Menyambut “Kahlil Gibran di Indonesia”

Menyambut “Kahlil Gibran di Indonesia”

Kahlil Gibran Di Indonesia

Kamis, 6 Januari lalu di kediaman Dubes Libanon, Kuningan, Jakarta, bertepatan dengan ulang tahun ke-128 Kahlil Gibran, diluncurkan buku KAHLIL GIBRAN DI INDONESIA.

Hadir dan memberikan sambutan diantaranya, Dr. Victor ZMeter (Dubes Libanon), Hashim Djojohadikusumo (chairman BPPI), Bagas Hapsoro, SH, MA (mantan Dubes RI di Libanon), Eka Budianta (editor), dan Chairil Gibran Ramadhan (sastrawan, bukan gibranwan).

Acara malam itu di isi dengan pembacaan puisi oleh Pratiwi Setyaningrum dan Helga Worotijan.

Peluncuran buku yang mengupas berbagai pandangan tentang karya dan kehidupannya: KAHLIL GIBRAN DI INDONESIA, yang terlaksana berkat kerjasama BPPI (Badan Pelestarian Pusaka Indonesia) dengan Penerbit Ruas (berada di bawah naungan Komunitas Bambu), serta tentunya Kedutaan Besar Libanon di Indonesia.

Buku itu memuat tulisan karya 22 orang dari beragam latar belakang—sastrawan, dosen, dokter, hingga aktivis lingkungan, maka tema-tema yang dibahas pun beragam meski dengan kiblat yang sama: Kehidupan, karya, dan pengaruh Kahlil Gibran.

Seperti diketahui, KAHLIL Gibran (1883-1931), adalah seorang Kristen yang menggunakan bahasa Arab, kelahiran Bsherri (Beshari), Libanon, besar di Boston dan wafat di New York, Amerika Serikat, dan dimakamkan di tanah kelahirannya. Tak hanya menulis, ia juga melukis. Namun karya-karya tulisnya-lah yang melambungkan ia ke pentas internasional, dengan ketajaman aroma spiritualitas.

Buku KAHLIL GIBRAN DI INDONESIA terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama “Testimoni dan Opini”, memuat: “Terikut Mengindonesiakan Gibran” (Wisaksono Noeradi), “Jika Gibran Berkunjung ke Indonesia” (Johan Hasan), “Kata Terindah untuk Ibunda Gibran” (Niceforus Yosef), “Gibran dari Tuhan menuju ke Tuhan” (Niken Argaheni), “Gibran dan Kisah Pilu Penegakan Hukum”  (Sutirman Eka Ardhana), “Andai Gibran Tidak Kanker” (Handrawan Nadesul), “Kahlil Gibran dan Chairil Anwar” (Abdul Aziz Rasjid), “Tentang Perempuan Tak Bernama dari Sikhar” (Ita Siregar), “Kahlil, Oh Kahlil” (Wandi Silaban), “Sang Lupa dan Kahlil Gibran” (Tjatur Kukuh), “Kahlil Gibran, Mbah Marijan dan Merapi” (Surjo W. Prawiroatmodjo), “Tentang Kahlil Gibran” (Sunaryono Basuki KS), “Kahlil Gibran dan Cintanya” (Kurnia Usman), “Nabi, Dewa, dan Kahlil Gibran” (Chairil Gibran Ramadhan), “Pabila Cinta Memanggilmu” (Yvonne de Fretes), dan “Maka Ia Kami Panggil Gibran” (Budi Santosa).

Bagian kedua “Makalah dan Presentasi”, memuat: “Perempuan dalam Antologi Cerpen Al-Arwah Al-Mutamarridah karya Gibran Khalil Gibran” (Hanik Mahliatussikah, S.Ag., M.Hum), “Antara Cinta, Wanita dan Nestapa” (Juhdi Syarif, M. Hum),  “Nuansa Sedih dalam Sayap-sayap Patah” (Fauzan Muslim), “Mengapa Mereka Enggan Menyebut Nama Gibran?” (Dr. Maman Lesmana), “Kahlil Gibran and Indonesia” (Eka Budianta), “Lingkar Waktu: Awan Hitam” (Pratiwi Setyaningrum).

Chairil Gibran Ramadhan menginformasikan, rencananya, pada 10 April nanti, pada hari wafat Kahlil Gibran juga akan digelar sebuah acara bertajuk “Festival Kahlil Gibran” di Fakultas Ilmu Budaya, UI, Depok.


Sumber: http://theglobal-review.com/lama/content_detail.php

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>