Paradoks Estetik Alam dalam Puisi Sebuah Meta-Ecokritik

(Apresiasi Terhadap Puisi-puisi Sitor Situmorang dalam  ‘Angin dan Air Danau Toba’)

Embun Kenyowati E.


Tulisan ini menjelaskan paradoks estetik alam dalam puisi, sebagai bentuk ecokrtik dan dikaitkan dengan karya Sitor Situmorang, dalam buku kumpulan puisi, “Angin dan Air Danau Toba.” Ecokritik adalah kajian sastra terkait dengan lingkungan hidup yang salah satunya adalah alam.. Namun dengan perkembangan alam yang semakin mengalami kerusakan, habisnya sumber yang tidak dapat diperbaharui, sampah yang dihasilkan manusia, dan berbagai kegiatan manusia yang awalnya dianggap kemajuan peradaban, dan berbagai kerusakan lainnya, tidaklah cukup membahas estetik alam dari satu sisi. Untuk itu tulisan ini berjudul : Paradoks estetik Dalam Puisi : Sebuah Meta-ecokritik.

ECOKRITIK dan META-ECOKRITIK

Tulisan ini tidak bermaksud menggemborkan lagi kerusakan alam yang begitu nyata. Membaca datanya, apalagi melihat faktanya tentu sangat mengerikan. Para peneliti, para aktivis, LSM, korporasi, dan pemerintah telah melakukan hal tersebut untuk mengingatkan, dan mendidik, serta bertindak, tinggal kita sebagai manusia, individu atau kelompok,  menjalankan dan menepatinya. Siapapun telah ikut berteriak menyerukan ajakan untuk melindungi alam dan menjaganya. Tetapi kenapa alam semakin rusak? (Lihat, Al Gore, Pengantar Muchtar Lubis, 1994)

Dalam dunia sastra, khususnya puisi, kreativitas penciptaannya tidak lepas dari alam sebagai sumber inspirasi. Alam yang dimaksud adalah alam dalam konteks spiritualitasnya, sebagai kosmos, maupun alam sebagai bagian dari bumi yang kita huni,dalam bentuk materialnya, serta alam yang dekat dengan kita dalam kehidupan sehari-hari : tempat tinggal, taman, kebun, sawah, daratan, hutan, pegunungan, lautan dan segala isinya, termasuk tempat wisata. Pada umumnya dan pada awalnya, ketika kita mendengar kata ‘alam’ yang segera terbayang adalah keindahannya, kesegarannya, kehijauan dan kebiruannya, warna-warni bunganya, segar aliran air terjunnya, keasliannya, kemisteriusannya, kealamiahannya. Namun benarkah demikian? Memang dalam era tehnologi informasi, informasi tentang alam luar biasa membludak, tetapi apakah yang dikisahkan dan divisualisasikan adalah alam seperti gambaran awal kita? Ini pertanyaan pertama tentang alam terkait keindahan dan kerusakannya.

Bagaimana karya sastra, khususnya puisi menarasikan alam? Bahasa telah menggambarkan alam dan lingkungan selama ini, dengan diksi dan metafora yang menimbulkan imaji yang indah. Istilah ini dinamakan puitik ambiensi ( Morton : ambience poetics),  sebagai bentuk ecomimesis. Ecomimesis adalah konsep Timothy Morton yang menjelaskan bagaimana cara kerja kreativitas penciptaan karya sastra tercait alam dan lingkungan hidup. Ditambah lagi, teori-teori estetika alam, yang mencoba mengajak kembali untuk menikmati alam, setelah teori estetika selama ini dikuasai oleh seni dalam modernitas selama beberapa abad.

