Pierre Riset Peneliti Sriwijaya ke Candi Seperti Detektif

Pierre Riset Peneliti Sriwijaya ke Candi Seperti Detektif

Teguh Suprayitno
Jurnalis tribunnews.com

Perkenalan dengan Satyawati Suleiman, arkeolog ahli ikonografi agaknya membawa Pirre Yves Manguin (69) kesengsem dengan khazanah peradaban maritim di Tanah Air, termasuk Kedatuan Sriwijaya yang menguasai perairan di Asia Tenggara. Rasa penasaran selanjutnya membawa dirinya ke Candi Muaro Jambi

Sekalipun memegang paspor Prancis, Pierre Yves Manguin (69) mengaku betah berlama-lama di Indonesia. Dia mengaku kesengsem menelusuri kejayaan peradaban maritim di Swarnadwipa, terutama Kedatuan Sriwijaya. Masih teka-tekinya kedatuan masyhur di abad ke-7 itu membawanya bertahun-tahun riset menggali bukti arkeologis, termasuk ke Jambi.

Saat malam pembukaan Seminar Internasional Sriwijaya di Rudis Gubernur Jambi, Ancol, dia terlihat serius mengamati Tarian Melangun B’gushek dari anak-anak SDN 49 Kota Jambi. Tarian berkisah kehidupan SAD di Bukit Duabelas yang suka berpindah-pindah (melangun). Tingkah jenaka mereka terlihat membuatnya tertawa.

Manguin mengamati setiap gerak bocah-bocah yang berdandang ala SAD. Di akhir, dia lantas bertepuk tangan. “Bagus sekali,” ucapnya. Esoknya, dia dan rombongan para peserta seminar muhibah ke kawasan percandian Muaro Jambi. Dia mengaku kunjungan bukan kali pertama, karena riset sebelumnya seputar Sriwijaya membawanya ke Jambi.

“Sebenarnya waktu kuliah saya ambil jurusan Antropologi. Kemudian S2, saya ambil Sejarah Asia Tenggara. Konsentrasi saya ada di Vietnam. Tapi karena di sana ada perang, dulu, jadi saya bisa masuk ke sana. Dan saya memilih Indonesia, ya,” katanya. Pada 1977, dia kali pertama ke Jakarta.

Ecole Francaise D’extrime Oriented tempatnya bekerja membuka cabang di 18 negara, termasuk Indonesia. Di Jakarta, dia bertemua dengan Satyawati Suleiman, arkeolog ahli ikonografi.

Dari situ, dia mulai meneliti sejarah Sriwijaya. Dia lantas tinggal beberapa bulan di perkampungan, dan menurutnya itu menyenangkan. “Saya suka hidup di kampung, mengamati aktifitas orang kampung. Sore bisa ngobrol tentang budaya, sejarah, sambil minum kopi. Saya senang itu, dan itu sesuai dengan jurusan saya waktu kuliah dulu, S1 Antropolgi,” kata pria berambut perak beranak satu.

“Saya bosan dengan orang kota,” kelakarnya, “Saya senang menemukan hal baru. Penelitian itu seperti detektif, dan saya suka itu.” Meski menyenangkan, sebagai arkeolog kadang membuatnya berjauhan dengan keluarga di Prancis. “Setiap lima tahun saya pulang ke Prancis, nanti balik lagi ke Indonesia. Tahun 77 sampai 82 di Indonesia, lalu pulang ke Prancis dan balik lagi 86 hingga 91. Begitu terus, karena saya harus ngajar juga di sana,” kata pensiunan dosen sejarah arkeologi di Sorbonne itu.

Telah banyak sejarah negeri ini digalinya bersama arkeolog dalam negeri. Tahun 80-an, dia meneliti Kerajaan Sriwijaya. Baru 1990-an, lewat penggalian dia menemukan bukti sejarah kerajaan maritim itu. “Dan ditemukan prasasti Sabokingking,” katanya. Hasil penggalian, dia menduga kedatuan itu berada di Palembang, di lokasi pabrik pupuk Pusri sekarang.

Temuan tertuang dalam buku Kedatuan Sriwijaya, ditulisnya bersama George Coedes, Louis-Charles Damais dan Herman Kulke, terbit kali pertama 1989. Pada 1997-2002, dia ke Vietnam menelit Kerajaan Funani, eksis sejak abad 1-6 M. Selanjutnya dia ke Indonesia, karena Vietnam perang, dan meneliti Candi Batu Jaya, peninggalan kebudayaan Buni di Kecamatan Batu Jaya, bersama Agustijanto dari Pusat Arkeologi Nasional Jakarta.

Tiga tahun belakangan, dia kembali meneliti Sriwijaya bersama Suroso dari Balai Arkeologi Palembang. Dia akan membukukan hasil penelitiannya. Dia menikmati kerja meneliti, dan karenanya dia berharap diberi kesempatan umur panjang, sehingga bisa terus meneliti di Indonesia. Minggu (24/8) kemarin, seminar resmi ditutup.

Mambo, Kepala BPCB Jambi berterima kasih terlaksananya seminar. Kepala Disbudpar Provinsi Jambi, Edi Herizon tak kalah senang acara sukses. Peneliti dari 9 negara, termasuk Prancis dan India, China, Taiwan dan Jepang hadir. 12 pembicara lokal melengkapinya. Bambang Budi Utomo, Panitia Seminar, itu upaya menggairahkan penelitian tentang Sriwijaya dan entitas terkaitnya, setelah enam tahun jeda.

Sumber: http://jambi.tribunnews.com/2014/08/26/pierre-riset-peneliti-sriwijaya-ke-candi-seperti-detektif.

 

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>