Komunitas Bambu

Hiroshima Ketika Bom Dijatuhkan

Hiroshima: Ketika Bom Dijatuhkan

Kalau katanya Sapardi Djoko Damono di buku Bilang Begini Maksudnya Begitu Dan sebenarnya memang tidak ada perbedaan yang hakiki antara fakta dan fiksi—kalau sudah dialihkan menjadi tulisan, fakta akan segera berubah menjadi fiksi. Semua berita di koran itu fiksi adanya: suatu peristiwa yang ditulis menjadi sebuah berita selalu dilihat dari sudut pandang tertentu oleh yang melaporkannya dan ketika menuliskannya ia sedikit banyak menyertakan pandangan atau pikirannya atau perasaannya tentang peristiwa tersebut. Dengan demikian pada hakikatnya berita yang dikatakan fakta itu telah berubah menjadi fiksi. (hal. 6) Di sini konteksnya Pak Sapardi sedang membahas sebuah 'mitos' yang mengatakan bahwa berita itu...

Continue Reading →

Jakarta Tempo Doeloe dalam Kenangan Seorang Pria Tionghoa Passer Baroe

KEADAAN JAKARTA TEMPO DOELOE Sebuah Kenangan 1882–1959

Batavia (Jakarta) merupakan sumber yang tak ada habis-habisnya untuk ditulis dan dikaji. Banyak kisah tercecer di Batavia yang belum diungkapkan. Terutama dalam kurun waktu tertentu. Kisah atau pengalaman yang menarik dan dapat dinikmati oleh khalayak. Banyak sudah orang yang menulis tentang Batavia (Jakarta).  Bisa jadi telah banyak ahli yang mengambil tema kota ‘buatan’ Belanda ini. Sayangnya, kebanyakan penulisnya adalah orang luar negeri. Sehingga memunculkan pertanyaan: mana penulis Indonesianya? Batavia (Jakarta) memang menarik untuk diteliti. Kota di muara sungai Ciliwung yang awalnya adalah benteng VOC ini  memiliki sejarah panjang dan berbagai permasalahan pelik yang masih dirasakan hingga kini. Kalau saja pada...

Continue Reading →

Sukarno Dan Pemikiran Kiri

“Marx dan Engels bukanlah nabi-nabi, yang bisa mengadakan aturan-aturan yang bisa terpakai untuk segala jaman. Teori-teorinya haruslah diubah, kalau jaman itu berubah; teori-teorinya haruslah diikutkan pada perubahannya dunia, kalau tidak mau menjadi bangkrut.”– Sukarno Sejarah mencatat, genealogi pergerakan nasional Indonesia menuju Revolusi Agustus 1945 terbagi ke dalam dua jalan: koperatif dan non koperatif. Sehingga Revolusi Indonesia diperjuangkan atas dasar prinsip-prinsip nasionalisme yang diwarnai sosialisme. Baik pemimpin maupun organisasi-organisasi sosial politik di masa revolusi pada umumnya adalah sayap kiri. Pendapat ini kemudian didukung oleh pernyataan Sukarno yang pernah menyebut dirinya seorang kiri. Bahkan hingga ke anak cucunya. Inilah yang ingin disampaikan...

Continue Reading →

Melirik Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa

Dalam pidato menyambut 70 tahun Ong Hok Ham tiga tahun lalu Professor A.B. Lapian mengusulkan untuk menerbitkan kembali kumpulan karangan Pak Ong di majalah Star Weekly. Usulan A.B. Lapian itu sepertinya diwujudkan dalam penerbitan buku Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa ini. Ada 15 artikel yang disuguhkan dalam buku ini dari 40 artikel yang menurut editornya pernah ditulis Ong Hok Ham untuk Star Weekly periode 1958–1960. Periode ketika Ong masih belia, belum genap 25 tahun, saat artikel pertamanya ‘Perkawinan Indonesia-Tionghoa sebelum abad ke-19 di Jawa’ (hal. 1) terbit. Tepatnya 15 Februari 1958. Artikel ini menceritakan kedatangan perempuan Tionghoa totok pertama di...

Continue Reading →

Arsip Rahasia dan Memburuknya Perang Jelang Kelahiran Pancasila

Akhir 1944. Pasukan Sekutu sudah merangsek masuk ke Asia Tenggara. Jepang yang mengaku sebagai saudara tua Asia pun sudah hilang kekuatan untuk menahan laju musuh menduduki negara-negara yang telah mereka kuasai. Di Indonesia, Negeri Matahari Terbit itu berusaha menutupi kabar kekalahannya melalui siaran-siaran propaganda di radio bahwa mereka masih berjaya di bumi Nusantara. Berita dari luar soal kekalahan mereka berusaha ditutupi sekuat mungkin. Namun kelompok nasionalis di Tanah Air telah mencium gelagat kekalahan Jepang. Mereka pun mendesak dan menuntut agar Jepang memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Pada 7 September 1944, Perdana Menteri Jepang Koiso Kuniaki, yang baru satu bulan mengantikan Tojo, mengubah keputusan sebelumnya serta...

Continue Reading →

Pendahulu Sriwijaya

Kebangkitan & Kejayaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya bermula dari permukiman di tanah berawa di pantai timur Palembang. Sumber Tiongkok menyebutnya Ko-ying. PADA 2008, tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) meneliti situs Air Sugihan, di pantai timur Palembang. Mereka menemukan sisa-sisa permukiman di lahan berawa dari awal abad masehi. Permukiman itu diperkirakan cikal bakal atau pendahulu Kerajaan Sriwijaya. Agustijanto Indrajaya, ketua tim peneliti, melihat adanya proses bertahap sebelum muncul Kerajaan Sriwijaya. Permukiman di situs Air Sugihan itu disebut Ko-ying dan Kan-t’o-li dalam sumber Tiongkok. “Kita lihat Sriwijaya saja sudah sangat kompleks (tata masyarakatnya, red.), harusnya ada satu proses menuju ke sana, nah ini di sini,” kata...

Continue Reading →

Sejarah Perempuan Indonesia: Gerakan & Pencapaian

Perempuan Indonesia

When speaking of gender issues and their relation to the position of women in a country like Indonesia, it is usually important to discuss ethnicity and nationalism. Nira Yuval-Davis, the writer of Gender and nation (London: Stage, 1997) also recognized the strong relation between gender, ethnicity, and nationalism and she argues that “One of the most important differences among women is their membership in ethnic and national collectivities […] these can affect […] the status and power of some women versus others” (Nira Yuval-Davis 1997: 11). It seems that Cora Vreede-De Stuers also uses this concept in her book Sejarah...

Continue Reading →

Onghokham: Implementasi Buku, Pesta, dan Cinta

Implementasi Buku Onghokham Sebagai sejarawan, beliau piawai menjadi saksi langsung dan tahu tentang apa yang terjadi terhadap peristiwa yang menjadi perhatiannya. Sebagai cendikiawan, beliau peka terhadap denyut kehidupan sosial, politik, dan budaya masyarakat sekitarnya. Kombinasi keduanya menjadikan karya dan pemikiran Onghokham unik dan inspiratif. Uraiannya mengenai peran dan sosok jago dalam sejarah Indonesia periode kolonial memberikan pemahaman kongkrit tentang bagaimana sifat dan bentuk kekuasaan politik di Indonesia, paling tidak sepanjang periode kekuasaan otoriter Orde Baru. Sejarawan di Indonesia yang pertama kali mempelopori penulisan persoalan sejarah di media adalah  Beliau. Beliau sering menulis pada kolom sejarah di majalah Tempo, Begitu juga dengan...

Continue Reading →

Nyai dan Pergundikan: Realitas Sosial di Era Kolonialisme

Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda

Mendengar istilah “Nyai”, tentu kita akan menghubungkan dengan istilah pasangannya yaitu “Kyai”. Dalam benak kita sudah terasosiasi bahwa istilah “Kyai” dan “Nyai” berkaitan dengan sebutan seorang pemimpin agama khususnya Islam terlebih spesifik sebuah julukan yang berhubungan dengan dunia pesantren. Istilah “Kiai” sendiri memiliki sejarah yang panjang sebelum Islam ada. Dalam sebuah artikel diulas mengenai asal usul kata “Kiai” sbb: “Kata, Kyai atau Kiyai, disinyalir sudah lama digunakan, jauh sebelum Islam masuk ke Indonesia. Sejak kebudayaan china menyebar di Indonesia. Istilah ini dibentuk dari dua kata, yaitu ‘Ki’ dan ‘Yai’. ‘Ki’ adalah sebutan untuk laki-laki yang dituakan, dihormati atau memang sudah tua....

Continue Reading →

Jejak Sajak Sitor Situmorang

Biksu Tak Berjubah

Riadi Ngasiran Sastra-indonesia.com    Bila ada penyair yang menolak sajak-sajaknya dikaitkan dengan biografinya, tak lain adalah Sitor Situmorang. Sajak-sajak yang mengingatkan pada biografi saya, itu termasuk karya yang gagal. Tapi benarkah antara teks yang dihadirkan seorang penyair bisa lepas dari dirinya sama sekali? Padahal, kita tahu, banyak karya penyair Angkatan 45 itu mengekspresikan diri dan pengalamannya. Sulit sekali memisahkan sajak-sajak Sitor dengan penulisnya atau lingkungannya.    Dua buku terbitan Komunitas Bambu (Sitor Situmorang; Kumpulan Sajak 1948-1979 dan Sitor Situmorang; Kumpulan Sajak 1980-2005) memperlihatkan, banyak karya Sitor Situmorang yang menggambarkan keinginannya kembali ke leluhur, tentang keindahan tanah kelahirannya, dan tentang cintanya...

Continue Reading →