Melihat Perjuangan Rakyat Bogor

Melihat Perjuangan Rakyat Bogor

Bogor Masa Revolusi 1945-1950

Hafidz Muftisany
Jurnalis Republika.co.id


   Tidak banyak buku sejarah seperti ini: penting, menarik, menyenangkan, sekaligus ilmiah. Penting karena buku ini mengisahkan perjuangan rakyat Bogor di masa revolusi (1945-1950): sebuah topik langka. Sejauh ini hanya ada dua buku dengan topik sejenis, tetapi bukan disajikan untuk umum, melainkan untuk memenuhi keperluan dinas pemerintahan di Kabupaten Bogor.

   Menarik karena dihiasi foto-foto langka yang eksklusif dan menampilkan cukup banyak riwayat tokoh lokal di Bogor. Selama ini para tokoh itu hanya diketahui masyarakat sebagai nama jalan, seperti Jl KH Sholeh Iskandar, Jl KH Abdullah bin Nuh, Jl Kapten H Dasuki Bakri, dan Jl H Ace Tabrani.

   Khusus KH Sholeh Iskandar, sesungguhnya ia bukan tokoh lokal, melainkan nasional, dengan pencapaian internasional. Tak heran bila sejak tahun 1995 ia diusulkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai pahlawan nasional bersama M Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, KH Noer Alie, dan Kasman Singodimedjo.

   Gelar pahlawan nasional itu telah dianugerahkan pemerintah kepada KH Noer Alie pada 2006, M Natsir pada 2008, dan Sjafruddin Prawiranegara pada 2011. KH Sholeh Iskandar dan Kasman Singodimedjo belum memperoleh anugerah tersebut, kendati bagi umat Islam, keduanya sejak lama dipandang sebagai pahlawan.

   Lebih jauh, buku ini disebut menyenangkan karena disajikan dengan bahasa yang enak dibaca dan menampilkan sisipan kisah-kisah yang manusiawi dalam perjuangan. Misalnya, sejumlah tentara India-Inggris Muslim yang bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Mayor AE Kawilarang yang naik pangkat hanya dalam waktu 10 menit.

Belakangan, Kawilarang menjadi pendiri pasukan elite Indonesia yang kini dinamai Kopassus.

Di samping itu, kadar ilmiah buku ini tampak dari ketaatan penulisnya mematuhi metode penulisan sejarah, seraya menampilkan arsip-arsip dari Indonesia dan Belanda yang tidak mudah diperoleh.

   Wajarlah bila pujian terhadap penulis dan buku ini datang dari sejarawan muda JJ Rizal.  Melalui Facebook-nya, Rizal menulis, “(Edi Sudarjat) senior saya yang dulu mahasiswa sejarah di FSUI (kini FIB UI) dan terutama cemerlang dalam sejarah pergerakan nasional sampai revolusi Indonesia. Ia senior dari kelompok Islam yang kalau menulis mengingatkan saya pada almarhum Deliar Noer.”

Buku ini terdiri dari dua bab. Pertama, berisi sekilas tentang berdirinya TNI & Batalyon O Tirtayasa Siliwangi. Kedua, tentang perjuangan rakyat Bogor di masa revolusi.

   Bab pertama mengantarkan pembaca di zaman sekarang memahami zaman revolusi, berikut dinamika yang terjadi waktu itu. Dengan demikian, pembaca akan memahami bahwa perjuangan di masa itu dilakukan oleh segenap rakyat, termasuk para pejuang perempuan, bukan melulu oleh tentara dan elite politik.

   Bab kedua memaparkan perjalanan revolusi di Bogor, berikut puluhan pimpinan pejuang yang terlibat di dalamnya. Tidak banyak yang tahu bahwa pernah terjadi kudeta di Bogor yang dilancarkan oleh Ki Nariya, namun tidak berlangsung lama karena berhasil ditumpas oleh pasukan gabungan TNI dan laskar.

   Akhirnya, sekilas paparan tentang isi buku ini semoga dapat menggugah Anda untuk menelusuri baris demi baris fakta sejarah, berikut foto-fotonya yang memikat yang dituangkan dalam buku tersebut.

Sumber: https://republika.co.id/berita/koran/dialog-jumat/15/11/20/ny3swa35-melihat-perjuangan-rakyat-bogor

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

For security, use of Google's reCAPTCHA service is required which is subject to the Google Privacy Policy and Terms of Use.

If you agree to these terms, please click here.