Tan Swie Ling

Tan Swie Ling

Tan Swie Ling, terlahir dari keluarga miskin di Wiradesa, Pekalongan, pada 12 September 1938. Kemiskinan keluarganya membuat Tan tidak bisa menikmati pendidikan sepantasnya. Beruntung ia tertolong oleh kehidupan organisasi. Berbeda dengan anggapan para orangtua yang umumnya berpendapat organisasi memberi pengaruh negatif pada anak muda, Tan justru terbantu oleh pengaruh positif organisasi. Ia tumbuh menjadi pemuda yang jauh dari judi dan mabuk-mabukan seperti yang biasa melekat pada remaja kurang berpendidikan. Tan justru tumbuh menjadi pemuda yang mandiri. Pada 1966 Tan terseret dalam penjara G30S. Selama lebih dari 13 tahun ia hidup bersama mantan tukang beling, tukang becak, sampai dengan para jenderal serta menteri, sebuah kondisi yang semakin mematangkan kemandirian hidupnya. Pada 1998, Tan mulai kembali melakukan aktivitas sosial politik dan menerbitkan majalah bulanan Sinergi Warga Bangsa hingga 2002. Pada 1999–2000 ia merumuskan konsep “Aspirasi Masyarakat Korban Istilah Asli dan Tidak Asli “sebagai argumentasi amandemen pasal 6 UUD 1945. Pada 2003 ia mendirikan sekaligus mengetuai Lembaga Kajian Sinergi Indonesia. Lembaga tersebut juga menerbitkan majalah bulanan Sinergi Indonesia. Tan sendiri menjabat sebagai Pemimpin Umum merangkap Pemimpin Redaksi pada 2003–2009.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>