Pemberontakan Nuku: Persekutuan Lintas Budaya di Maluku-Papua Sekitar 1780-1810

Pemberontakan Nuku: Persekutuan Lintas Budaya di Maluku-Papua Sekitar 1780-1810

Pemberontakan Nuku: Persekutuan Lintas Budaya di Maluku-Papua Sekitar 1780-1810 1

Tulisan ini saya persembahkan untuk (alm) Pak Muridan S. Widjojo, seorang peneliti LIPI yang mendedikasikan diri demi tercapainya Papua damai melalui Jaringan Damai Papua (baca pendapat anggota JDP tentang buku ini). Saya mengenal Pak Muridan akibat salah satu pekerjaan saya di UKP4 untuk berurusan dengan Indonesia Timur. Pak Muridan yang begitu bersemangat dan tidak henti-hentinya bertahun-tahun lamanya mendalami sejarah politik tentang Papua (dan Maluku). Saya begitu kaget begitu mendengar kabar kepergian Pak Muridan. Semoga karya-karya Bapak, salah satunya disertasi tentang Pangeran Nuku ini menjadi inspirasi bagi peneliti lain demi tercapainya Papua Damai dan satunya Indonesia.

Pangeran Nuku, Pangeran Pemberontak dari Tidore

Saat berjalan-jalan di toko buku Kinokuniya Plaza Senayan bagian sejarah-biografi bagian rak paling bawah akhir Juli 2014, saya melihat nama yang tidak asing. “Muridan Widjojo” sang penulis buku tersebut. “Pak Muridan menelurkan buku! i must read this!” pikirku. Lalu saya lihat bagian belakang buku, untuk tahu dulu, apa bagusnya buku ini, siapakah Pangeran Nuku dari Tidore, kenapa sebegitu pentingnya Pak Muridan angkat sosok Pangeran Nuku untuk disertasinya di Belanda. Setelah membaca sedikit, makin tertarik. Melalui Tidore lah, Pak Muridan mendalami sejarah Papua. Hal ini dilakukan karena sedikit sekali catatan tentang Papua dalam berbagai dokumen sejarah tua. Menurut Pak Muridan, yang kuat menceritakan adalah melalui sejarah Pangeran Nuku karena dalam berperang Pangeran Nuku kerap bekerjasama dengan para raja dari empat pulau (sekarang ini Raja Ampat).

Pangeran Nuku sendiri adalah seorang pangeran dari Kesultanan Tidore yang tidak mau bekerjasama dengan Belanda kala itu, tidak terima Belanda menduduki atau memerintah. Pangeran yang bercita-cita menciptakan Maluku merdeka dari jajahan Belanda. Pangeran yang cerdas dalam berpolitik melalui pengetahuan politik perang eropa. Ia memanfaatkan Inggris untuk mengalahkan Belanda di Maluku hingga akhirnya menjadi Sultan Nuku. Pangeran Nuku begitu dipercaya selain karena kharisma nya juga karena humoris dan bijak. Sebenarnya bisa terbaca macam-macam sifat Nuku dari buku ini, tapi paling menonjol adalah bagaimana Nuku yang berkharisma dan bijak.

Pangeran Nuku, Pangeran yang Melanglang Buana Antar Pulau Maluku-Papua

Dalam buku ini, kita akan mengenal istilah-istilah baru dalam bahasa Maluku dan Papua. Dalam catatan sejarah Belanda dan Inggris, Pangeran Nuku memberontak dengan kabur ke beberapa pulau di wilayah pulau-pulau Empat Raja (kini dalam wilayah Kabupaten Raja Ampat). Memang ternyata ada empat kerajaan di pulau-pulau Raja Ampat itu, salah duanya adalah di Misool dan Salawati. Para raja tersebut diceritakan naik-turun dalam mendukung Pangeran Nuku. Ketika memberikan keuntungan/manfaat pada para raja, maka para raja akan bekerjasama dengan Pangeran Nuku dan pengikutnya. Namun ada kalanya mereka tidak bergeming mendukung. Pangeran Nuku berjibaku secara politik antar kerajaan timur Indonesia dan antara Belanda-Inggris. Para raja empat pulau ini dituliskan gemar menjarah barang dan membawa penduduk untuk didagangkan menjadi budak. Pangeran Nuku kerap mengarahkan pasukan para raja menjarah desa-desa yang tunduk kepada Belanda dan merampas berbagai peralatan perang Belanda. Barang rampasan tersebut dijadikan barang berharga ditandai dengan penempatan yang khusus oleh para raja. Digambarkan dalam buku ini berbagai pulau yang disebutkan menjadi wilayah pemberontakan. Papua akan terfokus pada Papua Barat dari Biak Numfor hingga Raja Ampat. Biak Numfor dinyatakan memiliki keterkaitan asal mula penduduk Raja Ampat, Kisah asal raja dari enam telur, serta kaitannya bagaimana para raja ini menikah dengan putri-putri dari Ternate/Tidore dan akhirnya menghasilkan keturunan. Juga memahami bagaimana asal muasal sekarang ini penduduk Raja Ampat kebanyakan beragama islam. Selain “island hopping” di pulau-pulau Papua juga di pulau-pulau Maluku dari Seram Timur, Ambon, Halmahera Tengah, Halmahera Utara, Bacan, dll. Transaksi antara raja dengan penduduk di pedalaman Papua juga digambarkan dalam buku ini. Sedih juga ketika membaca tentang kegemaran menjarah yang brutal dan memperdagangkan budak. Tapi itu kenyataan yang terjadi di sejarah Papua.