Kenapa paradoks? Dimana letak paradoksnya? Paradoks adalah suatu pertentangan pernyataan yang keduanya dapat sama-sama benar. Dalam logika seringkali juga disamakan dengan kontradiksi yang maknanya sama. Pertama, dari pengertian estetika itu sendiri telah terdapat paradoks yaitu makna estetik yang hanya dikaitkan dengan keindahan dalam arti objeknya ataupun pengalaman subjeknya, yang melupakan makna estetik itu sendiri sebagai pengetahuan inderawi, sebagai persepsi inderawi, perasaan yang ditimbulkan efek nilai yang dikenakan pada peristiwa tersebut. (Baumgarten, 1750 : sciencia cognitiae). Dan dikaitkan dengan nilai yang berciri tidak pasti (dilawankan dengan ilmu pengetahuan). Estetik adalah konsep paradoksal. Maka ketika diterapkan sebagai ecomimesis terhadap alam atau lingkungan hidup atau lingkungan budaya dalam kreativitas penciptaan puisi, maka pengalaman subyek atau kualitas obyek akan berada dalam dua tataran yang keduanya dapat benar dan berlaku benar. Kita cenderung memilih satu sebagai kebiasaan cara berpikir kita yang dikotomis dengan menghierarkikan yang satu lebih tinggi dari yang lain. Kebiasaan ini telah meninggalkan jejak ontologi metafisis (dalam realitas). Salah satu nilai yang dihasilkan oleh proses estetik adalah keindahan, ini adalah paradoks kedua. Keindahan sangat problematik, ada pada subyek atau ada pada kualitas obyek. Predikat untuk keindahan sendiri bisa apa yang disebut sebagai menghibur, menyenangkan, menarik, mengganggu, kudus, biasa, spiritualistik ataupun duniawi. (Scruton, Beauty, 2009), sementara dari sisi pengalaman manusia yang tertuang dalam puisi juga terdapat kontradiksi, begitu subjektif sehingga penggambaran alam begitu indah dan imajinatif terutama bagi pembacanya. Anda tidak perlu melihat pantai indah di Bali yang sebagaian besar sudah dimiliki korporasi, dengan menggambarkan selembar daun jatuh ketika anda melihatnya saat sendirian, juga akan tertangkap ‘keindahan’nya. Ingat saja puisi Sitor Situmorang : Malam Lebaran/Bulan di atas kuburan. Siapa yang tidak bilang ini luar biasa estetik, dari berbagai arah? Atau potongan haiku ini : / Seekor katak di tepi kolam/ plung / bukankah ini juga indah? Atau anda menganggap tidak indah? Pengalaman bisa indah dan tidak indah, berbeda  meski dari objek yang sama. Atau sama indah atau sama tidak indah dari objek yang berbeda. Inilah kekayaan pengalaman estetik (Baumgarten : richness of imajination, and probable).

Dalam pada itu penggambaran alam dalam puisi terkait aliran Romantik dalam sejarah pemikran dan sastra, yang meskipun pada kelahirannya sebagai gagasan dan passion melawan penggunaan rasio yang merendahkan kemampuan kognitif dan intelegensia manusia lainnya, namun mengakibatkan lahirnya suatu pandangan yang saat ini perlu ditinjau kembali, jika mengikuti pemikiran Morton. Prinsip Romantisisme yang mengunggulkan perasaan, imajinasi natural, dan spirualitas manusia dalam kaitannya dengan alam, telah melahirkan pandangan nostagik terhadap alam yang menjadikan kita tidak mengeceknya dalam realitas kekinian. Namun penulis masih memikirkannya kembali terkait sejarah puisi. Jika kita mengkritik puisi Romantik karena melalaikan kita atas kerusakan alam, kita akan kehilangan harta dengan pandangan tersebut. Dan jika ini dikaitkan dengan puisi, maka semua puisi menjadi indah pada dirinya dan pada imajinasi pembacanya.

Paradoks keempat adalah apakah puisi Romantik lalu bermasalah? Ini seperti pertanyaan apakah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi salah? Jika kita lihat kerusakan alam dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan kemajuan oleh teknologi. Terkait teknologi informasi komunikasi (ICT), yang merupakan soal aktual, bukankah sama implikasi sosialnya. Tergantung anda optimis atau pesimis, mau bekerja atau hanya mau mengkritik. Ini akan bersifat relatif dan plural tergantung konteks dan manusia sebagai pelakunya (agent). Demikian dengan sastra dan puisi. Morton dalam Ecology Without Nature, Rethinking Environmental Aesthetics, mengambil sikap seperti berikut, karena apa? “ … for it is in art that the fantacies we have about nature take shape –  and dissolve. In particular, the literatur of Romantic period, … it still influences the way in which the ecological imaginary works.” (Morton, 2007). Bagaimana dalam teori lingkungan hidup? Apakah masih mendikotomikan swallow-deep ecology? Dan apakah deep ecology lebih unggul dalam hierarki, mari membongkarnya melalui dekonstruksi Derrida, dengan menemukan makna otentik aktual di luar dikotomi tersebut. Dalam hal ini Morton mengkritik Deep ecology, dengan pertanyaannya : “How deep does deep ecology want to go?” Karena ini persoalan manusia harus mengambil jarak dengan alam, agar dapar mereflesikan secara dalam apa yang sesungguhnya sedang terjadi pada lingkungan alam dan khidupan.

PUISI-PUISI SITOR SITUMORANG DALAM “ANGIN DAN AIR DANAU TOBA”

Nah, sekarang kita berhadapan dengan puisi-puisi Sitor Situmorang. Tentang siapa dan karya-karyanya, telah begitu banyak yang  mengapresiasinya dan membahasnya, sehingga kita tinggal memilih siapa yang menjadi rujukan kita, dalam apresiasi ini. (Salah satunya : Menimbang Sitor Situmorang, 2009). Dengan mengaitkan dengan teori ecocritic seperti disampaikan di atas, dan pendekatan meta-ecokritik, kita akan menemui persoalan yang menjadi paradoks dalam estetik alam pada karya sastra khususnya puisi. Tentu puisi-puisi Sitor Situmorang membahas pengalaman manusia terkait lingkungannya, baik asal usul, adat, dan alam sekitarnya, intinya lingkungan alam dan budaya, sebagai lingkungan hidup, tetapi juga lingkungan kehidupan (Ponty : Lebenswelt), ini terkait dengan beberapa teori besar dalam filsafat seperti deteritorialisasi (Deleuze and Guattari), sense of place , dan seperti telah disebut teori dunia kehidupan fenomenologi MM..Ponty. Namun bagaimana anda melihatnya. Akan kah puisi-puisi tersebut menjadi rekaman sejarah terkait bagaimana dahulu alam sekitar danau Toba? Dan jika kita membaca puisi-puisinya sekarang, imaji seperti apa yang ada dalam jiwa dan pikiran kita. Akankah anda tetap terbuai dengan keindahan tersebut, sehingga anda melupakan bahwa telah terjadi perubahan yang nyata pada alam di Danau Toba, sehingga pada tahun anggaran mendatang,  pemerintah akan melakukan pembangunan dan perbaikan di sana dengan biaya 4 trilyun koma sekian IDR. Harus diapresiasi dan tetap harus dikritisi karena sejarah telah menceritakan bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan dan peningkatan kesejahteraan manusia dalam konteks pembangunan telah mengorbankan alam dan manusia sebagai ongkos besarnya. (Nothing lost under the sun?)

Namun apakah kita lalu tidak berterima kasih atas puisi-puisi ini, karena gagasan ecocritik yang menyerang puisi-puisi romantik seperti yang disampaikan Timothy Morton?. Ini adalah persoalan lain. Untuk itu penulis mencoba merefleksikan kembali melalui pendekatan meta-ecokritik. Meta-ecokritik mencoba merefleksikan kembali ecokritik dalam puisi, dan tidak terpaku pada pandangan seperti yang ditawarkan Morton, bahwa paradoks muncul terutama melalui karya seni, karena alasan yang telah penulis sebutkan terdahuulu. (membuai dan melalaikan sehingga tidak tahu lagi kondisi kerusakannya saat ini).

Ditambah lagi jika dikaitkan dengan era siber, era digital, era jejaring era dunia vitual yang begitu dekat dan real. Penggambaran alam lewat blog, vlog, intragram, FB dll, telah ikut membuai kita terutama melalui, smart phone, smart tourism, bahwa alam ada begitu membuai dan indah di sana dan mudah didekati, diperkuat dengan narsisme identitas.  Betapa info tentang “Negeri di atas awan” di kabupaten Lebak telah menipu terkait keindahannya. Lokasi itu bisa akan rusak sebelum bahkan ditata sebagai tempat wisata.

Puisi Sitor Situmorang,  meski tentang alam,  Danau Toba, tidak harus dikategorikan sebagai puisi Romantik, namun penggunaan alam dan nostalgia alam menjadikannya romantik, meskipun permasalahan senimannya lebih eksistensial, yang berbeda dari nuansa Romantik. Pertemuan dua aliran inilah ini lah yang menjadikan puisi-puisi ini berbeda, dan unik, khas Sitor Situmorang. Mari kita simak puisi-puisi berikut :

 

Di tepi danau

Malam itu ia genap 30 tahun

Jalan di tepi danau, sangat rukun

Kata orang : “Ia telah keliling dunia

Rantau apa yang tak dijajah

Tapi kini kembali sudah”

Hatinya : “Rantau apa yang tak dijajah

Dari cinta ke cinta

Hanya duka”

Kini kembali sudah

Binatang tertembak

Membaun jejak

Ke tempat darah pertama tersimbah

(Matinya ditetapkan di dunia lain

Di benua lain)

Tapi tak ada yang tahu

Tak pun di elu-elu

Hanya air

Berdesir

Tahu dirinya penyair.

Dari danau nelayan berseru :”Hai pemuda di tepi pantai

Bagaimana harga benang di kota kini?

Kapan kesana pulang?”

Lampunya bercermin

Kuning dingin

di sisik danau

Antara lupa dan kepingin

ada duka, ada senja

Di lembahlembah

Gelap sudah.

Dari pantai terdengar di hati

Nelayan bernyanyi

jauh sekali …..

(Angin dan Air Danau Toba, halaman 19-20)

 

Ada kegelisahan eksistensial, terkait alam dan sosial, serta adat istiadat leluhur, karena keterpisahannya dengan tempat tinggalnya, sementara tugas dan tanggung jawab adat begitu besar. Dari puisi-puisi yang ada, penulis mencoba mengkategorikannya secara sederhana menurut :

  1. Lingkungan alam dan pengalaman nostalgik
  2. Sosial dan eksistensial
  3. Batak sebagai adat dari leluhur, sebuah spiritual kosmos asali

Pada kategori 1, puisi puisi tersebut adalah : Danau; Dongeng kemarau danau Toba; Pengunungan Tapanuli;Jalan batu ke danau; Pulau Samosir; Dataran tinggi; Padang Bolak; Di tepi danau; Panorama tiga gunung; Teluk Sibolga; Pulau di atas pulau; Harianboho; Lembah Silindung; Topografi danau Toba; Sketsa sejarah geologi danau Toba; Bianglala Siguragura; Hutan Lintong; Tamasya danau Toba; Danau Toba; Balige; Kisah harimau Sumatra; Di pegunungan Tanah Karo(alam asal semula); Rekaman kasat mata  alam pegunungan (dalam 12 sajak 3 baris); Angin danau Zürich; Pusuk Buhit (simbol dan Arti); Sajak gunung Sibayak di Tanah Karo.

Kategori 2 : Si anak hilang; Matinya juara judi; UntukBunda; Pelangi sore hari si Singuragura Asahan;Upacara fondasi PLTA Tangga-Asahan;Si anak hilang; Lagu anak anak naik kereta api (versi dewasa);Lakon Paskah 1986Peristiwa di pinggir rimba.

Kategori 3 : Kuda putih SisingamangarajaMembalas surat bapak; Lagu hulubalang berangkat perang;Tortor Ugarai Ompu Raja Doli; Di kaki Pusuk Buhit I; Di kaki Pusuk Buhit II; Tari tunggal panaluan; Upacara fajar di rumah adar di musim kemarau; Dunia leluhur; Ompu Raja Bunbuna, Urat Bona Pasogit; Nommensen; Kepada Simpang Ginting dan Saleh Umar; Upacara Sulang Bao di lereng Pusuk Buhit;Silsilah; Tatahan pesan Bunda; Pertempuran Terakhir Sisingamangaraja XI.

Dari pengkategorian sederhana tersebut dapat disimpulkan bahwa betapa kuatnya hubungan antara sang penyair dengan lingkungannya, baik lingkungan alam, sosial dan budaya dalam adat dan tradisinya. Ini menguatkan asumsi penulis tentang tiga hal tersebut di atas bahwa Sitor Situmorang berciri non-deteritorialisasi, lekat dengan sense of place dan menjejaki ecomimesis alam melalui, geografi hingga angin dan air danau Toba.

Ecocritik, mengapresiasi, menganalisis dan mengkritik suatu karya terkait lingkungan dalam arti luas, bahkan ini bisa menjadi ideologi,  bisa menjadi slogan bernuansa politik demi kepentingan ekonomi, serta menjadi perayaan dan selebritas belaka. (PS : Maaf bagi para penggiat murni, ini tidak ditujukan pada Anda). Kita bangga ketika hutan Indonesia dikatakan sebagai paru-paru dunia. Tapi selain persoalan kebakaran hutan dan lahan yang selalu terjadi pada musim kemarau di Indonesia, tidak tahukah kita persoalan eksistensial manusia yang ada di sana, sebagai penghuni aslinya? Apa yang telah kita berikan pada mereka?

