Yusuf Supendi

Yusuf Supendi

Yusuf Supendi lahir di Bogor 15 Mei 1958. Ia menghabiskan masa kecil di Bogor. Yusuf lulus dari Madrasah Ibtidaiyah Ibnu Hajar, kemudian meneruskan SMP dan SMA-nya di Pondok Pesantren Darul Falah Bogor.

Yusuf Supendi meneruskan sekolahnya di Universitas Imam Muhammad Ibnu Saud, Riyadh, Arab Saudi Pada 1979. Sepulang dari Arab Saudi, Yusuf Supendi bersama teman-temannya mendirikan gerakan tarbiyah. Belakangan gerakan ini menjadi cikal bakal dari Partai Keadilan (PK)—yang kemudian berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Yusuf Supendi mengawali karir politiknya dengan turut serta mendirikan dan menjadi deklarator Partai Keadilan pada 20 Juli 1998. Partai yang mendeklarasikan dirinya sebagai Partai Dakwah.

Partai tersebut gagal memenuhi ambang batas parlemen dua persen, namun mengantarkan Ketua Umumnnya waktu itu Nur Mahmudi Ismail menjadi Menteri Kehutanan di Kabinet Persatuan Nasional di bawah pimpinan Presiden Abdurrahman Wahid.

Pada 2003, untuk mengikuti pemilu 2004, sesuai aturan Partai Keadilan harus berganti nama. Partai Keadilan Sejahtera dipilih sebagai nama baru PK untuk ikut pemilu 2004.

Dalam pemilu tersebut, pria yang menamatkan pendidikannya di Universitas Imam Muhammad Ibnu Saud, Riyadh, terpilih menjadi anggota DPR periode 2004-2009 dari daerah pemilihan IV Kabupaten/Kota Bogor.

Pada 2009 ia terlibat konflik internal dalam tubuh PKS. Akibat konflik tersebut, ia diberhentikan dari PKS pada 2010, yang kala itu menjabat Wakil Ketua Dewan Syariah PKS. Ia sendiri pernah menjabat Wakil Ketua dan anggota Dewan Syariah Partai Keadilan Sejahtera periode 2000-2010.

Yusuf sempat menggugat PKS atas pemecatan itu, namun gugatan Yusuf ditolak oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 2012. Yusuf kemudian berlabuh ke Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) pada 2013 yang waktu itu dipimpin oleh Wiranto, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan di Kabinet Kerja. Namun di Hanura, Yusuf gagal melaju ke parlemen.

Yusuf secara mengejutkan, pada 2018 bergabung dengan PDIP. “Terkait pilihan politik, itu merupakan ‘ijtihad’ saya setelah berkonsultasi dengan semua pihak termasuk ibunda. Saya telah menjadi kader PDIP sejak 9 Juli 2018 setelah mendapatkan Kartu Tanda Anggota (KTA),” kata Yusuf saat bergabung dengan partai berlambang banteng tersebut.

Yusuf dalam kesempatan itu pun berniat akan berjuang mengubah persepsi yang keliru bahwa PDIP sebagai partai anti anti-Islam.

“Saya amati di lapangan dan membaca laporan riset yang berwibawa misalnya dari Saiful Mujani bahwa pemilih PDIP itu 70 persen kaum santri, muslimin yang taat beragama, maka tepat jika saya bergabung dengan partai ini,” kata Yusuf.

Menurut Ketua PDIP Hendrawan Supratikno, Yusuf Supendi sempat mengikuti pelatihan dalam rangka persiapan pencalegan beberapa hari sebelum ia meninggal. Yusuf Supendi dimakamkan sesudah Sholat Jumat di TPU Kober, Kalisari, Cijantung pada Jumat, 3 Agustus 2018.


Sumber: https://tirto.id/profil-yusuf-supendi-dari-dakwah-hingga-caleg-pdip-cQra

Agung DH

Kontributor Tirto

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>