Blog

Melirik Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa

Dalam pidato menyambut 70 tahun Ong Hok Ham tiga tahun lalu Professor A.B. Lapian mengusulkan untuk menerbitkan kembali kumpulan karangan Pak Ong di majalah Star Weekly. Usulan A.B. Lapian itu sepertinya diwujudkan dalam penerbitan buku Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa ini. Ada 15 artikel yang disuguhkan dalam buku ini dari 40 artikel yang menurut editornya pernah ditulis Ong Hok Ham untuk Star Weekly periode 1958–1960. Periode ketika Ong masih belia, belum genap 25 tahun, saat artikel pertamanya ‘Perkawinan Indonesia-Tionghoa sebelum abad ke-19 di Jawa’ (hal. 1) terbit. Tepatnya 15 Februari 1958. Artikel ini menceritakan kedatangan perempuan Tionghoa totok pertama di...

Continue Reading →

Arsip Rahasia dan Memburuknya Perang Jelang Kelahiran Pancasila

Akhir 1944. Pasukan Sekutu sudah merangsek masuk ke Asia Tenggara. Jepang yang mengaku sebagai saudara tua Asia pun sudah hilang kekuatan untuk menahan laju musuh menduduki negara-negara yang telah mereka kuasai. Di Indonesia, Negeri Matahari Terbit itu berusaha menutupi kabar kekalahannya melalui siaran-siaran propaganda di radio bahwa mereka masih berjaya di bumi Nusantara. Berita dari luar soal kekalahan mereka berusaha ditutupi sekuat mungkin. Namun kelompok nasionalis di Tanah Air telah mencium gelagat kekalahan Jepang. Mereka pun mendesak dan menuntut agar Jepang memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Pada 7 September 1944, Perdana Menteri Jepang Koiso Kuniaki, yang baru satu bulan mengantikan Tojo, mengubah keputusan sebelumnya serta...

Continue Reading →

Pendahulu Sriwijaya

Kebangkitan & Kejayaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya bermula dari permukiman di tanah berawa di pantai timur Palembang. Sumber Tiongkok menyebutnya Ko-ying. PADA 2008, tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) meneliti situs Air Sugihan, di pantai timur Palembang. Mereka menemukan sisa-sisa permukiman di lahan berawa dari awal abad masehi. Permukiman itu diperkirakan cikal bakal atau pendahulu Kerajaan Sriwijaya. Agustijanto Indrajaya, ketua tim peneliti, melihat adanya proses bertahap sebelum muncul Kerajaan Sriwijaya. Permukiman di situs Air Sugihan itu disebut Ko-ying dan Kan-t’o-li dalam sumber Tiongkok. “Kita lihat Sriwijaya saja sudah sangat kompleks (tata masyarakatnya, red.), harusnya ada satu proses menuju ke sana, nah ini di sini,” kata...

Continue Reading →

Sejarah Perempuan Indonesia: Gerakan & Pencapaian

Perempuan Indonesia

When speaking of gender issues and their relation to the position of women in a country like Indonesia, it is usually important to discuss ethnicity and nationalism. Nira Yuval-Davis, the writer of Gender and nation (London: Stage, 1997) also recognized the strong relation between gender, ethnicity, and nationalism and she argues that “One of the most important differences among women is their membership in ethnic and national collectivities […] these can affect […] the status and power of some women versus others” (Nira Yuval-Davis 1997: 11). It seems that Cora Vreede-De Stuers also uses this concept in her book Sejarah...

Continue Reading →

Onghokham: Implementasi Buku, Pesta, dan Cinta

Implementasi Buku Onghokham Sebagai sejarawan, beliau piawai menjadi saksi langsung dan tahu tentang apa yang terjadi terhadap peristiwa yang menjadi perhatiannya. Sebagai cendikiawan, beliau peka terhadap denyut kehidupan sosial, politik, dan budaya masyarakat sekitarnya. Kombinasi keduanya menjadikan karya dan pemikiran Onghokham unik dan inspiratif. Uraiannya mengenai peran dan sosok jago dalam sejarah Indonesia periode kolonial memberikan pemahaman kongkrit tentang bagaimana sifat dan bentuk kekuasaan politik di Indonesia, paling tidak sepanjang periode kekuasaan otoriter Orde Baru. Sejarawan di Indonesia yang pertama kali mempelopori penulisan persoalan sejarah di media adalah  Beliau. Beliau sering menulis pada kolom sejarah di majalah Tempo, Begitu juga dengan...

