Razia Celana Jengki Pakai Botol Bir

Razia Celana Jengki Pakai Botol Bir

Nur Janti
Jurnalis historia.id


Pada hari di Jakarta tahun 1960-an, terlihat keramaian di depan gedung bioskop. Rupanya, petugas polisi sedang melakukan razia celana jengki. Polisi hanya bermodal gunting dan botol bir. Satu per satu anak muda bercelana jengkiapian. Kaki diangkat, leher botol pada ujung celana di seluruh kaki. Jika leher botol bir gagal masuk, siap-siap saja berhadap dengan gunting.

“Celana jengki yang terbukti tidak bisa dimasuki botol langsung digunting melintang di lutut atau paha,” kata Achmad Sunjayadi, sejarawan Universitas Indonesia. Korban razia tentu saja bisa pasrah dan pulang.

Menurut Firman Lubis dalam  Jakarta 1950-an,  razia tidak hanya dilakukan di bioskop, tetapi juga dijalanan. Guru-guru di sekolah pun turut melakukan penertiban. Razia di Jakarta dinamai Operasi Menghapus dan dilakukan oleh Angkatan Kepolisian VII / Jaya dan Korps Polisi Militer (CPM). Selain di Jakarta, razia juga dilakukan di kota-kota lain. Tidak hanya celana jengki,  blue jeans  pun dirazia. Bahkan tidak perlu mengukur dengan botol, penggalian langsung.

Celana jengki merupakan celana ketat yang terkenal di era 1960-an. Jengki berasal dari kata  yankee yang berarti “orang Amerika.” Dipersembahkan oleh julukan oleh grup musik The Beatles. Grup musik asal Inggris digandrungi oleh anak-anak muda di berbagai kota di Indonesia. Maka, tak heran jika mereka mengenakan gaya The Beatles.

Achmad menjelaskan bahwa pelarangan celana jengki berbarengan dengan musik pelarangan  rock and roll , gaya rambut ala The Beatles, dan dansa-dansi. “Ini berkaitan dengan Kebijakan Soekarno. Pada pidatonya tentang Manipol-Usdek tanggal 17 Agustus 1959, Soekarno mengecam musik  rock and roll , dansa-dansi, dan musik ngak ngik ngok, ”kata Achmad. Manipol-Usdek merupakan singkatan dari Manifestasi Politik, UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia.

Dalam tulisannya, “Ngak Ngik Ngok” di  Jurnalisme Sastrawi,  Budi Setiyono mencatat bahwa pemerintah kemudian mengeluarkan Penetapan Presiden No. 11/1963 tentang Pemberantasan Kegiatan Subversi. Peraturan ini untuk keperluan musik ngak ngik ngok ini. Populernya The Beatles ditentang pemerintah karena di saat yang sama sedang memajukan komunikasi nasional. Upaya tersebut didukung oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Pada sidang pleno Lekra tanggal 23-26 Februari 1964, dibahas upaya menangkis “perdagangan imperialisme Amerika Serikat” dan usaha untuk membangun masyarakat nasional.

Sumber: https://historia.id/retro/articles/razia-celana-jengki-pakai-botol-bir-v27q1

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>