Betawi Tinggal Folklor

Betawi Tinggal Folklor

Ahmad Baihaki
Kontributor kumparan.com


Saya lahir di tahun 1980 di daerah Kebon Jeruk, yang saat itu masih banyak etnis Betawi. Kebon Jeruk dipenuhi pohon-pohon di kebun-kebun yang masih luas. Lampu jalan belum banyak dan malam hari masih gelap sehingga mudah melihat hamparan bintang.

Saat terang bulan biasanya kami bermain di luar bersama anak-anak lainnya sementara orang tua kami berkumpul dan bercakap-cakap. Galaasin, ‘tak benteng, ular naga, cabut ubi, tebak-tebakan, dan lain sebagainya.

Beberapa tahun kemudian kebun-kebun sudah berubah menjadi permukiman dan banyak pendatang. Permainan tradisional (Betawi) masih terus berlanjut seperti ‘tok kadal hingga berbalas pantun jenaka.

Pantun digunakan untuk menentukan pemenang setelah kami lelah bermain dan sekaligus media kata-kataan. Yang kehabisan pantun dia lah yang kalah.

Memori indah ini terkuak kembali saat saya membaca Folklor Betawi: Kebudayaan & Kehidupan Orang Betawi (Abdul Chaer). Penulis membawa pikiran saya menerawang melintasi waktu dan zaman ketika kehidupan sangat sederhana, bahagia, dan Jakarta yang beda.

Sesuai dengan judulnya, buku ini berisikan folklor atau adat-istiadat yang diturun-temurunkan ke generasi berikutnya, dan biasanya tidak dibukukan. Namun, dalam hal ini, beruntung sekali seseorang membukukan folklor Betawi yang sudah hampir punah dan bahkan sebagian sudah tidak eksis.

Buku ini memiliki arti penting bagi saya yang sedang menapaki jati diri saya kembali. Di sini diuraikan siapa dan apa itu orang Betawi: cara hidup, adat-istiadat, kesehari-harian, bahasa, hingga ke hal kecil seperti perabot rumah tangga.

Yang membuat saya terkagum-kagum adalah kemampuan Chaer dalam merincikan topik yang dibahas hanya dalam 306 halaman. Padahal ada 20 bab dalam buku yang membahas semua folklor lisan, semi-lisan, dan non-lisan.

Saking detailnya saya baru tahu gelar saya adalah engkong samping setelah minggu lalu dianugerahi cucu pertama dari ponakan saya. Sehari sesudah kelahirannya, saya mencari-cari di Internet sebutan yang pas untuk saya dalam adat Betawi, tanpa hasil.

Buku ini menyajikan banyak bahasan mengenai tata bahasa dan juga sastra Betawi. Bahkan prosa-prosa berupa cerita tradisional, legenda dan asal-usul nama tempat pun dituliskan dengan rapi dan kepiawaian seorang ahli bahasa. Benar-benar jamuan nikmat bagi pencinta bahasa.

Ada banyak kumpulan cerita tradisional yang ditujukan untuk membentuk budi pekerti anak. Dari kumpulan ini orang tua bisa membangun lagi berbagai kisah turunan untuk anak-anaknya. Saya rasa cukup penting untuk mengimbangi cerita-cerita yang dulu saya dapatkan dari kebudayaan lain seperti anime atau komik barat.

Bagian asal-usul nama tempat di Jakarta juga salah satu bagian yang paling menarik karena memberikan sedikit sejarah pemberian nama. Chaer sendiri menganggap ini sebagai bagian folklor yang berarti tidak (semua) dibukukan dan pasti ada beberapa versi. Namun pembentukan dari sisi linguistik seorang Chaer lah yang sejauh ini lebih masuk akal ketimbang penjelasan lain.

Yang membuat saya terbahak-bahak adalah bagian humor terutama plesetan ayat Al Quran untuk menjadi pantun jenaka. Dulu kami berbalas humor ini untuk mengurangi rasa takut di gelapnya jalan sepulang dari masjlis ta’lim (juga menghindari amarah Ustad sekiranya dia dengar). Contoh dari buku ini:

Alhakumuttakasur ….. ‘Biar gak pake selimut yg penting pake kasur’
Fa’ala ya’fulu fa’lan …. ‘Pala lu ngilu kena kepelan’
Allahuma antas salam ….. ‘Allahuma lantas jalan’ (buat yang habis sholat tidak berdoa)

Buku ini mengingatkan saya bahwa beruntungnya saya terlahir sebagai Xennial (orang yang terlahir antara generasi X dan millenial). Saya merasakan nikmatnya permainan dan hal-hal tradisional sebelum menceburkan diri ke dunia digital. Tidak seperti anak Jakarta sekarang yang jarang atau mungkin tidak pernah mencicipi permainan tradisional atau bahkan bermain di luar rumah.

Sekaligus buku ini membuat saya sedih. Dari kecil saya selalu mendengar kebudayaan dan orang Betawi makin punah. Kenyataannya di Jakarta sudah jarang sekali kita melihat unsur-unsur dalam buku ini.

Tentunya sia-sia melawan modernisasi dan kemajuan zaman. Namun, buku ini dapat mengingatkan kembali kita kepada akar dan asal-muasal kita. Mengingatkan kita bagaimana asas hidup jaman dulu yang non-materialistis, tanpa pamrih, dan bergotong-royong.

Semua terdengar klise dan seperti penggalan dari buku PPKn tapi, jika kita renungkan sejenak, kapan terakhir kali kita berbuat dan berpikir seperti itu?

Beruntung sekali masyarakat Betawi memiliki seorang Chaer yang mendokumentasikan kebudayaan dan kehidupan mereka. Saya berharap folklor Betawi ini masih dapat diteruskan ke generasi Betawi sekarang dan mendatang. Pun walau hanya sebait pantun, senandung lagu jali-jali, sepenggal cerita sang kancil, atau sepotong wajik.

Pada hakikatnya, buku ini juga cocok untuk warga Jakarta lainnya terutama yang lahir dan besar di sekitar ‘80an atau sebelumnya. Buku ini akan membangkitkan nostalgia Anda dan mengerti Jakarta, bahasa Jakarta yang Anda pakai sehari-hari, asal-muasal tempat Jakarta, serta kisah universal yang bisa Anda ceritakan kepada anak cucu Anda.

Sumber: https://kumparan.com/aki-baihaki/betawi-tinggal-folklor

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>