Continue Reading →

Nyai dan Pergundikan: Realitas Sosial di Era Kolonialisme

Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda

Mendengar istilah “Nyai”, tentu kita akan menghubungkan dengan istilah pasangannya yaitu “Kyai”. Dalam benak kita sudah terasosiasi bahwa istilah “Kyai” dan “Nyai” berkaitan dengan sebutan seorang pemimpin agama khususnya Islam terlebih spesifik sebuah julukan yang berhubungan dengan dunia pesantren. Istilah “Kiai” sendiri memiliki sejarah yang panjang sebelum Islam ada. Dalam sebuah artikel diulas mengenai asal usul kata “Kiai” sbb: “Kata, Kyai atau Kiyai, disinyalir sudah lama digunakan, jauh sebelum Islam masuk ke Indonesia. Sejak kebudayaan china menyebar di Indonesia. Istilah ini dibentuk dari dua kata, yaitu ‘Ki’ dan ‘Yai’. ‘Ki’ adalah sebutan untuk laki-laki yang dituakan, dihormati atau memang sudah tua....

Continue Reading →

Jejak Sajak Sitor Situmorang

Biksu Tak Berjubah

Riadi Ngasiran Sastra-indonesia.com    Bila ada penyair yang menolak sajak-sajaknya dikaitkan dengan biografinya, tak lain adalah Sitor Situmorang. Sajak-sajak yang mengingatkan pada biografi saya, itu termasuk karya yang gagal. Tapi benarkah antara teks yang dihadirkan seorang penyair bisa lepas dari dirinya sama sekali? Padahal, kita tahu, banyak karya penyair Angkatan 45 itu mengekspresikan diri dan pengalamannya. Sulit sekali memisahkan sajak-sajak Sitor dengan penulisnya atau lingkungannya.    Dua buku terbitan Komunitas Bambu (Sitor Situmorang; Kumpulan Sajak 1948-1979 dan Sitor Situmorang; Kumpulan Sajak 1980-2005) memperlihatkan, banyak karya Sitor Situmorang yang menggambarkan keinginannya kembali ke leluhur, tentang keindahan tanah kelahirannya, dan tentang cintanya...

Continue Reading →

Etnografi Musik Populer di Indonesia

Musik Indonesia 1997-2001: Kebisingan dan Keberagaman Aliran lagu

Buku ini merupakan terjemahan dari buku Modern Noise, Fluid Genres: Popular Music in Indonesia 1997-2001 yang diterbitkan tahun 2008 oleh The University of Wisconsin Press. Penulisnya, Jeremy Wallach ialah Profesor di Departemen Budaya Populer Bowling Green State University, Ohio dan Antropolog yang spesialisasinya pada kajian musik populer di Asia Tenggara. Di Indonesia, buku yang diterjemahkan oleh Tim komunitas Bambu diberi judul “Musik Indonesia 1997-2001, Kebisingan dan Keberagaman Aliran Lagu”. Buku hasil penelitian etnografi ini merekam beragam genre musik populer di Indonesia ketika transformasi politik dan budaya terjadi. Penulisnya mengacu pada definisi etnografi dari Shery Ortner yang mengungkapkan bahwa etnografi sebagai...

Continue Reading →

Barus Sebagai Perjumpaan Agama-Agama Nusantara

Gerbang Agama-Agama Nusantara (Hindu, Yahudi, Ru-Konghucu, Islam & Nasrani): Kajian Antropologi Agama Dan Kesehatan Di Barus

Dody Hidayat Kontributor radiobuku.com Buku berjudul Gerbang Agama-Agama Nusantara: Hindu, Yahudi, Ru-Konghucu, Islam & Nasrani ini seyogianya ‘hanya’ penelitian antropologi kesehatan yang dilakukan Rusmin Tumanggor, guru besar antropologi kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, ia menemukan banyak mantra dan jampi-jampi di pustaha yang mengandung bahasa Cina, Yahudi, Sanskerta, sampai Arab. Namun, buku yang diluncurkan di hari pembukaan Borobudur Writers 2017 ini menjadi penting untuk kajian sejarah agama di Nusantara lantaran pada 24 Maret 2017 Presiden Joko Widodo mengukuhkan Barus sebagai tempat masuknya Islam pertama di Nusantara menggantikan Pasai dan Peureulak, Aceh. Nah, di bawah ini merupakan kliping...

Continue Reading →

Menyibak Tirai Sejarah PKI

Kemunculan Komunisme Indonesia

TEPAT di awal Abad 20 (sekitar 1900-an awal), sejarah sosial di Hindia Belanda menggeliat kencang. Kurun waktu itu tanah koloni Belanda di Nusantara ini sibuk menjemput aneka inovasi, baik dalam bidang budaya, pemikiran, perdagangan, dan bahkan perangkat teknis (teknologi). Di ranah budaya, misalnya, kaum priboemi sedang bergairah dengan hidangan hiburan “modern”, seperti seni teater (dikenal dengan teater Stamboel), tayangan “gambar idoep” atau film, dan tumbuhnya elit-elit terdidik di kalangan ningrat dan kelas “atas”.  Sementara di bidang pemikiran, bumi Hindia Belanda ramai dengan ide-ide baru, termasuk gagasan pembaruan ke-Islaman (terutama oleh SI, Muhammadiyah, dan dalam hal tertentu juga NU). Lantas di...

Continue Reading →