‘Tjamboek Berdoeri’, Sosok Jurnalis Asal Malang yang Misterius

‘Tjamboek Berdoeri’, Sosok Jurnalis Asal Malang yang Misterius

Faishal Hilmy Maulida

Kontributor Malangtimes.com


Tjamboek Berdoeri, barangkali aneh mendengar nama itu, sekilas terasa seram mendengar sebutan yang tak lazim di dengar tersebut, semakin aneh ketika mengetahui sebutan tersebut adalah nama seorang jurnalis yang pernah berdomisili di Mergosono, Kota Malang.

Tentu saja bukan nama asli, melainkan nama samaran seorang Tionghoa bernama lengkap Kwee Thiam Tjing. Pria ini menuliskan sebuah karya jurnalistik tentang keadaan Kota Malang khususnya ketika era perang fisik dari zaman penjajahan Belanda hingga pendudukan Jepang.

Adalah Benedict R’OG Anderson atau akrab disapa Ben Anderson,-Indonesianis asal Universitas Cornell, Amerika Serikat-, pada tahun 1963 di sebuah kios barang loak Jalan Surabaya, Jakarta, menemukan sebuah buku yang  menarik perhatiannya. Buku itu berjudul “Indonesia Dalem Api dan Bara” terbitan Malang tahun 1947.

Nama pengarangnya “Tjamboek Berdoeri” dengan kata pengantar yang ditulis oleh seseorang bernama Kwee Thiam Tjing. Dalam kata pengantar itu,  Kwee Thiam Tjing mengaku disuruh oleh si pengarang untuk menerbitkan buku ini supaya menjadi peringatan bagi generasi mendatang. Sementara perihal si pengarang, tak ada keterangan penjelas.

Yang menarik baginya, selain ditulis dengan bahasa Melayu Tionghoa, buku ini mengurai sejarah dinamika sosial politik masyarakat Malang, Jawa Timur pada masa revolusi dengan perspektif yang sangat berbeda. Dalam buku ini, banyak sekali kritik sosial yang disampaikan secara nakal namun mengena.

Ben penasaran, ia berusaha mencari tahu siapa sesungguhnya “Tjamboek Berdoeri”. Tapi usahanya kala itu bisa dibilang sia-sia karena tak ada satu pun titik terang tentang sosok “Tjamboek Berdoeri”. Selama puluhan tahun Ben mengidap rasa penasaran, bahkan sampai ia dilarang masuk ke Indonesia selama lebih 20 tahun oleh pemerintahan Soeharto akibat tulisannya tentang G30S, rasa penasaran itu tak pernah surut.

Puluhan tahun kemudian setelah ia diperbolehkan masuk kembali ke Indonesia, Ben ingin segera menuntaskan rasa penasarannya. Bersama sejumlah peneliti ia membentuk sebuah tim kecil yang tugasnya mengungkap jati diri si “Tjamboek Berdoeri”.

Usaha pencarian ini mendapat titik terang, setelah pada tahun 2001 tim peneliti berhasil mewawancarai seorang sahabat  Kwee Thiam Tjing di Malang. Menurut keterangannya, Kwee Thiam Tjing yang menulis kata pengantar buku “Indonesia Dalem Api dan Bara” itu, adalah si “Tjambeok Berdoeri” itu sendiri.

Penelitian tak berhenti, mereka terus berupaya mencari di mana keberadaan Kwee Thiam Tjing yang tidak lain adalah “Tjambeok Berdoeri”. Namun sayang berdasarkan informasi dari seseorang yang mengenal keluarga Kwee Thiam Tjing, yang bersangkutan sudah meninggal dunia tahun 1974.

James T. Siegel, seorang pensiunan guru besar Antropologi dan Southeast Asian Studies di Universitas Cornell, Amerika Serikat dalam pengantar buku Menjadi Tjambuk Berdoeri yang menjadi ‘lanjutan’ buku Indonesia Dalem Api dan Bara (IDAB) mengungkapkan karya Kwee Thiam Tjing dalam IDAB tersebut bukan sebuah kisah berbagai kebijakan pemerintah RI atau risalah kejadian tingkat nasional yang umum ditulis, namun lebih tepatnya dikatakan sebagai reportase ulung tentang kehidupan di Malang menurut pengamatan Kwee Thiam Tjing.

“Dia mengisahkan pengalamannya, tetapi fokus perhatiannnya bukanlah dirinya sendiri, melainkan dunia lokal sekitarnya. Gambarannya tenang, terlibat tetapi juga berjarak, dia sangat sadar akan hirarki masyarakat di sekelilingnya, tetapi tidak mempunyai kepentingan pribadi di dalamnya,” ungkap James dalam pengantarnya tentang karya Kwee Thiam Tjing.

