“Londo Ireng” dari Afrika, bukan Ambon

“Londo Ireng” dari Afrika, bukan Ambon

Zwarte Hollanders, belum lama berselang terbit dalam bahasa Indonesia dengan judul Serdadu Afrika di Hindia Belanda. Penulisnya Ineke van Kessel. Siapakah serdadu Afrika itu?

Serdadu Afrika di Jawa dikenal dengan nama Londo Ireng, Belanda Hitam. Mereka direkrut dari Afrika Barat pada abad ke-19, kemudian dibawa ke Hindia-Belanda, dijadikan serdadu dan bergabung dalam KNIL. Status mereka sama seperti serdadu Belanda,” jelas Ineke van Kessel pada Radio Nederland, sebagaimana dilansir situs web radio itu, Kamis (29/9/2011).

Mendengar istilah Londo Ireng, banyak orang menduga yang dimaksud adalah orang-orang Ambon yang bekerja sebagai serdadu Belanda. Memang ada kerancuan dalam hal ini, karena banyak juga orang Ambon menjadi serdadu KNIL. “Hak mereka disamakan dengan hak orang-orang Belanda, oleh karena itu disebut Londo Ireng. Status serdadu Afrika sama dengan status orang-orang Eropa dalam KNIL,” demikian Ineke van Kessel.

Awal kedatangan serdadu Afrika ke Hindia Belanda adalah pada 1831. Mereka direkrut di pantai barat Afrika. Ketika itu di sana ada beberapa pemukiman Belanda yang berfungsi sebagai pusat perdagangan budak. Tapi ketika pada abad ke-19 perbudakan dihapus, pusat-pusat perbudakan yang kita kenal sekarang sebagai Ghana kehilangan fungsi.

Den Haag kemudian mencari kegiatan lain untuk bisa memanfaatkan pusat-pusat itu. Muncul gagasan memakainya untuk mencari serdadu KNIL. Pada waktu itu Belanda kekurangan prajurit Eropa. Peraturan yang berlaku ketika itu, paling sedikit separuh jumlah serdadu harus orang Eropa. Sisanya boleh orang-orang pribumi seperti Maluku, Jawa dan lain-lain. Tapi kuota itu sulit dicapai. Di samping itu, angka kematian di antara prajurit Eropa pun tinggi. Muncullah gagasan mempekerjakan orang-orang Afrika. Fisik mereka lebih cocok untuk iklim tropis di Hindia Belanda. Maka dibuatlah kontrak dengan Raja Ashanti di Ghana. Belanda boleh merekrut prajurit di sana. Kebanyakan dari mereka adalah bekas budak. Perekrutan berlangsung sampai 1872. Dalam 41 tahun itu sekitar 3000 direkrut sebagai prajurit KNIL.

Mereka itu didapat melalui raja Ashanti. Latar belakang mereka sama dengan budak-budak yang kemudian dikirim ke Suriname. Yang diseleksi adalah laki-laki berfisik kuat, usia antara 17 – 30 tahun. Mereka ditugaskan di seluruh Indonesia.

Karena perekrutan prajurit ini merupakan sebuah eksperimen, maka banyak laporan lengkap mengenai mereka. Dikatakan prajurit-prajurit Afrika ini pemberani, tapi begitu pecah perang, mereka jalan sendiri-sendiri. Susah diatur!

Mereka sebagai prajurit Belanda merasa lebih tinggi daripada orang-orang pribumi. Tapi sikap angkuh ini juga dipupuk oleh Belanda karena jarak sosial dengan penduduk setempat menguntungkan pihak Belanda. Prajurit-prajurit ini juga dikerahkan di Kalimantan dan perang Aceh.

Perempuan Indonesia

Pria antara 20 dan 30 tahun, bertahun-tahun di negara lain, tentunya bergaul dengan penduduk setempat, dengan perempuan Indonesia. “Ya, pasti! Sama dengan prajurit-prajurit Belanda. Tidak jarang mereka bawa perempuan tinggal di tangsi. Ini diperbolehkan oleh komandan mereka. Biasanya pria yang punya istri bersikap lebih dewasa, lebih bertanggung jawab, apalagi kalau punya anak,” demikian jawab Ineke van Kessel pada Radio Nederland.

Dengan demikian mereka tidak suka mabuk-mabukan lagi dan berusaha menghidupi anak dan istri mereka. Jadi betul di antara para prajurit Afrika ada yang beristrikan perempuan pribumi. Ada yang menjalin hubungan sementara, tapi ada pula yang menjalin hubungan serius,” lanjutnya.

Selesai kontrak mereka boleh pulang ke Afrika. Pada awalnya banyak yang memilih kembali ke Afrika, tapi berangsur-angsur lebih banyak yang memilih menetap di Jawa. Di kota-kota itu kemudian tumbuh perkampungan Afrika, seperti misalnya di Batavia, Purworejo, Semarang dan Solo. Mereka bisa menetap di sana dan mempertahankan status mereka sebagai orang Belanda atau Eropa.

Anak-anak mereka yang diakui resmi juga punya status sama dengan ayah mereka. Anak-anak yang tidak diakui resmi oleh ayah mereka menjadi warga Indonesia. Banyak cerita mengenai mereka ini muncul, karena berkulit hitam dan berambut keriting. Tapi lama-kelamaan mereka dipandang sebagai bagian dari orang Indonesia biasa. Hingga saat ini menurut Ineke van Kessel hanya tinggal satu keluarga dari prajurit Afrika yang ada di Purworejo.

Ketika Indonesia merdeka dan KNIL dibubarkan, kebanyakan memilih pindah ke Belanda. Walau semua itu terjadi jauh di masa lalu, Ineke van Kessel berharap ada yang berminat membaca buku ini. Sejarah yang meliputi berbagai segi, tidak semuanya bagus. Jarang ada orang tahu bahwa dalam sejarah Indoneisa ada keterlibatan orang-orang Afrika. Kita semua tahu dalam sejarah Indonesia ada kehadiran orang-orang Arab, orang-orang Cina, tapi kehadiran orang-orang Afrika? Menarik untuk mengetahui sejarah kosmopolit, apapun peran mereka dalam sejarah Indonesia.

Sumber: https://edukasi.kompas.com/read/2011/09/30/11065488/quotlondo.irengquot.dari.afrika.bukan.ambon

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

For security, use of Google's reCAPTCHA service is required which is subject to the Google Privacy Policy and Terms of Use.

If you agree to these terms, please click here.

Translate »