Cahaya Pertama Penerang Sumatra

Cahaya Pertama Penerang Sumatra

Basyral Hamidi Harahap

Pemerhati masalah sosial budaya Mandaling, penulis buku Greget Tuanku Rao


William Marsden telah melemparkan cahaya ke atas Pulau Sumatra dengan The History of Sumatra, sehingga semua tampak terang di pulau yang sangat penting itu. Itulah pernyataan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles pada 24 April 1813 ketika membuka diskursus dalam acara HUT XXV Bataviasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (The Society of Arts and Sciences in Batavia).

William Marsden (1754-1836) adalah seorang sejarawan Inggris terkenal, berdarah Irlandia kelahiran Dublin. Ia anak laki-laki keenam dan anak kesepuluh dari John Marsden, direktur Bank Nasional Irlandia (The National Bank of Ireland). Ia juga ahli bahasa, pakar numismatik dan pelopor ethnohistory Hindia Timur. 

Marsden memang seorang yang fenomenal melalui bukunya The History of Sumatra. Edisi pertama buku itu terbit di London 1783, kedua 1784 dan ketiga 1811. Selain menulis The History of Sumatra, Marsden juga menulis dua buku penting lainnya, A Grammar of Malayan Language dan A Dictionary of the Malayan Language yang diterbitkan tahun 1812 di London. C.P.J. Elout –sebelum menjabat Residen dan Komandan Militer Riau kemudian Residen dan Komandan Militer Pantai Barat Sumatera– telah menerjemahkan kedua buku ini ke dalam bahasa Belanda, masing-masing diterbitkan tahun 1824 dan 1825 di Haarlem. 

Karya Marsden yang lain adalah Catalogue of Dictionaries, Vocabularies, Grammars and Alphabets (terbit 1796), Numismata Orientalia (terbit di London 1823-1825), serta beberapa makalah yang dimuat dalam Philosophical Transactions, dan Archaelogia. Marsden juga menerjemahkan kisah perjalan Marco Polo di bawah judul Travels, terbit 1818. 

Marsden kembali ke Inggris 1779. Ia menghadiahkan koleksi koin dari negeri timur kepada The British Museum dan koleksi buku-buku dan manuskrip dunia timur kepada King’s College, London. Koleksi yang sangat berharga itu kini disimpan di perpustakaan School of Oriental and African Studies, University of London.

Walaupun banyak karya tentang Sumatra, namun karya klasik Marsden itu tetap istimewa. Nama Marsden melambung dan dikenang tak lain karena The History of Sumatra yang telah menjadi rujukan sejagat.

Karya Marsden itu begitu memukau. Sudah 225 tahun–terhitung dari edisi pertama 1783– embaca seantero dunia menikmati karya klasik yang monumental itu. Karya Marsden itu sudah teruji dan terbukti sebagai –sekali lagi meminjam Raffles– “cahaya … sehingga semua tampak terang di Pulau Sumatera”. Sebab itu pula Oxford University Press mencetak ulang The History of Sumatra pada 1966. Sejarawan kawakan Inggris, John Bastin dari School of Oriental and African Studies, bertindak sebagai editor sekaligus menulis pengantar. Sekarang orang ramai dapat menikmati terjemahan bahasa Indonesia buku ini. 


Karya Ensiklopedik

Pada usia 16 tahun Marsden menjadi pegawai Kongsi Dagang Inggris, East India Company (EIC). Kemudian pada usia 17 tahun, 1771, ia mengikuti jejak abangnya, John Marsden (1746-1786) yang menjadi dokter di Lais, Bengkulu. William Marsden ditempatkan di Bengkulu sebagai sekretaris EIC. Abangnya, dokter John Marsden, adalah salah seorang narasumbernya. Saat itulah ia mulai mengerjakan proyek ambisiusnya yang bersifat ensiklopedik mengenai Sumatera, pulau yang pada zamannya masih begitu pekat diliputi misteri.

