Ulasan Semiotik & Dinamika Sosial Budaya

Ulasan Semiotik & Dinamika Sosial Budaya

Gunawan Tjahjono
Sivitas Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia


Bagi manusia, lingkungan adalah rangkaian lambang dan tanda yang lalu ditindaklanjuti. Kita hidup di dunia penuh lambang, baik lambang yang alamiah ataupun rekaan manusia. Makna kehidupan kita juga terikat oleh aturan nilai konvensional. Nilai ini tertaut dalam lambang yang bersirkulasi dan berkembang, serta dimanipulasi dan diproses. Lambang bisa dibilang memilikikehidupannya sendiri karena orang-orang terus mereinterpretasinya. Akan tetapi, terlepas dari apa yang terjadi di dalam dunia lambang, setiap lambang memiliki struktur makna. Strukturnya mungkin berbentuk hubungan linear antara penanda (signifier) dan tertanda (signified) seperti teori De Saussure. Bentuk lain strukturnya bisa jadi merupakan hubungan segitiga antara representasi, objek, dan interpretasi (Peirce). Dengan demikian, bagi seorang ahli semiotika, arti sebuah simbol tidak pernah bisa diselesaikan secara tuntas. Interpretasi-interpretasi, baik dari individu ataupun masyarakat, akan terus-menerus berubah.

Semiotika adalah sebuah disiplin yang kompleks. Akan tetapi, penulisnya berhasil membahasnya dengan jelas dan sederhana. Dengan demikian, buku ini adalah angin segar bagi mereka yang berkutat dalam studi budaya dan sejenisnya, mengingat mereka kerap kali berurusan dengan istilah-istilah (lambang) ambigu. Karya ini menyuguhkan pandangan yang kritis dan seimbang terhadap berita, slogan politik, tontonan, dan dunia maya.

Latar belakang pendidikan Profesor Hoed di Universitas Sorbonne (Paris, Prancis) tercermin dalam tulisan buku ini. Diskursus semiologi di Universitas Sorbonne memang sedang berada pada puncaknya pada saat ia belajar. Tak mengherankan, Profesor Hoed berhasil memahami disiplin yang sukar ini serta menjabarkannya secara jelas dan sederhana melalui kasus-kasus yang akrab dalam kehidupan sehari-hari. Buku ini bisa dibilang merupakan sebuah petunjuk untuk menginterpretasikan pesan media dengan melacak makna-makan lambang yang tersembunyi dalam politik, berita, serta iklan.

Buku ini mengulas tokoh-tokoh pemikir Prancis seperti Ferdinand de Saussure dan Roland Barthes secara cermat dan teliti. Selain itu, sang penulis juga memuat ikhtisar biografi mereka sehingga pembacanya bisa mengetahui bias-bias tokoh ini. Akan tetapi, akan lebih baik lagi jika Profesor Hoed juga memuat latar belakang terperinci dua pemikir lainnya dalam bidang ini, yaitu Charles Sanders Peirce dan Umberto Eco yang dimuat dalam Bab 9 mengenai erotisisme. Peirce dan Eco memang memiliki kontribusi yang penting pada semiotika. Peirce bahkan menulis mengenai semiotika serta hubungannya dengan logika formal pada 1960 ketika de Saussure masih anak-anak.

Edisi kedua ini tersusun atas dua bagian. Bagian pertama terdiri atas lima bab yang mengulas perkembangan teori semiotik. Bagian ini bisa dibaca berurutan ataupun secara acak. Bagian kedua yang terdiri atas empat belas bab membahas mengenai aplikasi semiotika.

Dalam bab pertama, sang penulis mengklarifikasi posisinya melalui karya Marcel Danesi dan Paul Perron serta menerangkan beragam gelombang lain di semiotika, termasuk karya Peirce. Di dalam bab ini,sang penulis juga memperkenalkan konsep-konsep rupmit Derida yang berhubungan dengan semiotika secara jelas.

Bab dua menerangkan konsep struktur, sistem, dan strukturalisme secara jelas sehingga bisa dipahami oleh pemula. Ide-ide pemikir Eropa mendominasi bab ini. Rasanya tak salah jika kita kesulitan mencari struktur dari karya Peirce. Pasalnya, pemikiran-pemikirannya lebih mengarah pada logika dan kategori. Namun kita tetap bisa menemukan struktur dalam konsep semiotika Peirce walau implisit.

