‘Sitor Situmorang: Biografi Singkat 1924-2014’ Ungkap Sisi Lain si Raja Usu

‘Sitor Situmorang: Biografi Singkat 1924-2014’ Ungkap Sisi Lain si Raja Usu

Sitor bukanlah nama aslinya. Ia bernama Raja Usu. Sitor mengisahkan bahwa nama
Sitor itu muncul dari kekesalan Nena, kakak perempuan pengasuhnya, karena merasa
selalu disusahkan oleh kesenangannya lari menjelajah memutari desa.

Di hadapan teman-temannya, Nena jengkel dan bilang adiknya itu ‘nar pitor-pitor’ saja.
Sejak itulah nama Raja Usu tidak pernah dipakai lagi. Kawan-kawannya pun lebih
menyukai memanggilnya ‘Si Pitor’. Guru di sekolah dasarnya pun membakukan nama
tersebut di rapor dan memanggilnya ‘Sitor’.

Kisah nama Sitor tersebut diceritakan dalam biografi singkat yang ditulis oleh JJ Rizal.
Buku yang berjudul 'Sitor Situmorang: Biografi Singkat 1924-2014' setebal 103 halaman
itu dirilis Rabu (31/12/2014) di Galeri Nasional, Jakarta Pusat.

Bertepatan dengan hari terakhir jenazah Sitor di Jakarta sebelum dikebumikan di
kampung halamannya di Harianboho, Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Tak hanya
menceritakan mengenai masa kecil Sitor, namun biografi tersebut juga mengungkap sisi
lain dari Raja Usu.

Dibagi dalam tujuh bab, buku tersebut awalnya menceritakan mengenai sejarah dari
nenek moyang dan ayah Sitor yang merupakan kepala adat di kampungnya. Serta
perjalanan Sitor menempuh pendidikan di Balige dan Sibolga. Kemudian, masa-masa
ketika Sitor merantau ke Batavia dan mulai membuat impian pergi berkelana ke seluruh
penjuru dunia.

Berprofesi sebagai jurnalis pun dilakoni Sitor. Di usianya yang ke 23-24 tahun, Sitor
mendapati dirinya di tengah revolusi sosial di Sumatera sebagai pengamat yang terlibat
dan memihak. Dikutip dari biografi ‘Sitor Situmorang: Biografi Singkat 1924-2014’,
sejarawan Anthony Reid menyebut Sitor sebagai saksi sekaligus pelaku perubahan
sosial yang paling menyeluruh dalam revolusi Indonesia dan masa setelah
kemerdekaan.

Hingga perjalanan Sitor memimpin Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) dan
dipenjara di Salemba pada masa Orde Baru. "Sitor adalah pahlawan kebudayaan,
ironisnya sampai sekarang namanya belum mendapat pengakuan," ucap penulis
biografinya JJ Rizal kepada detikHOT baru-baru ini.

JJ Rizal terlibat dengan sosok Sitor Situmorang sejak menggarap skripsi sarjana-nya di
Jurusan Sejarah, Universitas Indonesia. Dari obyek penelitian, Rizal dan Sitor menjadi
intens bertemu dan akrab.

“Sitor melampaui sastrawan di masanya. Ia produktif menulis dan setelah pulang dari
negara-negara itu, karya-karya terbaiknya keluar,” ungkapnya.

Sumber: HotDetik
(https://hot.detik.com/art/2791412/sitor-situmorang-biografi-singkat-1924-2014-
ungkap-sisi-lain-si-raja-usu)

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>