubungannya dengan sesuatu yang utuh itu, yang menyebabkannya dapat dikenali sebagai bagian atau representasi dari suatu tipe dari tempat tertentu (yaitu konteks ruang) dan dari zaman tertentu (yaitu konteks waktu). Kota adalah kumpulan fragmen-fragmen itu, yang berasal dari zaman-zaman berbeda, berkumpul, bercampur di dalamnya.

Tetapi “kajian perkotaan” atau urban studies melihat bahwa pendekatan seperti di atas itu masih terbatas dan tidak mencukupi, karena pada akhirnya mengarah hanya kepada pemahaman dan gambaran bentuk fisik.  Meskipun banyak kehidupan sosial berkelindan, dan bahkan bercetakan pas pada tatanan fisik kota, seperti misalnya di Cakranegara, banyak hal tidak selalu demikian.

Cakranegara adalah salah satu contoh unik. Saya uraikan di dalam Bab 12 buku saya yang akan segera terbit (Judul: Kota-kota Indonesia: Pengantar untuk Orang Banyak). Kota ini sekarang adalah sebuah kecamatan, bagian timur dari Kota Mataram di Lombok. Hingga tahun 1950-an, ia masih jelas terpisah dari Ampenan (bagian barat kota Mataram), inti kota Mataram (bagian tengah), serta sekitarnya.

Dunia mengenal Cakranegara sebagai tempat ditemukannya pertama kali suatu salinan kakawin Desawarnana (kemudian disebut Negarakertagama) yang menggambarkan dengan terperinci Majapahit dan ibu kotanya, Trowulan, pada abad ke-14, di masa kekuasaan Hayamwuruk. Sejak penemuan itu, pada tahun 1894, orang berlomba-lomba meneliti Trowulan, dengan suatu ironi: lupa meneliti Cakranegara itu sendiri. Seorang teman mengatakan, ini seperti “menemukan barang bukti, membawanya pergi, lalu lupa mengolah TKP (tempat kejadian perkara)”.

Cakranegara adalah sebuah kota Hindu tipikal yang paling utuh yang ada di Indonesia, melebihi yang ada di Bali, dan tentu saja lebih jelas daripada Trowulan itu sendiri, karena hingga sekarang Cakranegara masih utuh pola dan banyak unsur-unsurnya, termasuk pura utama, dan pura-pura komunitasnya. Ia digagas mungkin sudah sejak pertengahan abad ke-18, dan dibangun selengkapnya di awal hingga pertengahan abad ke-19. Pada Cakranegara ini, pola organiasi sosial bertepatan dengan pola fisik: satu blok mewadahi satuan sosial kolektif terkecil (seperti RT, tapi dengan jumlah keluarga lebih sedikit), dan beberapa blok mewadahi satuan lebih besar yang terdiri dari beberapa dari yang terkecil itu, dan seterusnya. Bab Cakranegara buku saya mungkin yang pertama yang menampilkan peta berwarna terperinci Puri Cakranegara beserta terjemahan keterangannya, setelah puri itu sempat dihancurkan pada tahun 1894 dan dibuatkan serta diterbitkan petanya pada tahun 1895.

Pandangan ke tembok barat Puri Cakranegara setelah penghancuran oleh Belanda pada 16 November 1894. Sumber: Leiden University Libraries – Digital Collections

Namun, banyak kehidupan telah bercabang dan berubah bentuk yang tidak sejalan dengan bentuk kota. Kajian tentang kehidupan di dalam kota sangat berbeda misalnya dari, Abdoumaliq Simone, hingga ke Jérôme Tadie. Kajian tentang kehidupan kaum terpinggirkan, antara lain kaum miskin kota dan pekerja informal, memerlukan pendekatan-pendekatan lain, meskipun pemahaman akan dimensi keruangannya dapat dibantu dengan pendekatan tipomorfologi.

Karena itu, buku saya, tidak melakukan pendekatan tipomorfologi secara ketat. Saya lebih melihat tiap-tiap kota sebagai jendela untuk melihat berbagai dimensi realitas yang tercermin atau terwujud pada, atau melaluinya, selain mencoba memahami kota-kota itu pada dirinya sendiri. Sebab itu, misalnya pada Bab 17. Soesilo dan Kebayoran Baru, saya menguraikan kehidupan Soesilo itu sendiri. Sebab, kehidupannya mencerminkan berbagai hal dalam kehidupan dan perkembangan kekotaan kita, misalnya tentang munculnya dan riwayat kelas menengah perkotaan, tentang pemikiran kekotaan Jawa dan Barat, tentang masalah perumahan sejak akhir abad XIX hingga pertengahan abad XX.

Pada Bab 1. Ternate, selain menggambarkan perkembangan bentuknya, saya mencoba meneropong beberapa hal lain, misalnya kapitalisme rempah dan kemudian tambang (akhir-akhir ini), eksotisme barat atas rempah dan burung (!) dan tentang peran Ali, pembantu Alfred Russel Wallace.  Wallace sendiri menuliskan penemuannya tentang mekanisme seleksi alam di kawasan Maluku ini dan mengirimkannya dari Ternate, sehingga dikenal sebagai “The Letter from Ternate” atau “The Ternate Essay”. “Mekanisme Seleksi Alam” adalah bagian penting dari teori evolusi Darwin. Juga dibahas bahasa Ternate, terutama yang unik terkait dengan istilah-istilah keruangan, dan perkembangan mutakhir kehidupan kaum muda di sana.

