KESEHARIAN ORANG BUANGAN DI KAMP KOLONIAL (Cet-1)
Rp195,000Buku ini sungguh karya yang luar biasa, provokatif, menantang, dan cemerlang.
Rudolf Mrázek berhasil menulis buku yang boleh jadi yang terbaik yang pernah
saya baca di dekade ini.
— Rosalind C. Morris, Guru Besar Antropologi Universitas ColumbiaBuku ini adalah “bentangan paling kental” perihal kehidupan kamp yang
pernah dibukukan sejauh ini, memberikan wawasan berharga untuk menyelami
corak modernitas yang bersemayam dalam setiap sendi kehidupan.
— Iris Rachamimov, Universitas Tel AvivRp260,000Konferensi Asia-Afrika 1955: Asal Usul Intelektual dan Warisannya Bagi Gerakan Global Antiimperialisme
Rp87,000Dalam narasi sejarah yang populer di Indonesia, Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 lebih sering dipandang semata-mata sebagai kisah sukses Indonesia dalam menggelar sebuah konferensi tingkat dunia. Latar belakang yang kompleks dan perdebatan-perdebatan keras yang berlangsung antar pesertanya justru jarang ditampilkan.
KUASA RAHIM: Reposisi Perempuan Asia Tenggara Periode Modern Awal 1400–1800 (Cet-1)
Rp176,000Cerdas, bernuansa, dan mudah dipahami, buku ini memberikan kontribusi besar bagi sejarah Asia Tenggara yang bersifat regional dan global, baik dari sisi kandungan maupun perspektif.
Rp220,000KUTUKAN EMAS PAPUA (Cet-1)
Rp243,000Buku pertama yang membahas sejarah panjang Papua, terutama sejarah nasibnya yang mengerikan dan terus terjadi sampai sekarang, menanggung kutukan kekayaan emas yang dimiliki.
Rp270,000Leila Khaled: Kisah Pejuang Perempuan Palestina
Rp52,000Kisah hidup Leila juga memberi gambaran tentang tegangan antara perjuangan bersenjata dan perjuangan politik, tegangan antara berbagai pandangan politik yang ada di Palestina, serta peran yang dimainkan pejuang-pejuang perempuan dalam sebuah masyarakat yang didomonasi oleh nilai-nilai patriarki.
Lesbian Biseksual Trans: Riwayat Gerakan Politik di Indonesia
Rp360,000Sejarah gerakan LBT di Indonesia dipetakan dari kondisi tak terlihat, menjadi terlihat dan kini kembali bergerak menuju ketersembunyian. Pada awal 1980-an, di masa kediktatoran militer represif yang disebut Orde Baru di Indonesia, organisasi pertama bagi lesbian, biseksual dan trans mulai berdiri. Organisasi-organisasi tersebut berumur pendek, tetapi mempersiapkan landasan bagi gerakan hak-hak LBT yang lebih komprehensif setelah terbukanya ruang demokrasi pada 1998. Dari 2000 hingga 2015, visibilitas gerakan ini semakin berkembang, hingga kemudian muncul serangan balik yang disponsori negara, dipicu oleh kelompok islamis fundamentalis mayoritarian.



