Bab tiga terbilang penting bagi mereka yang ingin belajar lebih jauh mengenai strukturalisme dan post-strukturalisme. Bab ini berhasil mengangkat dan meluruskan sanggahan Derida mengenai argumen filsafat yang berdasarkan penggunaan bahasa oral dari pemikir sebelumnya. Penulisnya memperkenalkan perkembangan makna dengan mengangkat pemikiran Barthes mengenai denotasi dan konotasi serta pandangan feminis dari Julia Kristeva. Ia lalu membahas mengenai konsep Derrida dan Barthes di Bab 6 untuk menjelaskan mengenai mitologi yang sering diterapkan tetapi jarang dipertanyakan. Di dalam bab tiga, ia juga memperkenalkan konsep bahasa tak sadar yang diusung oleh Lacan.

Pembahasan di bab empat merambah menuju analisis literatur dan bahasa. Mula-mula metode Peirce dianalisis. Ini diikuti oleh pemikiran Umberto Eco, setelah mendiskusikan hubungan semiotika dan hermeneutika yang berurusan dengan interpretasi tekstual serta lahir jauh lebih dulu daripada semiotika. Sayangnya, penjelasan metode Umberto Eco tidakdibarengi dengan informasi yang cukup. Akan lebih baik lagi bila penulis menjelaskan lebih banyak lagi mengenai Eco.

Uraian dalam bab lima cukup menarik. Di dalam bab ini, semiotika diterapkan untuk menganalisis ruang. Penjelasan yang diberikan tidak sekomprehensif teori-teori pada bab-bab sebelumnya, sehingga bab ini terkesan belum lengkap. Ruang dan tempat didefinisikan sebagai bangunan (alih-alih bangunan mendefinisikan ruang dan tempat). Pendekatannya lebih condong ke arah arsitektur. Karya Umberto Eco yang kurang dibahas di buku ini akan sangat relevan untuk penjelasan bab lima. Eco menulis sebuah akalah penting berjudul “Function and Sign: The semiotic of architecture” (dalam Signs, symbols, and architecture, diedit oleh G. Broadbent, R. Bunt, dan C. Jencks yang dipublikasikan John Wiely & Sons pada 1981). Tulisan ini melihat hubungan arsitektur dengan komunikasi. Eco membedakan makna tingkat denotasi dengan konotasi dalam arsitektur. Dengan demikian pemikirannya lebih condong ke arah Peirce dan Barthes ketimbang de Saussure. Menurut Peirce yang menganggap seluruh hal di dunia sebagai lambang, bahasa tertulis dimasukkan ke dalam objek analisis semiotika. Karya arsitektur bermuatan material dan ditangkap oleh indra visual sebagai sekumpulan lambang yang merupakan objek semiotika. Dalam bab ini, ruang virtual sendiri belum dibahas. Ini mungkin bisa dianalisis lebih lanjut nantinya.

Bagian kedua buku ini menjelaskan cara untuk menerapkan semiotika dalam fenomena sosial dan budaya. Penulisnya mengkaji berbaga lambang pada bab enam, tujuh, delapan, sembila, dua belas, lima belas, dan sembilan belas. Bab enam dan tujuh mengangkat dekonstruksi mitologi. Di dalam bab tujuh, sang penulis menyatakan bahwa mitos globalisasi seperti yang diketahui pada umumnya harus ditanggapi secara kritis. Dua bab ini harus dibaca secara saksama oleh para pembuat kebijakan. Pasalnya, kebijakan mereka mengenai pembangunan karakter bangsa dikritik habis-habisan oleh media.

Bab delapan mengangkat seni busana dan bab sembilan mendiskusikan konsep teks Eco dan Barthes. Dengan merujuk kepada teori Eco, bab dua belas mendemonstrasikan analisis tekstual dan bagaimana makna sebuah lambang bisa terus-menerus berubah. Dalam bagian ini Profesor Hoed menawarkan latar belakang tentang cara menginterpretasi teks. Pada bab lima belas, konsep Barthes, Peirce, dan Eco diterapkan untuk menganalisis iklan. Penjelasannya menyadarkan kita bahwa dalam masyarakat modern dewasa ini yang mulai mengabaikan etika, pesan iklan pun berubah menjadi semacam totem.

