Indonesia Timur Tempo Doeloe

Indonesia Timur Tempo Doeloe

Handoko Widagdo
Kontributor indonesiana.tempo.co


Perjalanan ke pulau-pulau di Nusantara sangat didambakan oleh orang-orang Eropa di abad ke-16 sampai abad ke 20. Perjalanan yang dilakukan dengan kapal laut yang penuh tantangan untuk mendapatkan kekayaan dari bisnis rempah-remah. Perjalanan ke Nusantara oleh orang Eropa juga diikuti dengan keyakinan untuk menyebarkan kabar baik (Agama Kristen). Selain itu, upaya untuk meneliti, khususnya tumbuh-tumbuhan yang ada di Nusantara dan berbagai sumber alam lainnya juga merupakan motivasi untuk menuju Nusantara. Namun perjalanan tersebut juga penuh bahaya.

Asal Kapten Garcia yang memulai armada Portugis mencapai Maluku pada tahun 1511, berbondong-bondong kapal-kapal Eropa mengunjungi Nusantara. Pala, cengkeh, lada dan bunga lawang adalah rempah-rempah yang saat ini lebih mahal dari emas. Itulah tujuan para pengusaha dan orang Eropa yang membiayai perjalanan kapal-kapal ke Nusantara. Semangat untuk menyebarkan agama Kristen (Katholik dan Protestan) yang saat itu menggebu di Eropa ikut menyemangati perjalanan kapal ke timur. Selain itu pelayaran ke Nusantara juga digunakan untuk pengobatan tumbuhan, yang mungkin bisa menjadi bahan obat. Buku ini memuat catatan dari berbagai pelurusan dengan berbagai tujuan tersebut.

Persaingan kerajaan-kerajaan kecil dan masyarakat lokal untuk membuat para pelayar Eropa sebagai sekutu banyak terjadi di Maluku. Antonio Galvao diterima oleh Sultan Ternate untuk membersihkan wilayahnya dari serangan Belanda pada tahun 1536 (hal. 3). Kapal Francis Drake misalnya dicegat oleh bangsawan Ternate saat akan berlayar ke Tidore (hal. 10). Kapal Inggris ini dibujuk untuk bersekutu dengan Kesultanan Ternate. Kapal-kapal ini kemudian berbelok dan dijamu oleh Sultan Ternate pada tahun 1579. Hal yang sama dialami oleh Thomas Forrest di Raja Ampat. Saingan Sultan Bacan memberikan informasi yang berbeda tentang Papua Nugini (hal. 68). Walter Lennon mengisahkan Sultan Nuku dari Tidore mengajak pasukan Inggris bersekutu dengan mereka untuk melawan Belanda pada tahun 1796 (hal. 110). Sultan Ibrahim (Nuku) mengaku sebagai calon penguasa Ternate. Sementara itu wilayah Maluku, yaitu Ternate, Tidore, Seram berada dalam kekuatan Sultan Saidul Jehad, paman dari Sultan Nuku yang bertahta di Tidore. Owen Stanley mendapat permintaan dari salah satu pemimpin di dekat pelabuhan Dobbo untuk membantunya dalam kelompok lain (hal. 131).

Meski negara-negara bermitra saling bermusuhan, namun di permukaan, ada beberapa yang saling memberikan pertolongan. Demikian direktori dengan penduduk lokal. Suasana saling menuntut atas wilayah oleh negara-negara Eropa membuat pelayaran semakin berbahaya. Mereka bisa saling serang jika bertemu di laut, atau saat kapal mereka merapat di pulau yang sudah dikuasai oleh negara lain. Peperangan khusus terjadi antara Belanda dengan Portugis dan Belanda dengan Inggris. Suasana ini membuat para awak armada menjadi sangat hati-hati untuk mencari pertolongan, meskipun kapalnya rusak, para awaknya sakit, atau sedang mendapat ketidaknyamanan bahan pangan. Namun banyak kisah dalam buku ini menunjukkan sesuatu yang penting.  

