Mencetak Generasi Pertama Ahli Biologi Indonesia

Mencetak Generasi Pertama Ahli Biologi Indonesia

Fadrik Aziz Firdausi
Jurnalis historia.id


 Di awal kemerdekaan, pemerintah Indonesia ingin membangun tradisi baru yang nasionalis. Pemerintah menasionalisasi lembaga-lembaga ilmiah yang telah berlangsung selama masa kolonial dan mulanya para administrator pada awal 1950-1951.

   “Dan saat itu para ilmuwan Indonesia bertanggung jawab atas berbagai disiplin ilmu pengetahuan Indonesia,” tulis Andrew Goss dalam Belenggu Ilmuwan dan Pengetahuan: Dari Hindia Belanda sampai Orde Baru .

   Salah satu bidang yang menjadi titik mula pengembangan sains adalah biologi. Tokohnya Koesnoto Setyodiwiryo, sarjana pertanian dari Universitas Wageningen, Belanda. Semasa pendatang Jepang dia menghitung kepala Biro Penelitian Pertanian dan pada medio 1950 Direktur Kebun Raya Bogor. Dialah yang berinisiatif bahwa disiplin biologis profesional harus dikembangkan oleh ahli biologi Indonesia sendiri.

   Pada 1950-an, calon ahli biologi mulai dididik di ITB, UI, dan UGM. Tapi, lulusannya belum bisa memenuhi kebutuhan di lembaga-lembaga ilmiah yang ada. Sementara itu, staf dunia Belanda sudah jauh berkurang. Itu yang membuat akselerasi dari pengembangan seret Indonesia.

Masalah lain, ungkap Andrew Goss, sebagian besar ahli akademik yang baru lulus langsung diserap sebagai pengajar oleh jurusan biologi universitas mereka masing-masing.

   Keadaan inilah yang mendorong Koesnoto menyerahkan ide mendirikan Akademi Biologi dalam Departemen Pertanian. Ide ini berlaku pada 28 Mei 1955. Akademi ini akan terhubung dengan Kebun Raya Bogor dan lulusannya akan diwajibkan bekerja di sana.

Pada 10 Oktober 1955, Akademi Biologi yang didirikan Departemen Pertanian dan di Kebun Raya Cibodas, Bogor, diresmikan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Hadir pula Menteri Pertanian Mohammad Sardjan.

   Akademi Biologi didirikan guna menyediakan tenaga ahli biologi bangsa yang profesional dan lepas dari gangguan kolonial. Diharapkan lulusannya bisa mengisi kekosongan yang ditinggalkan para ilmuwan Belanda.

   Di awal pendiriannya, Akademi Biologi mencetuskan mimpi besar. “Akedemi Biologi berjanji akan menghasilkan 30 lulusan ahli hayati Indonesia per tahun dan konflik untuk mendekolonisasi hay Indonesia,” terang Andrew Goss.

   Pembiayaan Akademi Biologi memperoleh dari bantuan Yayasan Ford. Perkuliahannya menggunakan sistem yang dipakai di sekolah tinggi Amerika Serikat. Semua mahasiswa yang mengikuti dan mengikuti tes di akhir perkuliahan selama tiga tahun. Sistem ini belum lazim untuk saat ini karena masih menggunakan sistem liberal.

   “Dari akademi inilah muncul generasi pertama ahli biologi Indonesia, satu generasi ilmuwan berbakat, idealis, dan patriotik yang akan menjadi pemimpin setelah Indonesia 1966,” tulis Andrew Goss.

   Setelah lulus, karena sering mendapat gangguan dari DI / TII SM Kartosoewirjo, Akademi Biologi dipindahkan ke Kompleks Pertanian Ciawi, Bogor. Akademi Biologi juga mengubah nama menjadi Akademi Pertanian. Akademi Pertanian Ciawi bertahan hingga meluluskan sembilan angkatan. Pada tahun 1968, dengan total jumlah perguruan tinggi sudah cukup, Akademi Pertanian Ciawi ditutup.

Sumber: https://historia.id/sains-teknologi/articles/mencetak-generasi-pertama-ahli-biologi-indonesia-P0mBM

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>