Kehidupan masa kini pekerja dan migrasi ke Batam adalah bagian penting juga pada Bab 3. Tanjungpinang dan Batam. Batam sebenarnya merupakan pengalaman sangat penting dalam sejarah perencanaan kota Indonesia. Inilah kota industri pertama yang direncanakan sejak awal, bahkan pengalaman pertama dalam membuat kota baru setelah Kebayoran Baru, sebelum pihak swasta bahkan mulai berpikir tentang kota baru. Bagaimana kita bisa melupakan pengalaman yang sangat penting itu? Untuk gambaran terperincinya, termasuk kinerja ekonominya, serta beberapa gosip tentang para pendirinya, yaitu Suharto dan Habibie, mohon sudi membaca sendiri Bab 3 itu.

Bab 4. Banda Aceh memanfaatkan juga peta-peta tua terperinci yang dibuat ketika serangan Belanda pada tahun 1873. Padanya ada unsur penting sejarah perancangan taman di nusantara, yang sampai saya selesai menulis buku ini, rasanya masih kurang dibahas.

Saya melacak sejarah ruang terbuka publik sampai kepada prasasti Talang Tuwo (bertanda tahun 23 Maret 684) di “Bab 6. Kebun, Alun-alun, Taman dan Lapangan”. Prasasti ini berisi keterangan peresmian sebuah kebun/perlak untuk “siapa saja yang lewat maupun singgah memperoleh makan dan minum secara cuma-cuma”. Karena itu, kita dapat mengatakan bahwa ruang terbuka umum pertama yang diketahui di Indonesia sejauh ini adalah berupa sebuah “kebun”.  Sejak itu sebenarnya nusantara memiliki tradisi rancang taman yang kaya dan sangat luar biasa, yang kelihatannya belum sungguh-sunggh menjadi acuan para perancang masa kini, yang belakangan ini sebenarnya memiliki kesempatan besar merancang taman-taman kota kita.

Aceh sendiri pernah memiliki taman yang dibangun Sultan Iskandar Muda, kemungkinan diselesaikan oleh Iskandar Thani, di abad ke-17, yang masih memiliki tinggalannya, dan dapat direkonstruksi secara cukup nyata melalui pembacaan kitab Bustanul Salatin oleh Arraniri. Bab Aceh juga berisi uraian tentang rekonstruksi pascatsunami 26 Dsember 2004, berdasarkan antara lain pada pengalaman pribadi saya. Tidak lupa juga: sejarah kopi. Tentang yang terakhir ini saya menerapkan pendekatan yang telah saya sebutkan: melalui Aceh, saya menuliskan sejarah kopi dan gejala budaya kafe bukan hanya di Aceh, tetapi juga di daerah-dearah lain, sebagai suatu gejala perkotaan yang umum.  Bagi saya, “budaya kafe” itu beda dengan “budaya warung kopi”. Selain itu Aceh memilki sejarah bentuk Masjid yang unik, yang secara lebih terperinci ada di Bab 8. Masjid.

Sketsa Masjid Bongcala, 1822, oleh O. G. H. Heldring. Suatu arketipe masjid Aceh. Sumber: Leiden University Libraries – Digital Collections

Demikian tadi itu sekilas cuplikan dari bab-bab buku saya, Kota-kota Indonesia: Pengantar untuk Orang Banyak, sebagai ilustrasi tentang sejarah dan kota. Buku itu akan diterbitkan Kobam bekerjasama dengan Rujak Center for Urban Studies. Peluncuran insyaallah akan diadakan pada bulan Agustus 2023.

Akhirnya, sebagai penutup, saya menyimpulkan bahwa setelah membaca sejarah kota lebih banyak, berbagai hal tentang pemahaman kita akan kota-kota Indonesia tampak perlu diubah. Misalnya: tidak benar kota-kota Jawa itu, dengan alun-alunnya, menghadap ke utara/selatan. Masjid juga tidak benar selalu di sebelah barat alun-alun. Juga tidak benar itu karena kemudahan menghadap kiblat. Selain itu, peran air dan gunung jauh lebih penting daripada dugaan selama ini. Paling penting: kota-kota Indonsia sebenarnya memiliki banyak sekali pelajaran dan preseden, yang tampaknya selama ini belum cukup diungkapkan, dan karena itu masih harus dimanfaatkan. Untuk cerita selanjutnya yang lebih terperinci, mohon sudi membaca langsung dan selengkapnya buku saya. Kalau dijelaskan ringkas saya khawatir menimbulkan salah paham, sedangkan uraian di buku terperinci, mengandung data dan nuansa yang menurut hemat saya cukup kaya.

Terima kasih.

Marco Kusumawijaya

Pulau Yaksan, Korea, 20 Mei 2023.

*Marco Kusumawijaya, Aktivis, Urbanis, dan Ketua Badan Pengurus Yayasan RCUS.


Komentar (0)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Bidang yang harus diisi ditandai *