Pangeran Nuku, Pahlawan Indonesia yang Tidak Pernah Kalah

Kalau Pak Muridan ditanya, siapa pahlawan Indonesia yang tidak pernah kalah, Pak Muridan akan menjawab, “Nuku!”. Pangeran Nuku berjuang 20 tahun lamanya di daratan dan lautan antara Maluku-Papua. Soekarno dkk sendiri berjuang 17 tahun di daratan demi memerdekakan Indonesia. Saya sendiri setelah membaca habis buku ini, agak-agak terpesona dengan bagaimana dengan mudahnya Pangeran Nuku dan pengikutnya tek-tokan bolak-balik antar pulau dengan kora-koranya. Jaman modern sekarang saja berhari-hari naik kapal antar pulau. Ini nampaknya semudah membalik telapak tangan. Memang “nenek moyangku seorang pelaut” adalah pernyataan yang luar biasa benar dan kita tidak boleh kehilangan keahlian ini. Pangeran Nuku tidak pernah kalah dan berhasil menyelesaikan perjuangannya dengan menjadi Sultan Nuku dan meninggal. Kemudian perjuangannya dilanjutkan oleh Pangeran Zainal Abidin, sayang beliau kurang cerdas dalam membaca kondisi politik antara Belanda-Inggris di Eropa sana dan kelakuannya merebut istri Pangeran lain. Perebutan istri ini menjadi kekurangan di mata para pendukungnya sehinga perjuangan Pangeran Nuku dalam memerdekakan Tidore terhenti.

Pangeran Nuku, Pangeran yang Setia

Senangnya membaca sosok Pangeran Nuku ini digambarkan, karena berdasar catatan sejarah Belanda, dia terkenal setia kepada satu-satunya istri bernama Geboca. Dia tak memiliki selir, bahkan menurut catatan Inggris dan Belanda justru Geboca yang cukup memberikan saran nasihat selama pemberontakan Pengeran Nuku. Kadang disebutkan dalam catatan “mengatur” Pangeran Nuku seakan-akan Pangeran Nuku penurut kepada istrinya. Geboca cukup banyak disebutkan di akhir buku ini dan perannya dalam pemberontakan Nuku. Sungguh cukup jarang pada zaman itu seorang lelaki setia kepada satu perempuan.

Membutuhkan Ketekunan dan Komitmen dalam Mendalami Sejarah Maluku-Papua

Pak Muridan menyebutkan dalam bukunya, betapa gigihnya beliau bolak-balik pusat arsip di Leiden Belanda, Arsip Nasional RI, dan Inggris. Betapa sulitnya membaca tata bahasa Belanda yang kala itu belum tertata rapi, namun karena terbiasa bolak-balik membaca akhirnya terbiasa dan berhasil memahami maksud dibalik kalimat arsip tersebut. Selain itu membuka arsip tebal dan tua membutuhkan kesabaran luar biasa. Saya menangis membaca perjalanan menyusun buku ini karena saya mengetahui kondisi lingkungan dan tantangan menjadi peneliti di Indonesia. Benar-benar penuh dedikasi tinggi. Itulah mengapa menurut saya harga sekira di bawah 150.000 untuk buku ini lebih dari cukup untuk merangsang calon pembaca lain dari negaranya sendiri, Indonesia. Di negara Belanda, disertasi ini dibukukan oleh penerbit bergengsi (jelas harganya di atas 1 juta rupiah) bahkan diangkat koran Belanda dalam 1 artikel khusus. Tapi, itulah sedihnya tidak terdengar hingar-bingar ini, mungkin hanya terdengar di lingkungan peneliti saja. Saya saja tahu buku ini di rak toko buku (paling bawah pula) karena nama penulisnya.

Buku Pemberontakan Nuku sebagai Referensi

Saya terbayang buku ini dijadikan acuan para sineas film dalam mengangkat timur Indonesia dalam sejarah tentang gigihnya perjuangan tanpa akhir, negara maritim dan bahwa Papua adalah bagian Indonesia. Sebenarnya mengingat Margate House dengan didukung oleh Pak Hashim dan Pak Prabowo pernah membuat seri film heroik yang menurut saya Wow di layar bioskop, bolehlah saya rekomendasikan buku ini untuk di filmkan dengan dukungan Pak Hashim dan Pak Prabowo. Terbayang kolosal karena pemain-pemain asingnya bakal buanyaaaak, pemain Papua, pemain asal Maluku, dll. Buku ini juga layak dijadikan pekerjaan rumah siswa dalam tugas membaca sejarah, sangat menarik, tidak bikin ngantuk karena dipecah-pecah dengan baik oleh Pak Muridan. Buku ini juga bisa diangkat oleh para pembuat game karena banyak strategi perang dan peralatan perang. Semoga ada production house, guru sejarah atau pembuat game yang membaca blog ini dan setuju merealisasikan ide saya untuk terus membuat hidup karya Pak Muridan ini. (Karina Kusumawardani)


Sumber: hanyakarin.wordpress.com

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>