Cara kerja Marsden tak ubahnya seorang wartawan yang melakukan liputan pandangan mata sekaligus membuat laporan investigasi yang terinci dan mendalam. Menurut Marsden, kebanyakan orang Sumatra tidak pernah melihat laut, sehingga mereka tidak menyadari bahwa tempat tinggalnya adalah pulau. Marsden sendiri menjelajah kawasan pantai dan pedalaman Sumatra. Ia menceritakan keadaan pulau-pulau kecil di pantai barat dan pantai timur Sumatra. Sebab itu, buku ini boleh disebut sebagai buku sejarah ilmu bumi sosial dan ekonomi yang akurat. 

Marsden bercerita tentang karakter orang Sumatera, mulai dari Aceh di ujung utara sampai ke Lampung di selatan. Laporannya cukup terinci tentang berbagai tradisi dan hukum adat di pulau itu. Ia mencatat berbagai kearifan lokal, ekologi, cuaca, sistem angin, sungai, pelabuhan di muara sungai, dataran, bukit, gunung, flora beragam-ragam buah, tanaman obat dan aneka ragam bunga. Digambarkannya berbagai fauna, mulai dari serangga, kura-kura sampai pada burung walet dan sarangnya yang lezat serta berkhasiat. Selain itu ia memaparkan fakta sejarah, kehidupan masyarakat, arsitektur tradisional dan pakaian penduduk Sumatera.

Menurut Marsden, Sumatra memiliki potensi ekonomi sangat kuat, di antaranya komoditi perdagangan baik hasil hutan dan bahan mineral, maupun rempah-rempah yang sejak zaman purbakala menjadi komoditi andalan. Marsden juga mengulas cara-cara bercocok tanam, ekstensifikasi pertanian dan perkebunan penduduk, termasuk cara-cara menangkal dan mengusir hama tanaman. Marsden pun memberikan perhatian khusus pada tradisi, hukum, bahasa, aksara, kebudayaan, penduduk asli Pulau Sumatra dan berbagai masalah yang timbul dalam kontak dengan orang asing.
Marsden menyebutkan, emas berkualitas paling tinggi terdapat di Natal dan Mukomuko. Timah di Bangka diekspor ke Cina. Barang dagangan utama di pulau itu adalah tembaga, besi, belerang, salpater, tripang, lemak lebah, gading, dan telur ikan. Menarik sekali, harga sarang burung layang-layang yang putih bening diekspor ke Cina. Harganya setara dengan harga perak dengan berat yang sama.

Marsden menyebutkan, sumbangan besar saudagar Arab yang menyebarkan agama dan tamadun Islam di daerah ini di antaranya adalah memperkenalkan kalender yang menghitung hari dari peredaran bulan. Sedangkan penduduk asli hanya mengandalkan peredaran musim. 

Begitu rincinya, Marsden menjabarkan ihwal setiap orang tua di Sumatra adalah tabib. Mereka melakukan terapi air dan terapi panas matahari. Terapi paling unik adalah pengobatan penyakit gila. Penderita diterapi dengan api. Pasien dibakar di pondok setinggi telinga, kalau pasien berhasil meloloskan diri, berarti ia akan segera sembuh.

Pembicara Ulung

Menurut catatan Marsden, di antara bahasa lokal Sumatra yang terkemuka adalah bahasa Batak, Rejang dan Lampung. Ada kemiripan antara aksara suku Batak dan Rejang. Satu pengecualian terjadi di Aceh, bahasanya sangat berbeda dengan bahasa Melayu. Aceh lebih banyak mengadopsi karakter Arab. Mereka menyadari hal itu. Mereka pun tidak banyak mengklaim originalitasnya. 

Paparan tentang Aceh disuguhkan oleh Marsden sepanjang 44 halaman atau 10% dari seluruh halaman buku ini. Lantas 36 halaman tentang Minangkabau dan 26 halaman tentang Batak. Paparan yang terbanyak adalah tentang Bengkulu dan wilayah sekitarnya. Wajar, karena Marsden berdiam di Bengkulu, sehingga lebih banyak mendapat informasi tentang daerah itu. 

Menurut Marsden, orang Sumatera umumnya adalah pembicara yang ulung. Kemampuan berorasi tampaknya adalah bawaan mereka. Pantas saja, tidak ada pengacara dalam proses peradilan. Kemampuan ini ditanamkan sejak remaja pada anak-anak mereka dengan cara membiasakan anak-anak mereka duduk mendengarkan perdebatan di lingkaran orang-orang dewasa. Anak-anak kecil ini memiliki hak berbicara yang bahkan sama dengan hak bicara kakeknya sendiri. Mereka berhak dan mampu memberikan pendapat di depan publik. 