Puisi-puisi Sitor Situmorang sangat lekat dan kental dengan ecologi dan lingkungan secara luas tersebut. Setidaknya ada 3 teori besar yang bisa diatributkan untuk puisi-puisi Sitor Situmorang. Pertama, konsep deteritorialisasi (Deleuze dan Guattari), suatu pelemahan hubungan antara manusia dalam hal ini seniman dengan lingkungan asalnya. Ini sering terjadi pada seniman modern, penyair modern yang karena pengaruh studi barat, dan globalisasi, mereka cenderung meninggalkan wilayahnya. Hal ini tidak terjadi pada Sitor Situmorang (meskipun beliau telah melanglang buana di Eropa), baik secara formal melalui bentuk-bentuk puisi maupun isinya (content). Kedua, adalah konsep ‘sense of place’ yaitu “A sense of place is one’s feeling of “ belonging” to a location or community, and as a result, a dimension of intercultural relations.” (Leuthold, 2011). Sense of place berkembang melalui beberapa elemen : puisi dan sastra, seni, agama, kehidupan sosial dan pandangan tentang alam. Ketiga, seperti yang dicanangkan Pramudya Ananta Toer, dalam kata pengantar buku puisi ini, yang ditulis JJ Rizal, yaitu tentang puisi geografis. Morton menuliskannya dalam 7 kategori ecomimesis sbb : 1. Geografi, tentang bumi dan tanah, 2. Topografi, tentang lokasi, tempat, 3. Chorografi, tentang negara dan asal usul, 4. Kronografi, tentang konteks waktu, sejarah 5. Hidrografi, terkait air, 6. Anemografi, tentang  angin,  dan 7. Dendrografi, tentang pepohonan. Dari hubungan tersebut tampaklah bahwa puisi puisi dalam kumpulan ‘Angin dan Air danau Toba’ sangat lekat dengan ecomimesis tersebut.

Kita bisa saja menerima dan menghargai pandangan Timothy Morton yang mengajak kita menyadari bahwa puisi-puisi jaman Romantik, puisi-puisi tentang alam telah membuai dan melalaikan kita akan kerusakan alam, tetapi apakah kita tidak mengkritisinya lagi, kenapa harus demikian? Selama ini ecokritik mmemiliki makna tetap sebagai hunungan karya sastra dengan lingkungan hidup. Pendekatan meta-ecokkritik ini penulis maksudkan sebagai refleksi terhadap ekokritik yang telah berjalan selama menjelang tiga dekade, namun kita tahu bahwa peningkatan kerusakan alam semakin besar. Kita juga tidak hanya bisa mengingatkan pada diri kita dan dunia bahwa alam telah rusak dan juga melalukan gerakan-gerakan nyata, tetapi perlu menyingkap selubung yang yang melingkarinya. Populasi dan demografi,  misalnya. Atas nama HAM, manusia tidak mencegah pertumbuhan penduduk. Secara individual dan sosial mungkin telah dilakukan tetapi apakah kita tidak khawatir seperti Malthus?

Seperti Timothy Morton, penulis juga mengkritisi deep ecology. Bagaimana menjalankan gagasan deep ecology jika yang memikirkannya manusia dalam kehidupan eksistensialnya? Atau mungkin tidak perlu mendikotomikan swallow vs deep ecology, karena pusatnya tetap manusia yang berusaha memberbaiki lingkungannya. Jika deep ecology juga berpikir tentang anak-cucu kita di masa depan, bukankah mereka juga manusia? Seperti yang dinyatakan Morton di akhir bukunya : “ ecology maybe without nature. But it is not without us.” (Morton, h.205). Seperti ‘Angin dan Air Danau Toba’ tidak akan ada tanpa Sitor Situmorang. ***


Daftar Acuan :

Sitor Situmorang, 2019,  Angin dan Air Danau Toba,  Batak Dalam sajak Sitor Situmorang, Penyunting JJ Rizal, Komunitas Bambu

JJ Rizal, editor, 2009, Menimbang Sitor Situmorang 85 Tahun Sitor Situmorang, Komunitas Bambu dengan KITLV

Leuthold, M.Steven, 2011, Cross-Cultural Idssues in Art, Frames of Understanding, Routedge

Maman S.Mahayana, 2015, Kitab Kritik Sastra, Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Morton, Timothy, 2007, Ecology Without Nature, Rethinking Environmental Aesthetics, Harvard University Press

Porteous, Douglas, 1996, 2003, Environmental Aesthetics, Ideas, Politics and Planning, Routledge

Scruton, Roger.,2009, Beauty, Oxford University Press

Al Gore, 1994, Earth and Balance, Ecology and the Human Spirit, terjemahan oleh Hira Jhamtani, Bumi dalam Keseimbangan, Ekologi dan Semangat Manusia, Pengantar oleh Muchtar Lubis, Penerbit Yayasan Obor

Artikel Jurnal

L.G.Saraswati Putri, 2016, Engaged Literature, An Examination od Social Issues Reflected in Contemporary Indonesian Literature., Review Essay.

Comments (0)


Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *