Sri Teddy Rusdy

Sri Teddy Rusdy

imak petikan ucapan Bima Sekti dalam kisah Bima Sekti yang dibawakan oleh dalang Ki Timbul Hadiprayitno ini!

Bima Sekti: “Dene maknane Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, sastra iku tulis surasaning tulis, lan dayane tulis bisa kanggo ngrampungake pakaryan, ya sing abot ya sing entheng, ya sing gampang ya sing angel. Maknane, sastra bisa nggampangake pakaryan sing angel, dayane sastra bisa handayani, ngenthengake pakaryan sing abot. Apa maneh lamun kowe lumaksana adoh keblat purwa, pracima, utara myang duksina, kowe lamun mangerti surasaning sastra mula bisa bebasan kaya lumaku ing wanci panglong kapapag obor sewu, satemah ora sida bingung merga saka dayaning sastra. Mula yen ana wong kang wuta sastra iku sejatine kainan.”

TERJEMAHAN BEBAS
Bima Sekti: “Adapun makna Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, sastra itu adalah tulisan bermakna, dan kekuatan tulisan dapat dipergunakan untuk menyelesaikan pekerjaan, ya pekerjaan mudah dan pekerjaan sulit, yang berat dan yang ringan. Maknanya, sastra dapat memudahkan pekerjaan yang sulit, kekuatan sastra dapat meringankan pekerjaan yang benar-benar rumit. Apalagi kalau Anda bepergian jauh dari kiblat timur, barat, utara, dan selatan, kalau Anda menguasai sastra dapat bagaikan berjalan pada kegelapan bertemu seribu obor akhirnya tidak akan bingung karena kekuatan sastra tersebut. Maka, kalau ada manusia tidak tahu tentang sastra itu sesungguhnya terhina.”

Berangkat dari ucapan Bima Sekti inilah, Sri Teddy Rusdy melakukan penelitian tentang ajaran Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu dikaitkan dengan pembangunan karakter bangsa, yang kemudian mengantarkan Ketua Umum Yayasan Kertagama ini meraih gelar doktor pada Program Studi Ilmu Filsafat Faluktas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 15 Agustus 2015 lalu.

Penelitian Sri Teddy sampai pada kesimpulan bahwa Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu merupakan ilmu ketuhanan yang berisi untuk menyelamatkan dunia. Ajaran Sastra Jendra memuat nilai-nilai religi, ‘sangkaning dumadi’, ‘paraning dumadi’, ‘memayu hayuning bawana’, dan ‘manunggaling kawula klawan Gusti’ yang bersumber dari falsafah Jawa.

Selain itu, ada dimensi aksiologis pada ajaran Sastra Jendra, mencakup kandungan nilai material, nilai vital, dan nilai kerohanian: kebenaran, keindahan, kebaikan, dan religi.

Relevansi dimensi aksiologis ajaran Sastra Jendra bagi pembangunan karakter bangsa, menurut Sri Teddy, mencakup dua hal. Pertama, pembangunan karakter bangsa secara umum mengarah pada falsafah bangsa Indonesia, Pancasila. Kedua, pembangunan karakter individual mencakup empat aspek: (1) olah hati, (2) olah pikir, (3) olah raga, (4) olah rasa dan karsa.

Mengingat kondisi moralitas bangsa Indonesia yang tengah terpuruk, cenderung mengalami dekadensi moral, hasil penelitian ini merupakan salah satu sumbangsih Sri Teddy dalam upaya melakukan penataan, penataan yang berangkat dari nilai-nilai kearifan lokal Nusantara.

Banyak hal bisa kita petik dari hasil penelitian ini, lain kali kita sambung.


Sumber: http://theglobal-review.com/sastra-jendra-dalam-pandangan-sri-teddy-rusdy/

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>