Adnan Amal

Adnan Amal

Herman Oesman

Pegiat FORDISTA Maluku Utara

Merangkai trajektori sejarah Maluku Utara seolah belum lengkap bila tidak menyertakan nama M. Adnan Amal. Sosok prolifik di balik bergeliatnya sejarah masa lalu Moloku Kie Raha melalui karya magnum opusnya Kepulauan Rempah-Rempah (2010). Melalui karya ini, dunia dan masyarakat ilmiah seolah terhenyak, karena begitu banyak catatan-catatan sejarah yang diungkap M. Adnan Amal yang selama ini terkubur dan menjadi prasasti narasi yang baru diketahui. Banyak kisah lama terpendam yang hidup di wilayah ini yang asal-usulnya perlahan dibongkar M. Adnan Amal, kemudian terbuka secara luas dan menjadi pengetahuan bersama.

Karya Kepulauan Rempah-Rempah bagi saya merupakan jendela penting yang memberikan daya kekuatan bagi Maluku Utara untuk bangga dengan kebesaran masa lalunya. Pun menjadi pintu untuk mulai menyelami “apa dan mengapa” Maluku di masa lalu. Tak hanya itu, M. Adnan Amal melalui karya epiknya yang lain dan tak kalah penting Portugis dan Spanyol di Maluku (2010) memberikan kredit bahwa M. Adnan Amal merupakan sosok yang bersungguh-sungguh hendak membuka tabir-tabir sejarah masa lalu daerah ini yang pernah menjadi sumber pengetahuan bagi kaum kolonialis ketika menerapkan politik etis dan menguatkan diskursus indologie untuk mengembangkan dominasi imperialismenya.

Karya M. Adnan Amal, seolah membalikkan apa yang dikonstatir studi-studi kolonial atau membuktikan apa yang telah dilakukan kaum kolonial di Maluku, bahwa Maluku dan tentu daerah lain tak lebih dari bangunan ideologi orientalisme era kolonialisme untuk membangun otoritarianisme. Bahwa Maluku merupakan wilayah di mana kolonialisme pernah memproduksi pengetahuan dan kekuasaannya untuk mengokohkan kebijakan di tanah jajahan. Yang ternyata hingga kini jejak-jejak itu masih terasa di dunia politik dan kekuasaan. Mantan hakim dan tokoh Muhammadiyah Maluku Utara ini tak berhenti melahirkan karya. Tidak hanya fokus pada sejarah, juga kebudayaan menjadi perhatian beliau. Bila dirunut, beberapa buku M. Adnan Amal, selain fokus pada sejarah besar Maluku/Maluku Utara, juga tak melupakan kisah-kisah rakyat yang hidup di Halmahera, kampung halaman beliau. Selain itu buku tentang kisah Orang Tobelo juga lahir dari beliau, yang menunjukkan keluasan pengetahuan yang dimiliki.

Hampir pasti, melalui karya-karya yang prominen itulah M. Adnan Amal seolah “hidup terus” dalam alam pemikiran masyarakat yang menikmati buku-buku yang ditulis beliau. Tak salah bila Buya Hamka pernah berkata, “Jika kamu ingin hidup abadi, dan dikenang sejarah, menulislah…” Mungkin, apa yang dilakukan M. Adnan Amal, tanpa disadari merupakan bagian dari upaya menggelorakan revolusi literasi, khususnya sejarah Maluku yang terpendam. Melalui buku dan karya M. Adnan Amal itulah, masyarakat Maluku Utara dan masyarakat ilmiah dunia tentunya makin bersemangat memahami Maluku Utara. Setahun sudah M. Adnan Amal wafat, dan untuk mengenang penulis besar Maluku Utara itu beserta karyanya, FORDISTA Maluku Utara menggelar Memorial Lecture, sekaligus membicarakan sebuah buku yang merupakan kompilasi dari sejumlah tulisan M. Adnan Amal dan anak-anaknya yang  diberi judul sangat filosofis: Borero-Tulisan-Tulisan Yang Tercecer.

Memorial Lecture dimaksudkan sebagai sebuah wadah kekeluargaan sederhana,  forum pemikiran yang tidak menggurui sebagai bentuk penghormatan dan memberi tempat bagi tokoh yang telah berjasa membangunkan kesadaran literasi masyarakat.

Sumber: http://news.malutpost.co.id/index.php/read/2018/10/06/13/7449/adnan-amal-dan-revolusi-literasi

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>