Rombongan Kapten William Blake, armada Inggris yang kapalnya dibajak oleh anak buahnya, dibaca oleh Gubernur Belanda di Kupang, meskin sang Gubernur sedang dalam keadaan sakit keras (hal 76). Saat ini sedang sedang berjuang keras dengan belanda untuk memperebutkan wilayah Maluku. Demikian juga dengan Louis de Bougainville yang terjadi di Pulau Buru karena bangunnya sedang sakit dan kelaparan. Armada Inggris ini diterima dengan baik oleh aturan Belanda yang ada di Pulau Buru (hal. 31).

Keramah-tamahan penduduk lokal dan banyak lainnya. Seorang pangeran bernama Kaitji Rade menerima dengan pasukan yang ramah Kapten Antonio Galvao (hal 3). Pasukan David Woodard memegang dengan penuh kebebasan di sebuah kampung di dekat Donggala Sulawesi (hal 87).

Pada abad 16-20, perkembangan Islam dan Kristen sangat pesat di Nusantara. Islam bahkan lebih awal menyebar di Nusantara. Laporan-laporan yang dimuat dalam buku ini menunjukkan bahwa para ulama dari negeri Arab sudah banyak mengajar agama Muhammad di wilayah timur Indonesia. Para penyebar agama Islam ini pada umumnya ramah bagi para pendatang Eropa. Beberapa dari mereka sebagai wakil Kerajaan Inggris. Catatan Francis Fletcher, seorang pendeta di kapal Francis Drake. Haji dari Mekah menjadi pendatar dengan penduduk lokal di Maluku. Demikian juga dengan catatan Domingo Navarrete, seorang biarawan Katholik yang terdampar di Makassar. Dominggo bahkan bercerita tentang pertemuan untuk membahas tentang Muhammad, saat salah seorang Portugis Katholik mengatakan bahwa dia seperti hidup di neraka. Alih-alih adat, para pemimpin lokal di Makassar bahkan tidak mengambil tindakan terhadap orang-orang tersebut, meskipun sangat menyingungnya (hal 28). Thomas Forrest juga melaporkan Tuan Haji yang sangat membantu bernegosiasi dengan masyarakat yang menganut agama Muhammad yang menahannya (hal. 64). DH Kolff melaporkan kebaktian Jemaat Kristen di Aru yang sangat meriah (hal. 117), dan minat penduduk sekitar Pulau Aru untuk memeluk agama Kristen sangat tinggi (hal. 121). Owen Stanley menemukan jemaat di sekitar Pantai Dobbo yang gerejanya rusak (hal. 132) dan di Pulau Kisar (hal. 143). Thomas Forrest juga melaporkan Tuan Haji yang sangat membantu bernegosiasi dengan masyarakat yang menganut agama Muhammad yang menahannya (hal. 64). DH Kolff melaporkan kebaktian Jemaat Kristen di Aru yang sangat meriah (hal. 117), dan minat penduduk sekitar Pulau Aru untuk memeluk agama Kristen sangat tinggi (hal. 121). Owen Stanley menemukan jemaat di sekitar Pantai Dobbo yang gerejanya rusak (hal. 132) dan di Pulau Kisar (hal. 143). Thomas Forrest juga melaporkan Tuan Haji yang sangat membantu bernegosiasi dengan masyarakat yang menganut agama Muhammad yang menahannya (hal. 64). DH Kolff melaporkan kebaktian Jemaat Kristen di Aru yang sangat meriah (hal. 117), dan minat penduduk sekitar Pulau Aru untuk memeluk agama Kristen sangat tinggi (hal. 121). Owen Stanley menemukan jemaat di sekitar Pantai Dobbo yang gerejanya rusak (hal. 132) dan di Pulau Kisar (hal. 143).

