Pengasuh dengan Tiga Bahasa

Pengasuh dengan Tiga Bahasa

Kehidupan Sosial di Batavia

Lily Utami
Pemerhati sejarah dan budaya


Pengasuh anak bisa bicara dengan 3 bahasa? Rasanya berlebihan! Tentu saja kalau untuk saat ini, tapi pada abad 19 di Indonesia (yang waktu itu masih bernama Hindia Belanda) itu adalah sebagian persyaratan untuk menjadi pengasuh anak. Mengapa hanya menjadi pengasuh anak persyaratannya begitu berat?

Jika Anda bayangkan pengasuh anak adalah pembantu atau baby sitter seperti saat ini, Anda salah besar! Karena tugas pengasuh anak pada saat itu bukan merawat dan mengurus keperluan harian si anak, tapi mendidik dan mengajar si anak dengan berbagai keahlian, seperti mengajar berbagai bahasa, bermain musik, atau mengajar aritmatika.

Jean Gelman Taylor dalam bukunya Kehidupan Sosial di Batavia, menceritakan; untuk mendapatkan pengasuh anak yang sesuai dengan keinginan, biasanya mereka memasang iklan di beberapa surat kabar yang beredar saat itu, salah satunya surat kabar Lokomotief yang memasang iklan seperti ini: “Dicari: pengasuh anak, umur antara 30 sampai 40 tahun, Kristen, untuk mengajar anak perempuan di Indonesia.”

Atau “Dicari: pengasuh anak untuk 2 orang anak perempuan usia 9 dan 12 tahun, untuk mengajarkan bahasa Belanda, Prancis dan bermain musik.” Namun ada juga iklan dari para pelamar (pengasuh anak), yang mengiklankan dirinya sendiri, seperti: “Seorang perempuan muda, telah mengecap pendidikan di Eropa sejak kecil, menawarkan diri untuk mengajarkan 4 bahasa Eropa dan musik untuk anak-anak.”

Mengapa kemampuan bahasa sangat ditekankan? Karena ternyata ada ketidakmampuan anak-anak imigran Belanda atau anak-anak Belanda yang dilahirkan di Indonesia untuk berbahasa Belanda dengan fasih (karena kebanyakan dari mereka di asuh oleh budak atau pembantu). Bahasa Belanda yang mereka gunakan biasanya bercampur dengan bahasa Asia atau Portugis pasar.

Catatan dari pelancong Belanda bahkan mencemooh tentang logat lokal yang aneh dari beberapa transposisi konsonan oleh keturunan Belanda yang lahir di Indonesia. Padahal kemampuan bahasa yang baik menjadi sesuatu yang penting bagi anak perempuan untuk memperkuat statusnya sebagai keturunan Eropa, sedangkan bagi anak laki-laki berguna untuk mendapatkan kursi dalam pemerintahan. Untuk itu mereka membutuhkan pengasuh yang dapat mengajarkan bahasa Belanda dan beberapa bahasa Eropa lainnya (Masup Jakarta, 2009).

Aahh.. seandainya para pengasuh anak sekarang seperti itu, sepertinya kita tidak perlu menyekolahkan anak lagi.

Sumber: https://nasional.kompas.com/read/2012/06/18/13045962/Pengasuh.dengan.Tiga.Bahasa

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>