Soedjatmoko hadir di banyak persimpangan penting dalam sejarah Indonesia: masa pergerakan, revolusi, diplomasi, perdebatan ideologi, dan tahun-tahun awal republik. Yang menarik: ia nyaris selalu menolak menempatkan dirinya sebagai pusat cerita. Koko tak menghindar dari tanggung jawab publik, tetapi juga tidak pernah merasa perlu menegaskan perannya. Ia bekerja, berpikir, dan bergerak dengan sepi. Yang penting bukan siapa yang tampil, melainkan apa yang dipertaruhkan.
Ada jarak tertentu yang selalu ia jaga terhadap kekuasaan. Bukan jarak yang lahir dari kekecewaan. Apalagi sinisme. Jarak yang lahir dari keyakinan bahwa berpikir jernih membutuhkan ruang. Kekuasaan, betapapun niat mulianya, cenderung menuntut kesetiaan yang tergesa. Sementara berpikir menuntut waktu, keraguan, dan kesediaan untuk tidak segera tiba pada kesimpulan.









Be the first to review “Seodjatmoko 1959: Revolusi & Aku, Sebuah Memoar yang Tertunda”
You must be logged in to post a review.