Beberapa wilayah terpenting di Tanah Batak menurut Marsden adalah Angkola yang dihuni lima suku, Mandailing dihuni tiga suku, Toba dihuni lima suku, Padang Bolak, Silindung dan Singkil. Contoh aksara Batak (baca: Mandailing) yang dicetak oleh Marsden, merupakan yang paling awal dalam sejarah aksara tersebut. Menarik untuk disimak, bahwa menurut Marsden penduduk Pasaman adalah orang Batak (baca: Mandailing) yang telah menganut agama Islam dan orang Melayu. Marsden juga melaporkan keadaan pelabuhan Natal, dan pelabuhan di muara sungai di pantai barat Mandailing itu, seperti Tabuyung dan Kunkun. Tidak terkecuali, disinggung juga cerita tentang kanibalisme di wilayah budaya Batak. 

Marsden mulai memasuki Tapanuli pada 21 Juni 1772 dengan naik perahu ke muara Sungai Pinangsori, terus ke Lumut. Marsden dan rombongan disambut meriah dengan 30 kali tembakan salvo. 

Pria bule yang belia, yang fasih berbahasa Melayu, tampan, berperawakan atletis, berkumis tipis dengan mengenakan Topi London itu, tiba di Hutaimbaru, pusat Angkola, pada 5 Juli 1772. Ia dijemput dan dielu-elukan oleh putera Kuria Hutaimbaru bersama 30-40 orang hulubalang bersenjata lembing dan senapan locok. Sepanjang jalan para penjemput itu memeriahkan suasana dengan memukul gong dan menembakkan bedil ke udara. Tiba di Hutaimbaru mereka disambut dengan upacara yang semarak. Marsden dengan senang hati menerima undangan Kuria Hutaimbaru untuk bermalam di kampung itu. Pada 7 Juli 1772, putera Kuria Hutaimbaru dengan pasukannya mengawal Marsden meneruskan perjalanan menuju Batang Onang di Barumun. 

Melalui rute yang lain, Marsden tiba kembali di pantai barat pada 22 Juli 1772. Begitulah rata-rata sambutan orang Sumatera kepada Marsden. Rahasia sukses Marsden antara lain adalah penguasaan bahasa Melayu, pemahaman berbagai bahasa daerah dan etika di Pulau Sumatera, dan sudah barang tentu sikapnya yang simpatik tanpa pernah melanggar nilai-nilai kepatutan.

Terowongan Waktu

Bagi mereka yang berasal dari Sumatra, buku Sejarah Sumatra ini dapat menjadi rujukan sejarah kampung halamannya. Apalagi, Marsden suka menyebut nama orang yang barangkali adalah tokoh dalam daftar silsilah keluarga mereka. Sedangkan bagi mereka yang bukan orang Sumatra, tapi ingin mengetahui ihwal Sumatra secara cepat dan padat, maka buku ini adalah pilihan yang tepat. Laporan Marsden yang inspiratif sangat berguna bagi mahasiswa jurnalistik, pemerhati pembangunan pedesaan, antropolog, sosiolog, ahli hukum, sejarawan dan peminat laporan perjalanan.

Ada satu kekurangan buku ini. Kata Sumatra dalam buku ini ditulis tanpa huruf “e” karena mengikuti buku aslinya. Namun, edisi bahasa Indonesia buku Marsden ini benar-benar telah ditangani sedemikian rupa. Alhasil, gaya jurnalistik, citra kesejarahan dalam laporan Marsden tampil sangat kuat. Pemilahan topik di bawah sub judul memudahkan pembaca mencerna penuturan Marsden. Bahkan menjadi semakin afdol, karena penerbit mengambil inisiatif memasukkan banyak gambar sezaman yang tidak ada di dalam buku aslinya sendiri. Ini bukan saja akan menguatkan imajinasi historis pembaca, tetapi lebih jauh lagi, buku ini mampu membawa pembaca memasuki terowongan waktu untuk berkelana di Pulau Sumatera dalam suasana abad ke-18.

Sumber: http://www.basyral-hamidy-harahap.com/

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>