Blog

Pemuda daripada Bapakisme

Oleh: JJ Rizal Sejarawan Ada yang bilang pemuda adalah resep paling mujarab buat bangsa yang sedang ketiban krisis. Sudah 11 tahun lebih Indonesia kena krisis. Berbagai eksperimen penyembuhan dicoba. Tapi sampai kini tak bisa dengan mantap dikatakan Indonesia sudah benar-benar keluar dari krisis. Karena itu, jangan kaget kalau belakangan langit Indonesia makin disesaki suara agar pemuda tampil. Saatnya alih generasi. Ada kesadaran perlu segera ada kebangkitan pemuda sebagai kekuatan pencerah di masa gawat. Sejumlah politikus menyikapi ini dengan berlomba memajukan anak mereka. Tak sedikit pula yang memahami muda dalam logika “patung menawan”. Atau regenerasi itu sel baru, daging segar. Karena...

Continue Reading →

Generasi Milenial Wajib Tahu Makna Kakawin Sutasoma

Naskah nusantara adalah dokumen tertulis yang menjadi khazanah karya budaya bangsa Indonesia yang merujuk pada naskah-naskah (manuskrip) peninggalan kebudayaan masyarakat nusantara. Naskah-naskah tersebut biasanya tertulis pada daun lontar/nipah, dan daluang, yang berasal dari milenium pertama hingga akhir abad ke-20. Naskah-naskah kuno sebagai sumber sejarah memiliki peran yang sangat signifikan dalam mendorong pembangunan manusia di Indonesia. Pakar pendidikan Prof Dr Arief Rachaman dan Staf Ahli Kementerian Pendidikan dan Kebudyaan Dr Arie Budhiman menuturkan bahwa generasi milenial harus tahu minimal salah satu naskah kuno, salah satunya Naskah Sutasoma yang mengandung makna semboyan Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Naskah kuno yang mudah dan selalu...

Continue Reading →

Jejak Rekam Kolonialisme di Masyarakat Jawa

Buku karangan John Ingleson: Perkotaan, Masalah Sosial dan Perburuhan di Jawa Masa Kalonial adalah kajian historis kehidupan sosial perkotaan Jawa di bawah kuasa kolonialisme. Lebih spesifiknya, Ingleson menjelaskan relasi antara kolonialisme dengan perburuhan, kecemasan sosial akibat Depresi Ekonomi 1930 dan warisan gerakan sarekat buruh masa kolonial. Di bagian awal, buku ini menjelaskan tekanan kolonialisme terhadap kehidupan buruh di Pabrik Kereta Api dan Pelabuhan-pelabuhan di masyarakat Jawa. Ingleson mengklarifikasi kehidupan buruh dari tahun 1910-1920 yang ditekan untuk bekerja demi membantu perekonomian kaum penjajah. Titik permasalahannya adalah kehidupan buruh yang jauh dari standar kehidupan. Kehidupan buruh di tahun 1910-1920, merupakan kehidupan pahit...

Continue Reading →

Kekasih Muda Sukarno Mengisahkan Pengalamannya

Presiden pertama Republik Indonesia Sukarno memang dikenal sebagai sosok pemimpin paling berpengaruh di dunia pada masanya. Tak hanya itu, ia juga dikenang sebagai “kekasih yang hebat” bagi banyak orang. Semasa hidupnya, Sukarno yang jugadipanggil Bung Karno menikah dengan setidaknya tujuh perempuan. Bahkan, beberapa sumber mengatakan bahwa ia memiliki setidaknya sepuluh istri. Biografi yang baru-baru ini terbit dengan judul Percintaan Bung Karno dengan Anak SMA oleh jurnalis veteran Kadjat Adra’I mengangkat kisah asmara antara Sukarno dan istri ketujuhnya, Yurike Sanger. Istri ketujuhnya ini berusia 47 tahun lebih muda daripada Sukarno. Isinya diambil dari wawancara Kadjat dengan Yurike untuk kisah majalah eksklusif...

Continue Reading →

Pemuda Batak di Kamp NAZI

Nasib orang siapa tahu, itulah inti dari buku autobiografi ini. Apalagi dengan judul utama yang cukup ‘provokatif’: Orang Indonesia di kamp NAZI.  Tentu kita akan tertarik karena siapa yang menyangka bila ternyata ada “orang Indonesia” pernah “terlibat” dalam salah satu catatan sejarah dunia. Lantas, kita bertanya siapakah orang Indonesia yang pernah “mencicipi” kamp NAZI ini? Beruntung si pelaku masih hidup dan sempat menuliskan kenangannya sebelum jatuh sakit (terkena stroke). Sehingga sepenggal kenangan yang mungkin berharga dalam mozaik sejarah ini bisa kita ketahui. Adalah Parlindoengan Loebis seorang pemuda Batak yang menyelesaikan sekolah kedokteran di Leiden, Belanda dan berpraktek di sana. Rasa...

Continue Reading →

Kisah Fasisme Hindia-Belanda

Mendengar kata fasisme, biasanya pikiran kita menerawang ke masa lalu di negeri orang. Sejarah fasisme seolah-olah milik bangsa Jerman, Spanyol, Italia dan Jepang. Padahal, di negeri ini pernah punya partai fasis. Bahkan sekarang karakter fasisme masa lalu masih ada yang mewarisi. Namun melalui buku ini, Wilson, alumni Fakultas Sejarah Universitas Indonesia yang membuka mata kita untuk mengenal masa lalu fasisme di negeri ini. Munculnya politik fasisme di negeri ini dimulai sejak kemenangan Partai Nazi Jerman yang memenangkan Pemilu 1933. Kemenangan ini menurut Wilson menjadi pegangan politik baru bagi kaum Indo di negeri Jajahan Hindia-Belanda. Telah menjadi wacana umum, bahwa sejarah...

Continue Reading →

Solahudin on the roots of terrorism in Indonesia

Stephanie Dunstan Lowyinstitute.org At ANU on Wednesday evening the Lowy Institute launched a new book, The Roots of Terrorism in Indonesia: from Darul Islam to Jema'ah Islamiyah, by a leading authority on Islamic extremism in Indonesia, Solahudin. Published jointly by the Lowy Institute and NewSouth Publishing, the book is an edited English language version of Solahudin's best selling NII Sampai JI: Salafy Jihadisme di Indonesia, translated by the Lowy Institute's Dave McRae. The translation and publication of the book was undertaken with the financial support of the Department of Foreign Affairs and Trade. Based on a remarkable bredth of original...

Continue Reading →

Hiroshima Ketika Bom Dijatuhkan

Hiroshima: Ketika Bom Dijatuhkan

Kalau katanya Sapardi Djoko Damono di buku Bilang Begini Maksudnya Begitu Dan sebenarnya memang tidak ada perbedaan yang hakiki antara fakta dan fiksi—kalau sudah dialihkan menjadi tulisan, fakta akan segera berubah menjadi fiksi. Semua berita di koran itu fiksi adanya: suatu peristiwa yang ditulis menjadi sebuah berita selalu dilihat dari sudut pandang tertentu oleh yang melaporkannya dan ketika menuliskannya ia sedikit banyak menyertakan pandangan atau pikirannya atau perasaannya tentang peristiwa tersebut. Dengan demikian pada hakikatnya berita yang dikatakan fakta itu telah berubah menjadi fiksi. (hal. 6) Di sini konteksnya Pak Sapardi sedang membahas sebuah 'mitos' yang mengatakan bahwa berita itu...

Continue Reading →

Jakarta Tempo Doeloe dalam Kenangan Seorang Pria Tionghoa Passer Baroe

KEADAAN JAKARTA TEMPO DOELOE Sebuah Kenangan 1882–1959

Batavia (Jakarta) merupakan sumber yang tak ada habis-habisnya untuk ditulis dan dikaji. Banyak kisah tercecer di Batavia yang belum diungkapkan. Terutama dalam kurun waktu tertentu. Kisah atau pengalaman yang menarik dan dapat dinikmati oleh khalayak. Banyak sudah orang yang menulis tentang Batavia (Jakarta).  Bisa jadi telah banyak ahli yang mengambil tema kota ‘buatan’ Belanda ini. Sayangnya, kebanyakan penulisnya adalah orang luar negeri. Sehingga memunculkan pertanyaan: mana penulis Indonesianya? Batavia (Jakarta) memang menarik untuk diteliti. Kota di muara sungai Ciliwung yang awalnya adalah benteng VOC ini  memiliki sejarah panjang dan berbagai permasalahan pelik yang masih dirasakan hingga kini. Kalau saja pada...

Continue Reading →

Sukarno Dan Pemikiran Kiri

“Marx dan Engels bukanlah nabi-nabi, yang bisa mengadakan aturan-aturan yang bisa terpakai untuk segala jaman. Teori-teorinya haruslah diubah, kalau jaman itu berubah; teori-teorinya haruslah diikutkan pada perubahannya dunia, kalau tidak mau menjadi bangkrut.”– Sukarno Sejarah mencatat, genealogi pergerakan nasional Indonesia menuju Revolusi Agustus 1945 terbagi ke dalam dua jalan: koperatif dan non koperatif. Sehingga Revolusi Indonesia diperjuangkan atas dasar prinsip-prinsip nasionalisme yang diwarnai sosialisme. Baik pemimpin maupun organisasi-organisasi sosial politik di masa revolusi pada umumnya adalah sayap kiri. Pendapat ini kemudian didukung oleh pernyataan Sukarno yang pernah menyebut dirinya seorang kiri. Bahkan hingga ke anak cucunya. Inilah yang ingin disampaikan...

Continue Reading →