Firman Muntaco (1935—1993)

Firman Muntaco (1935—1993)

Firman Muntaco merupakan penulis cerpen berbahasa Betawi dalam berbagai media massa sejak tahun 1960-an. Dia lahir di Petojo Sabangan, Jakarta, 5 Mei 1935 sebagai anak sulung dari lima bersaudara, dengan nama Firmansyah Firman Muntaco. Dia meninggal di Rumah Sakit Harapan Bunda, Jakarta, pada tanggal 10 Januari 1993 akibat stroke yang telah diderita selama lebih kurang 3 tahun. Dia meninggalkan sepuluh orang anak, tujuh putra, dan tiga putri, serta seorang cucu. Istrinya telah meninggal lebih dahulu tahun 1991.

Ayahnya, Haji Muntaco, tuan tanah, eksportir tembakau, dan pemilik pabrik susu. Jika dilihat dari keturunan dan lingkungan keluarganya, Firman Muntaco sesungguhnya tergolong priyayi. Dengan nada berkelakar pernah dikatakannya bahwa ia adalah “anak gedongan” yang bisa keluyuran mengendarai mobil sendiri dan “makan pake ayam”. Meskipun begitu, ia tidak alergi terhadap wong cilik di sekitarnya. Keberhasilannya melukiskan kehidupan masyarakat Betawi kelas bawah diperolehnya dari pergaulan dan pengamatan yang tajam terhadap keadaan sekelilingnya.

Pengarang yang hanya berpendidikan SMA ini mulai menulis tahun 1954 dan makin rajin menulis setelah ia dipercaya mengasuh rubrik “Tjermin Djakarta” (kemudian berubah menjadi “Gambang Djakarte”) di Berita Minggu sejak tahun 1956 hingga diberangusnya media itu pada tahun 1966. Dalam rentang waktu itulah secara tetap tulisannya muncul setiap minggu. Konon, tidak sedikit orang yang membeli koran Berita Minggu hanya untuk membaca “Gambang Djakarte”. Tiras Berita Minggu pernah mencapai angka 40.000, sebuah rekor penerbitan media cetak yang sangat tinggi pada masa itu berkat tulisan Firman Muntaco tersebut.

Setelah Berita Minggu dilarang terbit, Firman tidak berhenti menulis. Dia sudah memilih menulis sebagai profesinya dan memublikasikan cerita-cerita Betawinya di Buana Minggu, tabloid Mutiara, dan majalah Humor. Setelah terkena stroke pada tahun 1990 pun, semangat menulisnya tidak kunjung padam. Dia mendiktekan tulisannya kepada anaknya yang kemudian mengetik dan mengirimkannya kepada media massa.

Firman Muntaco adalah satu-satunya pengarang yang sepanjang masa kepengarangannya secara konsisten (dan berhasil) menulis cerita Betawi; bukan saja dalam arti menceritakan kehidupan masyarakat Betawi, melainkan juga menggunakan bahasa Betawi. Firman tidak hanya menggunakan bahasa Betawi sebagai bahasa cakapan para tokoh ceritanya, tetapi hampir pada seluruh bagian ceritanya. Dalam cerita-ceritanya, tanpa sungkan Firman menggunakan kata-kata seperti ogah, bisa, sembari, nongol, dong, deh, sih, uber, gede, jaro, lampu colen, dan masih banyak lagi—kata-kata yang hingga tahun 1960-an tidak lazim ditemukan dalam khazanah kesusastraan kita.

Firman tidak hanya menulis cerita Betawi; ia juga menulis naskah sandiwara, skenario film, dan artikel tentang hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan dan kesenian Betawi. Di samping itu, ia juga aktif menghimpun dan membina kelompok-kelompok kesenian Betawi, baik seni musik, tari, maupun teater. Salah satu naskahnya yang sempat difilmkan adalah Ratu Amplop yang disutradarai oleh Nawi Ismail.

S.M. Ardan, pengarang tahun 1950-an yang juga banyak menulis cerita tentang masyarakat Betawi, menyatakan bahwa keberhasilan Firman terletak pada penggambarannya tentang masyarakat Betawi, baik dari segi baiknya maupun dari segi buruknya.

Cerita-cerita Firman digemari karena menampilkan gambaran spesifik kehidupan di Jakarta, terutama di kalangan kaum Betawinya, yang betul-betul bersifat khusus, tidak ada persamaannya dengan yang lain. Sejalan dengan itu, H.B. Jassin pun menyatakan bahwa jasa Firman yang besar adalah “menampilkan humor, yang menjadi kekayaan budaya Betawi ke dalam sastra tulis”. Dalam sebuah karangan berjudul “Dialek Betawi dalam Sastra Indonesia” Sapardi membandingkan Firman dengan S.M. Ardan, pengarang Betawi yang juga banyak mempergunakan bahasa Betawi dalam kumpulan cerpennya Terang Bulan Terang di Kali (1955). Berbeda dari Ardan yang hanya menggunakan bahasa Betawi (bahasa Indonesia dialek Betawi) dalam cakapan para tokoh, Firman Muntaco menggunakannya pada seluruh bagian cerita. Adapun tokoh-tokohnya sendiri benar-benar berasal dari orang kecil, masyarakat kebanyakan “yang perasaan, pikiran, dan kecenderungannya bukan priyayi”. Yang paling mengesankan, menurut Sapardi Djoko Damono, adalah kemampuan Firman menyampaikan cerita-ceritanya dalam genre yang paling sulit, yakni humor. Dalam sastra, orang kecil tidak segera disejajarkan dengan humor. Mereka lebih sering dikaitkan dengan kesusahan, penindasan, ketidakadilan, dan sebangsanya. Tokoh-tokoh dalam karya Firman adalah orang-orang kecil yang terbelit kehidupan yang sulit, seperti juga orang kecil di mana pun, tetapi boleh dikatakan bahwa keseluruhan ceritanya menumbuhkan suasana humor. Suasana yang muncul dalam cerita-cerita Firman tentu bersumber dari diri Firman sendiri.

Sepanjang masa kepengarangannya, tak kurang dari 5.000 cerita Betawi telah ditulis Firman. Namun, dari jumlah itu hanya sepersepuluhnya yang terdokumentasi dengan baik. Dari sekian banyak karyanya tersebut, hanya beberapa puluh saja yang sempat dibukukan, yakni dalam buku Gambang Djakarte 1 (1960) dan Gambang Djakarte 2 (1963).

Sumber: http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Firman_Muntaco | Ensiklopedia Sastra Indonesia – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>