Kwee Thiam Tjing atau “Tjamboek Berdoeri” sendiri melalui berbagai sumber yang coba digali MALANGTIMES merupakan sosok yang lahir di Pasuruan, Jawa Timur  pada tanggal 9 Februari 1900. Ia menempuh pendidikannya di ELS (Europeesch Lagere School) Malang dan memilih menjadi seorang jurnalis. Daya pikirnya yang kritis membawanya menjadi seorang jurnalis dengan gaya tulisan yang nakal namun bernas. 

Ia menguasai bahasa Belanda, Jawa, Madura, dan Hokkian. Bahan-bahan tulisannya mencakup segala lapisan masyarakat: kawan-lawan, lelaki-perempuan, tua-muda dan lain-lain.

Tahun 1926 ia dikenai sembilan delik pers, sehingga terpaksa mendekam selama sepuluh bulan di penjara Kalisosok, Surabaya dan penjara Cipinang, Jakarta. Kejadian ini dicatat dalam artikel “Tanggal Paling Tjilaka” di Soeara Publiek, Surabaya 5 Januari 1926.

Banyak hal yang ditulisnya, dari mulai hal kecil misalnya soal kebiasaaan-kebiasaan warga keturunan Tionghoa, hingga kritik-kritik yang nakal namun bernas. Ia tak segan-segan mengkritik sebagian kaumnya sendiri, keturunan Tionghoa,  yang dianggapnya oportunis.

Atau kecaman kerasnya kepada pemerintah Hindia Belanda hingga membuatnya dijebloskan ke Penjara Kali Sosok Surabaya dan Cipinang, Jakarta, pada tahun 1926.

Kwee Thiam Tjing pernah memiliki surat kabar sendiri bernama “Pembrita Djember” (1933). Pada koran yang terbit 2 halaman setiap sepuluh hari sekali itu itu, Kwee Thiam Tjing bekerja sendirian sebagai wartawan sekaligus pemimpin redaksi dengan dibantu seorang kawannya yang bertugas sebagai administrasi. 

Koran “Pembrita Djember” dicetak oleh percetakan Handelsdrukkerij “The Eureka”, Embong Tengah Jember, yang merupakan percetakan milik Kwee Thiam Tjing pribadi.

Selain “Pembrita Djember”, sebelumnya Kwee Thiam Tjing pernah tercatat sebagai wartawan koran “Lay Po” (1920), “Pewarta Soerabaia” (1921), dan “Sin Jit Po” (1929).

Pada dekade 40-an semasa revolusi kemerdekaan, gerakan pemuda-pemuda revolusioner belum terkoordinasi dengan baik sehingga terjadi kekacauan di berbagai daerah, termasuk di kota Malang. Selama kurun waktu tersebut ia melaporkan kejadian-kejadian itu dengan cermat dan runtut, termasuk peristiwa Mergoseno yang mengakibatkan puluhan warga keturunan Tionghoa tewas.

Laporan itu ia tulis dalam sebuah buku setebal 200 halaman menggunakan kertas merang, berjudul “Indonesia Dalem Api dan Bara”. Buku itu dimaksudkan sebagai kenangan bagi anak cucunya, agar kejadian serupa tidak terulang.

Buku ini kemudian diterbitkan kembali tahun 2004 dengan kata pengantar dari Ben Anderson, orang yang amat sangat penasaran dengan Kwee Thiam Tjing. Tak heran, Ben sampai menulis 78 halaman hanya untuk kata pengantarnya saja.

Setelah terbitnya buku kenangan itu, Kwee Thiam Tjing pindah ke Malaysia dan menghilang dari aktifitas jurnalistik. Tak diketahui pasti alasan Kwee Thiam Tjing pindah ke Malaysia dan menyendiri di sana bersama keluarganya.

Tahun 1971 atau sekira 24 tahun kemudian, ia kembali muncul dengan tulisan bersambung berupa obituari atau memoar di harian “Indonesia Raya” yang dikelola Mochtar Lubis. Lama tak  muncul, tak membuat tulisan Kwee Thiam Tjing kehilangan greget. 

Sedikitnya ia menulis sebanyak 34 judul dalam 91 edisi penerbitan selama kurun  waktu 1971-1973. Tulisan-tulisan Kwee Thiam Tjing di harian “Indonesia Raya” kemudian diterbitkan dalam sebuah buku berjudul “Menjadi Tjambeok Berdoeri: Memoar Kwee Thiam Tjing” tahun 2010.

Kwee Thiam Tjing meninggal dunia pada akhir Mei 1974, ia dimakamkan di pemakaman Tanah Abang I (sekarang Taman Prasasti) di Jakarta. Pemakaman ini pernah digusur, akibatnya makam Kwee digali kembali dan tulang-belulangnya dikremasi dan abunya ditabur ke Laut Jawa.

Sumber: https://www.malangtimes.com/amp/baca/6106/6/20151110/120630/

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>