Para pembuat kebijakan untuk perkembangan nasional harus membaca bab tiga belas. Transformasi budaya di daerah pedalaman memiliki peran penting dalam perkembangan ekonomi dan sumber daya manusia. Target perkembangan bisa dengan mudah berubah bila pendekatan yang digunakan hanya bersifat eksternal. Sang penulis mengangkat pentingnya peran camat (kepala subdistrik) dalam perkembangan daerah-daerah pedalaman. Selain itu, bagian ini juga menekankan pentingnya pendekatan internal [emic] seperti yang dibahas dalam kalangan akademis. Pembuat kebijakan sering menjadikan sasaran kebijakan mereka seakan-akan mereka hanyalah kajian akademis. Mereka jarang menganggap sasaran kebijakan ini sebagai subjek yang harusnya ditelaah sebagai bagian dari masyarakat. Pertanyaan yang diusung di sini berhubungan dengan pergeseran budaya dan urban yang begitu pesat sampai-sampai mengikis cara hidup pedesaan. Selain itu, seberapa lama manajemen berdasarkan regional dan teritori dapat bertahan? Mungkin ini waktunya bagi kita untuk membuat strategi baru. Strategi saat ini semakin lama semakin tidak efektif untuk beradaptasi depgan perubahan sosial dan budaya saat ini.

Permasalahan identitas nasional yang diusung di bab enam belas cukup relevan dengan bidang kesehatandan arsitektur. Profesional dari generasi muda mulai mempertanyakan identitas nasional dari pekerjaan. Diskursus ini mungkin akan terus berlangsung. Pasalnya, ini mencerminkan lambang-lambang yang terus berkembang serta budaya yang terus berinteraksi dengan diskursus ini untuk membentuk makna baru.

Masalah kompetensi profesional dan sertifikasi pada bab tujuh belas cukup relevan dalam bidang kesehatan. Negara-negara yang telah memberlakukan standar sebelumnya terus menguasai bidang ini. Alhasil, negara-negara berkembang pun ditekan atas nama “nilai universal”. Di sini Profesor Hoed mengulas esensi nilai universal serta penggunaannya yang salah sasaran.

Penting juga untuk membahas mengenai etika yang mulai terpinggirkan di Indonesia. Bab empat belas dan bab lima belas mengandung pesan penting untuk seluruh pembuat kebijakan nasional: etika harus dikedepankan dalam pengambilan keputusan sebelum memperhitungkan untung-rugi. Esensi kehidupan manusia sengaja ditinggikan agar terwujud rasa adil. Tujuannya adalah untuk menuntut orang utnuk mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk, sehingga orang tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Kebijakan ekonomi akan mencapai sasarannya apabila landasan etika sudah ada dan menuai hasil positif, serta masyarakat memberi dukungan penuh.

Bab delapan belas mendiskusikan gejolak politik dewasa ini. Buku ini menggunakan konsep mentalitas yang sukar diubah dari Fernand Braudel dan konsep strukturisme dari Anthony Gidden. Kita bisa melihat bahwa demokrasi Indonesia akan membutuhkan waktu yang lama karena mentalitas negara masih belum berubah.

Bagian terakhir dan penutup bab ini cukup menyentuh. Tulisannya tidak hanya berguna dalam cakupan hubungan internasional, tetapi juga hubungan interetnis dan interregional. Penulisnya menunjukkan efektivitas semiotika dalam menganalisis peran soft power dalam hubungan internasional. Hubungan-hubungan ini dikaji melalu sudut pandang sintagmatik dan paradigmatik. Hasilnya menawarkan solusi bagi negara-negara yang ditekan melalui pemberdayaan soft power dari budaya.

Buku ini menawarkan analisis yang cakupannya cukup luas. Tulisannya juga menarik, terutama karena analisisnya yang kuat mengenai dinamika sosial dan budaya.

Sumber: Wacana Vol 13 No. 2 (Oktober 2011).

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>