Nama-nama Tercatat-nama Wallace, Nikolai Miklouho-Maclay, Bank Joseph, David Nelson, Henry Forbes dan opera Anna Forbes adalah nama-nama kaum naturalis yang ikut dalam pelayaran untuk menyebutkan tumbuhan yang ada di Nusantara. Deskripsi tentang berbagai tanaman yang dihasilkan oleh mereka. Wallace biasanya membuat otak lebih dari apa yang telah ditemuinya dalam kunjungannya ke Nusantara. Wallace menulis: “Jika kita, emgalihkan perhatian pada kepulauan lain di Nusantara, kita akan menemukan seluruh pulau mulai dari Sulawesi dan Lombok sampai kea rah timur menunjukkan kemiripan dengan Australia dan Papua Nugini, juga kepulauan di bagian Barat dengan Asia. 150). Pendapat Wallace ini masih digunakan sampai sekarang untuk menjelaskan suku flora-fauna di bagian barat dan timur Indonesia. Nikolai mendeskripsikan dengan sangat sangat menghargai orang-orang Papua dan menggugat pengelompokan ras a la barat (hal. 168). Forbes membuat koleksi flora yang sangat banyak membuat tayangan tentang penyakit-jenis tumbuhan tersebut.

Selain dari para pelayar Eropa, wilayah timur Nusantara sudah berdagang dengan orang-orang Bugis, Makassar dan China. Banyak tulisan dalam buku yang melaporkan perdagangan penduduk lokal dengan orang-orang Bugis, Makassar dan Cina. Tidak ada laporan tentang peperangan penduduk. Sangat-ayat paracer diucapkan kepada orang lokal tak bisa dipercaya. Namun banyak sekali laporan peperangan antara penduduk lokal dengan bangsa-bangsa Eropa.

Di abad 20, perjalanan ke pulau di Indonesia Timur lebih banyak tujuan untuk berwisata. W. Douglas Burden mengisahkan kunjungannya ke Pulau Komodo pada tahun 1926. Foto-foto yang dihasilkannya dimuat dalam Majalah National Geography edisi Agustus 1927 (hal. 217). Theodora Benson memasukkan perjalanan wisatanya ke Sulawesi pada tahun 1968. Theodora secara khusus menguraikan orang Toraja yang dikunjunginya (hal 229).

Harry Wilcox (Toraja), Maslyn Williams (Sulawesi), Wyn Sargent (Puncak Jaya), Marika Hanbury Tenison (Pulau Seram), Shirley Deane (Ambon) melakukan perjalanan ke timur pasca perang dunia II. Mereka mengisahkan alam, masyarakat dan bagaimana kemerdekaan Indonesia di masyarakat yang dikunjunginya. Menariknya, pengelana ke timur pasca perang dunia II sudah lebih banyak perempuan.

Bagian akhir dari buku ini menceritakan catatan yang berisi tentang perang. W Tampil keren tentang perang antara orang Bali dan orang Sasak di Lombok. Bernard Callinan dan Robert Domm menulis tentang Timor Timur. Sedangkan Herlina menulis tentang perang perebutan Irian Barat.

Tulisan yang dikumpulkan dalam rentang 500 tahun ini (dari 1544-1992) menunjukkan bahwa wilayah timur Indonesia masih tidak banyak berubah, kecuali Sulawesi. Era kejayaan rempah-rempah tak mampu mengubah wajah Indonesia Timur. Era yang berbeda-beda yang memiliki potensi yang sangat besar untuk membuat wilayah ini menjadi maju dan modern. Namun perang yang terus menerus dan persaingan antar negara Eropa telah membangun kembali wilayah ini. Di era Republik Indonesia, bagian timur negeri ini juga seakan tidak memperhatikan. Di jaman ini, dimana Papua masih memiliki kekayaan alam. Pulau-pulau di Indonesia Timur memiliki pantai-pantai yang indah yang sangat potensial untuk wisata bahari. Semoga kaya raya yang bisa menjadi pemacu pembangunan yang menggerakkan masyarakat di Indonesia Timur.

Sumber: https://indonesiana.tempo.co/read/78671/2016/06/26/handokowidagdo/indonesia-timur-tempo-doeloe

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>