G30S 1965, Perang Dingin & Kehancuran Nasionalisme: Pemikiran Cina Jelata Korban Orba

Selama 13 tahun, Tan dipenjara sambil disiksa secara buas dan sadis. Buku ini mengisahkan hidupnya sebagai eks yang mengalami segala macam penghinaan, diskriminasi, ancaman dan pemerasan.

Rp110,000.00

Stok habis

Book Details

Berat 0.695 kg
Dimensi 14 × 21 cm
ISBN

979-3731-86-9

Pengantar

Ben Anderson

Cetakan

Cetakan I

Edisi

Satu Bahasa

Tahun Terbit

2010

Jenis Kertas

Book Paper

Jilid Buku

Soft Cover

Keterangan Isi

Hitam Putih

Ketebalan Isi

616 hlm

About The Author

Tan Swie Ling

Buku ini berangkat dari pengalaman hidup Tan Swie Ling. Meski demikian, penulis tidak cerita sedikit pun tentang orangtua, tempat kelahiran, sekolah, aktivitas-aktivitas politiknya ketika masih muda, dsb. Riwayat hidupnya “dimulai” pada 1 Oktober 1965, ketika dia dapat berita tentang G30S. Saat dia harus mulai sembunyi dan membantu mencari tempat aman untuk Ketua PKI terakhir, Sudisman. Lantas akhir tahun 1966, keduanya ditangkap karena dikhianati Ketua Komisi Verifikasi PKI dan anggota CC, Sujono Pradigdo yang takut disiksa.

Selama 13 tahun, dia dipenjara sambil disiksa secara buas dan sadis. Setelah lepas, dia–seperti eks tapol lainnya–harus mengalami segala macam penghinaan, diskriminasi, ancaman dan pemerasan. Tetapi dia tak patah hati, otaknya tidak ambruk, semangat dan disiplinnya tetap utuh. Dan inilah refleksinya atas G30S, awal dari kehancuran nasionalisme Indonesia dan Indonesia itu sendiri.

Testimoni

Di sini mungkin sebaiknja saja katakan bahwa bahasa Indonesianja Pak Tan bagus banget. Prozanja djelas, tidak ber-tele2, tanpa jargon, berbunji enak kalau dibatjakan, dan logis. Diselingi djuga dengan metafora2 jg sederhana tetapi segar dan kadang2 lutju. Ada masuk beberapa njanjian komplit dengan not2nja, plus beberapa kata2 Djawa atawa Sunda. Gajanja halus, tanpa genit2an a la Tempo, dan mungkin ini paling penting, memilukan hati pembatja. Kalau saja sendiri, ketika menikmati buku ini setelah batja banjak artikel di koran dan terima banjak imel bergaya SMS. Rasanja seperti minum air putih dingin jang baru turun dari pegunungan, setelah dipaksa minum 10 botol Miranda berturut-turut. – Ben Anderson

Ulasan

Belum ada ulasan.

Jadilah yang pertama memberikan ulasan “G30S 1965, Perang Dingin & Kehancuran Nasionalisme: Pemikiran Cina Jelata Korban Orba”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *