Adrian B. Lapian

Adrian B. Lapian

Adrian B. Lapian, Sejarawan ini memberikan banyak sekali kontribusi penting dalam penulisan sejarah Indonesia dan Asia Tenggara secara umum. Ia yang lahir pada 1 September 1929 di Tegal, Jawa Tengah, lincah dalam pelbagai tema kajian sejarah, tetapi ter­utama sohor sebagai ahli sejarah ­maritim yang dengan disertasinya Orang Laut-Bajak Laut-Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX dianggap telah membuka lembaran baru dalam penulisan sajarah maritim dan sejarah kawasan di Indonesia.

Disertasi setebal 471 halaman itu memang memukau dan menarik perhatian banyak orang, terutama kalangan akademis. Sartono Kartodirdjo sebagai promotor memuji bahwa “apa yang dilakukan Adrian B. Lapian dengan karyanya ini benar-benar merupakan keberhasilan cemerlang. Ia sudah melakukan prinsip yang mengarah ke excellence”. Membaca disertasi itu membuat tercengang akan kukuhnya Adrian B. Lapian dengan argumentasi. Ia siap dengan segudang literatur yang telah dikumpulkannya dari berbagai perpustakaan di Belanda, Inggris, Portugal, Macao, Amerika, Prancis, Filipina Selatan dan lain-lain, jauh waktu sebelum ia diterima sebagai peserta lembaga pendidikan doktor UGM 16 April 1980. Tetapi dalam suatu wawancara seusai ujian dengan harian Kompas, Selasa, 21 April 1987, Adrian B. Lapian dengan rendah hati menyatakan “studi ini sekadar sumbangan untuk untuk melengkapi kekurangan bidang ini, yaitu menyoroti unsur air dari sejarah tanah air”. Bahkan ketika dengan suara bulat tim ujian menyatakan ia lulus sebagai doktor ke-101 Universitas Gajah Mada (UGM) dengan predikat cum laude dan hadirin bertepuk tangan riuh, Adrian B. Lapian yang didampingi Onghokham dan Kuntowidjojo, seperti kebiasaan lamanya, menunduk malu.

Adrian B. Lapian memang dikenal rendah hati. Ia adalah anak pertama dari B.W. Lapian, tokoh sohor pergerakan nasional di Manado, anggota Minahasaraad, anggota Fraksi Nasional Volkraad namun di kalangan teman-temannya di Louwerierschool (Sekolah Dasar) di Tomohon 1935–1942, Chugakko (Sekolah Menengah Pertama zaman Jepang) di Manado dan Kalangkoan (1942–1945), lantas MULO (Middelbare Uitgebreid Lager Onderweijs-Sekolah Menengah Pertama) di Manado tahun 1946–1947, dan AMS (Algemene Middebare School-Sekolah Menengah Atas) di Tomohon tahun 1947–1950, ia tetap dikenang sebagai pelajar tekun yang santun. “Kutu buku” yang selalu siap memberikan jawaban berbobot juga kritis tapi cukup jelas dan to the point atas hal-hal yang rumit. Tak jarang dilontarkannya ide-ide yang menantang.

Selain karena sakit, bacaan humaniora, dan ilmu budaya yang kuat dengan ide-ide menantang yang kerap diproduksi itu pula yang akhirnya membawa Adrian B. Lapian pada 1953 meninggalkan Jurusan Sipil Fakultas Teknik Universitas Indonesia (sekarang Institut Teknologi Bandung) yang dimasukinya tahun 1950, lantas bekerja di desk sebuah surat kabar ibu kota, The Indonesia Observer. Jurnalistik telah mengantarnya menyaksikan peristiwa-peristiwa penting sejarah, seperti Konperensi Asia-Afrika di Bandung 1955. Tetapi pekerjaannya di desk luar negeri surat kabar itu seringkali membuat ia diprotes saat muncul laporannya terutama tentang konflik antar negara. Tanggung jawab dan etika jurnalistik untuk membuat berita yang berimbang meggiring ia mempelajari sejarah hubungan antar negara. Disinilah semangat jurnalistik mulai tergeser oleh semangat mempelajari sejarah. Pada 1956, ia memutuskan pergi ke Jalan Diponegoro, Jakarta mendaftar sebagai mahasiswa sejarah. Pada saat yang sama perkenalannya dengan Sartono Kartodirdjo—satu-satunya lulusan Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI) yang kemudian dianggapnya bukan saja sebagai meître spirituel namun mahaguru dalam arti sesungguhnya—semakin meyakinkannya untuk terus memasuki bidang studi sejarah, meskipun saat itu dikabarkan jurusan sejarah sudah ditutup lantaran ditinggalkan dosen-dosennya yang pulang ke Negeri Belanda.

Tahun 1957, kerja di The Indonesia Observer dilepaskan Adrian B. Lapian. Ia mulai memfokuskan seluruh perhatian kepada studi sejarah. Saat inilah ia mulai ikut ambil bagian dalam kerja-kerja Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI) yang kemudian dilebur dengan Lembaga Research Nasional pada 1968 menjadi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Bersamaan mulai tumbuh pula perhatiannya menekuni sejarah maritim Indonesia dan maujud dalam bentuk skripsi mengenai jalan perdagangan maritim ke Maluku pada awal abad XVI. Minat ini juga yang menjadi landasan penting baginya saat bekerja pada Seksi Sejarah Angkatan Laut dan Maritim di Markas Besar Angkatan Laut antara 1962–1966.

Di lembaga ini ia bukan saja mempelopori penelitian dan penulisan Seri Pustaka Bahari tetapi juga mengikuti misi pelayaran Angkatan Laut RI ke beberapa negara tetangga dan mulai berkenalan serta membina jaringan dengan sejarawan-sejarawan kawasan Asia Tenggara. Demikianlah Adrian B. Lapian mengawali studi sejarah maritim bukan hanya di Indonesia tapi di wilayah Asia Tenggara. Untuk ini ia bukan saja patut disebut sebagai perintis sejarah maritim dan kawasan Asia Tenggara, tetapi juga memegang otoritas dalam bidang studi tersebut sampai saat ini.

Ketekunan dan dedikasinya yang besar pada studi sejarah membawanya ke berbagai posisi penting dalam berbagai lembaga penelitian di dalam dan luar negeri. Sekalipun minat dan pengetahuannya mengenai berbagai aspek sejarah Indonesia dan Asia Tenggara terus berkembang, perhatian khusus terhadap sejarah maritim ini tidak pernah ditinggalkan. Ia bukan saja dikenal sebagai pendidik yang sabar dan tekun untuk merintis dan membangun pusat kajian maritim di berbagai universitas di Indonesia. Sebagai pengajar, ia juga membimbing sejumlah calon doktor dan mahasiswa S-1 dan S-2 mengkaji pelbagai tema sejarah, terutama dunia bahari untuk mencapai gelar di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Sebab itulah pada konperensi IAHA ke-15 tahun 1988 oleh Shaharil Thalib, seorang sejarawan Guru Besar University Malaya, ia disandangkan gelar sebagai “Nakhoda pertama sejarawan maritim Asia Tenggara”.

Kepakaran Adrian B. Lapian semakin menonjol ketika ia terpilih sebagai anggota Unesco Consultative Commitee untuk program Integral study of the silk road: roads of dialogue, napak tilas jalur sutra via jalur laut yang merupakan ekspedisi maritim pertama oleh Unesco sebagai bagian dari dasawarsa pengembangan kebudayaan sedunia (Worlds decade for cultural development 1988–1997). Mulai 13 Oktober 1990–3 Maret 1991, ia sebagai co-leader of the Scientific Team kemudian naik pangkat sebagai Leader of the Scientific Team menumpang kapal pesiar mewah Fulk Al Salamah pinjaman Sultan Oman. Di sana ia mengikuti perjalanan paling legendaris Marco Polo, mulai dari Venesia sampai Osaka yang diikuti serangkaian diskusi serta perdebatan ilmiah dengan berbagai pakar sejarah, arkeologi dari manca negara.

Dari napak tilas jalur sutra itu kemudian Adrian B. Lapian mengembangkan gagasan untuk memulai proyek penelitian dan penulisan seri bandar-bandar dan pelabuhan-pelabuhan Indonesia di jalur sutra yang melibatkan sejumlah sejarawan dan arkeolog nasional. Tak berlebihan jika pada 1992 ia diangkat sebagai guru besar luar biasa di Universitas Indonesia dengan judul pidato pengukuhan Sejarah Nusantara Sejarah­Bahari.

Adalah menarik dengan kedudukan akademisnya yang tinggi itu dan berbagai kesibukan menuliskan pengamatan, berkeliling dunia untuk melakukan penelitian, memberikan kuliah dan ceramah serta turut dalam berbagai pertemuan ilmiah internasional, menerjemahkan berbagai karya ilmiah—ia masih menyempatkan diri memikirkan tentang bagaimana mengenalkan dunia maritim kepada anak-anak dengan menulis cerita bergambar ‘Perompak Laut’ di majalah Si Kuncung serta Kapal dan Pelayaran Nusantara.

Tak dapat disangkal Adrian B. Lapian adalah sosok yang paling besar artikulasinya dalam mengingatkan betapa durhakanya bangsa Indonesia yang terlalu mementingkan daratan, walaupun sesungguhnya merupakan archipelagic state, negara dengan laut sebagai unsur utamanya. Dialah yang paling konsisten selama lebih dari 30 tahun membangunkan ingatan supaya bangsanya sadar dan tersentak seraya membalik pameo lama “jangan lupa daratan” menjadi “jangan lupa lautan”. Kalau Sartono Kartodirdjo pernah menekankan pentingnya menulis tentang petani dan orang biasa di desa yang cenderung dilupakan dalam sejarah, maka Adrian B. Lapian melengkapi pernyataan itu dengan mengatakan bahwa mereka yang dilupakan ini tidak hanya hidup di darat, tapi juga di laut. Studinya menghadirkan kembali berbagai sosok seperti orang laut, bajak laut, lanun dan memberi sudut pandang baru yang segar serta berbeda terhadap penulisan sejarah yang bertumpu pada pengalaman manusia di daratan.

Minat dan pengetahuannya mengenai bidang sejarah yang lain mendapat landasan kelembagaan saat bekerja sebagai peneliti di LIPI. Hal ini terutama terjadi ketika ia mendirikan dan menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kemasyarakatan dan Ke­budayaan (PMB-LIPI) dari 1986–1990, dan menjadi Ahli Peneliti Utama, antara 1990–1994. Di sini ia menyusun bermacam sumbangan berharga di bidang sejarah lisan, sejarah lokal dengan fokus pada kawasan timur Indonesia dan mengangkat kembali people without history di berbagai kawasan itu. Ia menekuni studi kawasan yang disusun bukan berdasarkan batas­batas administratif yang datang kemudian, tapi berdasarkan persepsi para aktor sejarah di kawasan itu sendiri. Pengetahuan yang solid mengenai kawasan inilah yang bukan saja bisa menjadi dasar lebih kokoh bagi penyusunan sejarah nasional, tetapi terasa sangat penting di tengah persoalan-persoalan perbatasan, pulau-pulau terdepan, wilayah laut terkait dengan UU Perikanan dan Kelautan, kenaikan aktivitas bajak laut.

Buku yang ada di hadapan pembaca ini adalah disertasi Adrian B. Lapian setelah sebelumnya terbit pula bukunya Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad Ke-16 dan 17 (Komunitas Bambu, 2008).

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>