Sitor Situmorang

Sitor Situmorang

Sitor dilahirkan di Harianboho, Pulau Samosir, Sumatra Utara, 2 Oktober 1924. Sebagai penyair, dia dianggap bagian dari Angkatan 1945 bersama Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Rivai Apin. Pada masa revolusi kemerdekaan itu dia bekerja sebagai wartawan. Pada 1950-1953, Sitor berkelana di Eropa. Di sana ditulisnya puisi-puisi dan cerpen-cerpen “eksistensialis” yang kerap sinis memandang kehidupan. Dia bahkan sinis terhadap dirinya sendiri. Sitor pernah menulis begini tentang dirinya dalam satu cerpen berlatar Paris: “Rambut lebat, dipotong pendek, janggut muda, kemeja berkotak-kotak, tak mudah kotor dan tebal; asal dan pekerjaan tidak terang, tapi sepanjang hari ngobrol minum kopi.”

Sepulang ke Indonesia dia menerbitkan kumpulan puisi Surat Kertas Hidjau (1953) yang liris dan indah. Saya beruntung mendapatkan buku tua terbitan Pustaka Rakjat, Jakarta, itu di sebuah pameran buku di Bandung. Di situ terbaca sebait sajak sendu: “Mari, dik, tak lama hidup ini/Semusim dan semusim lagi/Burungpun berpulangan.” Berpuluh tahun kelak, puisi itu mengilhami seorang pengarang lain menulis sebuah novel.

Pada tahun 1959, Sitor mendirikan Lembaga Kebudayaan Nasional dan kemudian gerak-geriknya makin condong ke politik yang kekiri-kirian. Dia menjadi tokoh di panggung kebudayaan nasional, kerap mewakili negara bermuhibah ke negeri-negeri blok Timur serupa Tiongkok dan Rusia. Pada 1963, terbitlah sebuah kumpulan esainya yang menandaskan sikap kesenian dan politiknya, Sastra Revolusioner.

Namun, tibalah petaka nasional setelah peristiwa G30S 1965. Sitor yang termasuk kaum nasionalis kiri pendukung Bung Karno layaknya pengarang besar Pramoedya Ananta Toer—meski mereka berdua berbeda haluan politik—ikut terlibas gelombang sejarah. Dia dipenjarakan oleh kaum militer pendukung rezim Orde Baru Soeharto dan baru bisa menghirup udara bebas pada 1975.

Situasi politik yang serba represif pada masa berkuasa rezim Soeharto mendorong Sitor hengkang ke Belanda pada 1980. Dia menetap di sana hingga akhir hayat bersama istri terakhirnya, Barbara Brouwer, walau sesekali pulang ke tanah air.

Sumber: https://www.dw.com/id/mengenang-sitor-menerjemahkan-sang-penyair/a-37706034

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>